Sabtu, 31 Desember 2022

MIMPI

 Tulisan pertama ku di 2023

Aku masih mempertimbangkan apakah ini akan menjadi tulisan terakhirku di blog?

This is gonna be hard for me cause i start blogging since 13 yo, it was 12 years ago. Not because i wanna stop writing, it just because i met platform that gonna paid me well. Hehe

Actually i write what i felt, what i got, what i think,  im happy some person enjoyed my blog eventhough for me some omnibus shoo fishy. Being writer is my biggest goal in my own life, it comes when i was 13 yo. I start writing cerpen on a portofolio bergaris and handwritting, i write 7 story i guess i made it as a clipping with weird cover. My classmate so enthuasiast with those cerpen collection, those clipping down to so much hand and then gone. I attend some writing competition, sometimes it going well and sometimes im so dump. I realize my story came when i really into the story.


Aku ingat cerita pendek pertama yang aku buat lahir karna aku bermimpi. Mimpi yang aneh, mimpi yang tak jelas namun hadir berkali-kali, seperti hantu di kepalaku, aku bingung cara untuk mengusir mimpi yang satu itu karna mimpi mengurangi kualitas tidur. Aku butuh tidur cukup dan berkualitas. Mimpi berulang itu lahir menjadi ombibus belasan cerita pendek yang punya nama Petrichor. Cerita yang tidur di laptop usangku dan tak pernah mengudara, tidak papa setidaknya mimpinya tidak pernah datang lagi.

Aku menulis banyak kisah setelahnya seperti Manusia dari Baalbek, Melody, Tu-Sye, Mata Coklat so much more. Aku tidak pernah menyangka mimpi begitu punya efek berantai yang tak berkesudahan.

Tapi aku tak suka bermimpi, mimpi membuat hariku gelisah. Mimpi tentang nenekku misalnya, semua saudaraku tak ada yang didatangi mendiang, 7 tahun berlalu hanya aku yang mengingat dengan jelas bagaimana suaranya. Tidak ada di sampingnya ketika ia meninggal dulu ku syukuri karna aku tak akan sanggup, dan aku akan lama mencerna semuanya, tapi ternyata ia tetap tidak meninggalkanku semudah itu. Suaranya memanggil namaku masih terdengar jernih di telinga.

Belakangan aku kembali bermimpi hal yang aneh, berkali-kali dan mulai mengganggu. Banyak yang bilang kalau mimpi hadir karna kita terus menerus memikirkan hal itu. But, that was clearly i wasnt, karena itu asing bagiku. Ada yg bilang itu adalah ketakutan alam bawah sadar, kupastikan bukan karena aku tidak mengenal. Semuanya asing bagiku. Aku lebih suka mimpi yang familiar, yang mampu kucerna dan kuambil maksudnya, aku benci sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara logika.

Aku mencari jawaban. Tidak kutemukan.

Mimpi absurd itu jadi hantu yang bercokol di kepalaku, hal yang awalnya tidak ada, tidak aku undang, tidak kukenal, tidak kuharapkan, berdiam di lobus frontalku. Membuatku tidak berhenti bertanya pada diri sendiri.

Pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban,  bertemunya mereka bergantung dengan waktu.

Tapi aku bukan tipe orang yang sabar.

Mungkin aku harus menuliskannya ? Terlalu narsis dan absurd, aku tak bisa membayangkan. Dan aku belum menemukan tujuan.

Sepertinya aku punya postingan dengan judul serupa ? Bedanya disana terkonsep, jelas, punya jawaban, punya makna.

Aku tak tahu benang merah dari ini. Memikirkannya terus menerus membuat aku sakit kepala hingga menangis lirih entah mengapa. Mungkin ini kondisi psikisku yang sedang tidak stabil, mungkin alam bawah sadarku mencoba mengambil kesadaranku sepenuhnya hingga tiba di kesimpulan paling tidak masuk akal yang terlintas di benakku energi di semesta ini ingin bicara padaku. Entahlah kurasa "waras" sudah jauh dari kondisiku sekarang.

