waktu membuat alam merekonstruksi dirinya sendiri. alam memekik menumbuhkan cadas, menggali jurang dengan ceruk-ceruk tajam. Tanah basah kemudian kerontang, tak ada yang protes, burung masih bersiul, kerbau melenguh dan ayam masih bahagia dengan kepakan sayapnya. Alam membuat waktu meracau, menerbitkan matahari, menenggelamkannya, menyembunyikan bulan dibaliknya, memendarkan bintang, meneduhkan tanah, menangiskan langit. hingga manusia datang lalu melompat terlalu jauh, memainkan waktu dan mengatur alam. membuat garis lalu melanggarnya. membuat jalan lurus lalu membuatnya menanjak, melubanginya, meninggikannya dengan pongah padahal belum tentu mereka bisa melewati dengan selamat.
Alam tak punya sekat dengan tabiat, mereka berbaur dan menangis bersama. seperti halnya malam ini, surabaya masih sibuk di waktu yang harusnya alam bermimpi untuk esok. Hingga tiba-tiba hujan datang menabrak kaca, semakin deras lalu hilang tanpa petir. Hujan. malam ini ia datang tanpa klimaks yang bisa merobohkan pertahanan seseorang.
Andai kita bisa seperti itu.
Andai kita bisa berjalan, melompat, berlari, berguling-guling di tanah, saling adu siapa yang paling cinta siapa, tertawa sampai sakit perut tanpa pernah dihampiri oleh apa yang dinamakan bom waktu hingga kemudian kita menjadi sejarah.
meski aku telah mendekatkan diri bahkan hingga kita bisa bertukar udara sebuah selaput anti peluru membumbung tinggi ke angkasa melapisi masing masing dari jiwa kita.
Aku datang untuk bersimpuh pada waktu dimana malaikat turun untuk mendengarkan apa yang kita minta agar Tuhan mengabulkannya. aku selalu bingung apa yang aku minta, aku terdiam untuk waktu yang sangat lama, membiarkan berjuta kalimat berkelakar. pada akhirnya aku hanya memohon diberikan yang terbaik. entah yang terbaik itu yang seperti apa. dan terbaik bagi siapa, bagiku atau bagimu. permintaan yang sangat singkat, karna itulah bunyi doa yang tepat.
Aku yang sering dihantui peristiwa bodoh yang menyisakkan isak dan ratap menyalahkan waktu dan alam yang tak senada dengan manusia, dengan anak-anak Tuhan. kenapa harus sedalam ini, kenapa harus kamu. karna aku biasa merasakan ini sendirian, dan hanya air mataku lalu semuanya berakhir dengan petir dan kiamat secara personal, kiamat yang hanya datang kepadaku.
semuanya tak akan pernah bisa memberi jawaban, tak akan bisa meredakan gemuruh yang bercokol lirih diantara kita. gemuruh yang tak akan bisa reda.
tapi aku bersyukur Tuhan memberiku mukjizat, wajah seperti pecundang, tawa seperti anak yang baru bisa membaca, menutupi kegilaan tentang apa yang dilakukan alam dan waktu. lalu bertemu denganmu kembali seperti orang gila.
Merebahkan badanku pada dadamu yang berdetak, menikmati Surabaya yang tak berhenti berdenyut, tersenyum untuk tikaman langit dan detik-detik dibawah bintang yang bertukar tempat.