Setiap akan tidur aku melihat langit-langit, bertanya akankah malam ini aku akan memimpikan hal yang sama, aku jadi takut menutup mata, jam tidurku jadi mundur banyak. Aku paranoid dengan hal yang akan ditertawakan banyak orang. Menyimpannya sendirian membuat aku tak tenang. Menuliskannya tidak mungkin.

Jadi tulisan panjang penuh pertanyaan ini adalah dilema pertama ku di 2023.

Aku masih memikirkan untuk menulis banyak hal disini, semoga.

Aku mengawali 2023 ini dengan banyak pikiran, khawatir, sedih, excited, senang. Banyak hal yang tak mungkin semuanya mampu kusebutkan, karna bahasa tak bisa sesempurna rasa. 

Sejauh ini aku belum mahir mengolah rasa takut dan khawatir menjadi diksi dan sajak yang bernas. 

Semoga aku bisa melewati ini.



Energi dan Migrasi akan aku takedown.

Karna akan di post dan dikembangkan di platform lain.


Its finally here 2023.

Rabu, 23 November 2022

Ancient Beauty and Infinity Polarization

 whats is beauty ? 

Agaknya kurang tepat mengawali tulisan ini dengan kalimat diatas, karena jawabannya sangat objektif, cantik adalah spektrum yang tak punya batas. Maka aku ganti pertanyaannya dengan 

Seperti apa wujud dari kecantikan itu ?

Jawaban dari pertanyaan ini mungkin tetap sangat luas dan berbeda-beda tapi arah pembicaraan mulai bisa ditebak bukan.

Apa yang akan dibahas dari tulisan ini adalah Cantik dan Perempuan. Dua hal yang tidak ada habisnya sejak zaman perundagian hingga zaman tanam benang. 

Bentuk cantik yang bisa kita amati bisa kita mulai dari era Yunani Kuno. Keindahan dan kecantikan digambarkan dengan perempuan telanjang yang badannya gempal berisi, payudara kecil, perut rata, rambut ikal, kaki dan tangan padat berisi. Bisa dilihat dari pahatan-pahatan yang mereka abadikan, Aprhodite, Athena, Hera tidak dipahat dengan badan Kim Kardashian atau Nicky Minaj. Sedangkan nama-nama dewi itu mewakili puncak dari wujud kecantikan di era-nya. Konsep cantik yang serupa bahkan bertahan hingga masa-masa Romawi kuno. Pada garis waktu yang sama namun berjuta-juta mil jauhnya. Wujud Cantik diimani dengan cara yang sangat berbeda oleh ningrat-ningrat di daratan China. Bagi mereka, Cantik berarti segala sesuatunya harus kecil, badan, wajah dan kaki. Sehingga di musim dingin yang menggigil perempuan yang berusia 10 tahun akan diremukkan jari-jemari dan tulang telapak kakinya, kemudian di bebat. Membiarkan daging dan tulang itu membusuk sampai kaki mereka terlipat sempurna dan terlihat seperti Bunga Teratai.

Di belahan bumi lain, tepatnya di Afrika, cantik adalah milik mereka yang tidak punya buah dada, sehingga menjelang aqil baliq dada perempuan-perempuan akan disetrika kemudian di bebat agar buah dadanya tidak tumbuh. Masih di Afrika namun berbeda suku, cantik adalah milik mereka yang mempunyai tubuh extra. Extra besar, biasanya anak-anak perempuan yang menginjak remaja akan dikirim ke sebuah camp, disana mereka akan diberi makan terus menerus seperti hewan ternak. Menenggak ribuan kalori setiap hari, agar mereka menarik. Agar mereka cantik. 

Bagi suku Kalingga, Cantik adalah milik mereka yang punya banyak tato. (Aku suka ini) suku Kalingga punya budaya tato sendiri dengan metode hand tapping sama seperti saudara kita di Kepulauan Mentawai. Mereka menggunakan duri jeruk limau sebagai jarum dan arang sebagai tintanya. Semakin banyak tatonya maka semakin cantik orangnya. 

Selain tato, bagi perempuan Mentawai, cantik adalah ketika gigi mereka dibuat menjadi runcing. Bagi perempuan dayak yang suka menambahkan pemberat di telinga mereka, Cantik adalah ketika mereka punya telinga yang panjang dan tato bunga terong di bahu. Di tiap-tiap budaya  dan daerah konsep Cantik amatlah berbeda-beda. Warna kulit, bentuk tubuh, modifikasi pada tubuh, tidak ada yang seragam. Namun ada fenomena yang terlihat berbeda di abad 21.

Spektrum Cantik yang seakan-akan mengerucut. Fenomena perempuan terlihat seragam, seakan-akan itu adalah arah panah dari kecantikan impian yang kekal, padahal mungkin saja itu adalah gelombang trend seperti yang sudah-sudah. 

Twiggy yang menghadirkan gelombang menyiksa diri karena merepresentasikan kecantikan adalah kurus dan tinggi. Beberapa waktu lalu publik heboh dengan fenomena model yang makan kapas demi menjaga penampilan. Di zaman Twiggy, orang biasa yang tidak punya kepentingan profesi sebagai model bahkan beramai ramai makan kertas demi tubuh kecil kurus dan tipis seperti Twiggy. 

Di 2015 klinik bedah ramai, perempuan berbondong-bondong mengantre dan menghabiskan ribuan bahkan jutaan dolar untuk memodifikasi tubuh mereka. Mereka meyakini keluarga Kardashian terutama Kim dan Kylie adalah representasi cantik yang ideal. 

Bagaimana di Indonesia ? 

Sebagai negara kepulauan terbesar, bahkan Indonesia mencatat lebih dari 300 bahasa Ibu, yang seharusnya punya konsep kecantikan ideal yang banyak, berbeda dan unik mulai seragam sejak media mengambil peran. 

Iklan-iklan sabun, shampo, lotion, skincare yang kebanyakan menggunakan model blasteran serta produk yang bertujuan untuk memutihkan. Bahkan Mustika Ratu harus menyerah pada visi mereka untuk menghadirkan kecantikan ala keraton di tengah masyarakat yg menggandrungi kulit putih model blasteran. 

Pada akhirnya Mustika Ratu tetap menggunakan Tamara Blezensky sebagai model dan mengeluarkan produk pencerah. 

Artis yang lalu lalang di majalah dan media, produk-produk yang dijual beserta jargonnya yang persuasif, menggerakkan kiblat masyarakat pada kecantikan yang mereka tampilkan. Padahal artis atau model yang mereka gunakan seringkali tidak merepresentasikan perempuan Indonesia. Kendati yang dijadikan BA Desy Ratnasari sekalipun, tidak bisa mewakili seluruh budaya kecantikan di negara dengan 21ribu pulau ini. 

Di era sekarang idealisme tentang wujud cantik makin gila. Gelombang yang satu berteriak tentang penerimaan diri dan cinta pada apa yang ada pada diri-sendiri. Gelombang yang lain melakukan banyak prosedur untuk menjadi ideal hasil dari gabungan banyak konsep-konsep cantik ideal dari seluruh dunia karna menggilanya teknologi infromasi. 

Kiblat terkenal wujud cantik ideal perempuan di Era sekarang adalah wanita-wanita berkulit putih di Eropa dan wanita-wanita Korea Selatan di Asia. Perempuan Korea sendiri tidak lagi punya identitas cantik sebagaimana Wanita Korea sebelum berpisahnya Utara dan Selatan. Perempuan Selatan membuat identitas cantik ala mereka agar tidak sama dengan saudara mereka di Utara. Kebetulan yang mereka adopsi adalah Amerika sebagai sekutu. Jadilah standar cantik tidak masuk akal bagi perempuan Korea Selatan. Putih, Tinggi, Kurus Langsung, Hidung mancung tegas, rahang tegas tanpa double chin, lipatan mata, bibir setengah penuh dsb. 

Lebih gilanya lagi hal ini diikuti oleh banyak perempuan di luar Korea Selatan. Karna kini pusat peradaban fashion adalah di Negara Gingseng tersebut.

Sebenarnya selain virginitas, menurut saya pribadi “Cantik” adalah sebuah konstruk sosial. Estetika selalu subjektif dan bergantung pada selera. Kemudian Cantik Ideal ini tersusun dari banyak faktor. Geografi, Sosio-Kultural dan Ekonomi. Kita ambil contoh White People di daratan Eropa-Amerika-Australia. Bagi mereka cantik adalah mereka yang kulitnya kecoklatan dan gelap. Mengapa ? Sederhana sekali. Karena bagi orang-orang kulit putih yang “jarang melihat matahari” kulit mereka akan gelap ketika mereka berlibur dan berjemur di negara-negara tropis. Maka dari itu orang yang kulitnya Tan dinilai sebagai orang berkecukupan yang menghabiskan uang mereka untuk berlibur dan berjemur ke negara-negara tropis hingga kulit mereka coklat.

Di Negara yang mengurung diri, Korea Utara. Cantik dan Tampan adalah milik mereka yang memiliki badan tambun atau besar, perut buncit. Makin gemuk badannya maka makin tampan atau cantik mereka. Mengapa ? Karena Korea Utara merupakan negara yang bahkan kesusahan untuk mencukupi kebutuhan pangan warganya. Hanya kalangan elit lah yang dapat menikmati makan dengan layak bahkan berlebih. Ideologi dan sistem pemerintahan Komunisme membuat makanan didistribusi sama rata. Pada akhirnya mereka-mereka yang punya kuasa lebih mendapat “porsi lebih banyak”.

Cantik merupakan penanda status sosial. Semakin dekat dengan standar yang dimajinasikan maka pertanda semakin besar pula kuasanya. Meskipun dalam kitab-kitabnya Tuhan bilang bahwa hamba-hamba nya sama dihadapannya. Namun sifat dasar manusia tidak ingin terlihat sama. Ingin merangkak ke strata sosial tertinggi. Dan sejak dahulu cara untuk menunjukkan dengan mudah bahwa seorang individu memiliki kuasa yang lebih adalah dari tubuh. 

Tinggal di Indonesia menurut saya adalah sesuatu hal yang sangat menarik karena saya bisa mengamati polarisasi banyak spektrum konsep cantik. Di tempat-tempat yang susah sinyal dan memegang teguh kultur turun temurun seperti Dayak Kenyah, Kayan, Suku Boti, Baduy, Mentawai, Ratusan suku di Papua. Mereka menjunjung tinggi konsep cantik mereka sendiri. Merajah kulit, memerahkan gigi, mengikir gigi, berkulit gelap, mengikalkan rambut dsb.

Di sisi lain golongan yang berbondong-bondong memgikuti arus konsep cantik yang digawangi budaya populer zaman ini.

Di sisi yang berbeda, golongan yang berteriak keras-keras melantangkan konsep cinta diri, menerima diri apa adanya.

Entahlah, apakah ada sub-kultur selain ketiga itu ?

Dalam bukunya Yuval bicara bahwa arus panah sejarah ini menuju titik yang sama. Apakah juga berlaku bagi “Konsep Cantik Ideal?” 

“Cantik Ideal” punya spektrum mereka masing-masing ada yg statis dan ada yang dinamis, gerak mereka searah dengan waktu. Apakah mereka akan menuju arah yang sama ?

Kita tidak tahu. Kita tidak bisa memaksa perempuan suku Melaka kembali merajah kulit. Kita tidak bisa menghentikan perempuan ibukota untuk tidak melakukan infus chromosome atau filler di dagu dan hidung. Kita juga tidak bisa menyuruh orang yang sudah menerima tubuh dan penampilannya apa adanya untuk hifu, meso atau mendaftar member ke fitness center. 

Tidak seperti ideologi, kepentingan, kebutuhan dunia yang bergerak menuju titik yang sama. Cantik yang ideal punya cara yang berbeda. Mungkin pada akhirnya semua harus menjadi humanis, mengakui eksistensi masing masing. Selama tidak saling merugikan. 

Jumat, 11 November 2022

Bahkan

 Aku mencoba dengan keras untuk menyembunyikan air mataku, tapi agaknya tidak ada yang bisa aku sembunyikan

Semua orang disini tau mataku berkaca-kaca

Aku ada di ujung tebing dan mencoba lagi, membangun keping demi keping yang aku tak tahu pasti apa yang membuatnya hancur

Kita sedekat ini, tapi tak tahu menahu bagaimana cara untuk bertemu

Aku juga sudah hilang akal. Habis ide.

Tidak ada lagi yang bisa aku potong dari tubuhku lalu kulemparkan kepadamu.

 berharap semua yang kulakukan tidak berakhir sia-sia, setidaknya hingga aku dapat alasannya.

 Sehingga aku tidak perlu terjebak di pertanyaan tanpa akhir

. Aku mencoba untuk merelakanmu dengan banyak cara, seperti mengumpulkan semua kebiasaan burukmu dan membiarkannya berjejal di kepalaku

Mencari orang baru.

Kembali pada orang lama. 

Tidak membantu.

Bahkan kamu makin rajin berkunjung di mimpiku.

Aku berhenti mengafirmasikan pada semesta, dan memutus harapanku.

Tetap tidak membantu.

Kamu berdiam dan bercokol dibalik alam sadarku, tak mampu ku gapai, tak bisa ku usir. 

I saw the twinkling lights scattered in Surabaya with a sad look 

I should have walked this long road beside you while singing the latest hits. or enjoy a mc flurry for two. 

enjoying a bowl of hot Bakso on the side of the road. 

or whatever it is from your eating bucket list. Sekarang semua orang melihatku karna banyaknya air mata yang meluncur lancar di pipiku

Aku malu

Aku tak ingin meninggalkan kota ini.

Kita harus dan sudah sepatutnya berbicara empat mata, saling memandang dan menggenggam.

 Menjelaskan dan menyelesaikan semua yang telah kita mulai.

I'm at my wits end to get away from this big question mark 

Bahkan aku harus marah pada angin, karna menemuimu di dalam mimpiku sendiri. Tidak adil.

The roar of this engine drives me away,

Aku tidak siap jauh dari kota ini tapi aku tidak punya nyali untuk kembali menghubungimu. Aku tidak tahu sekarang apakah kamu masih hidup atau tidak. Aku bahkan mulai ragu, aku tidak tahu apakah kamu hanya imajinasi liarku atau memang seseorang yang benar-benar nyata.

Aku tidak tahu kemana aku harus pergi setelah ini, setelah kisah demi kisah yang kudengar. Setelah sedih dan air mata yang kualami

Aku bahkan berdoa pada entahlah aku tak lagi paham.

Aku hanya ingin kamu untuk tetap disana dan aku tidak tahu akan jadi apa hubungan ini

I just want to explore this city and erase all the bad memories with you. 

with your weird jokes 

With your “vintage” music taste.


I'm getting further and further away from this city. 

 

People around me saw me crying. 

I don't know what's on their mind. 

sadly, there is no cure other than to come here again and go home without being disappointed.


Mungkin ini hukuman alam untukku yang tamak.

Setelah dunia ini menyembuhkan luka ku, mengembalikan sedikit demi sedikit percaya diriku.

Mengembalikan secuil senyumku.

Lalu aku meminta lebih.

Meminta dia pada semesta untuk selalu ada bersamaku

Berharap dia hanya bisa menggenggam tanganku, hanya aku yang bisa membuatnya percaya diri menumpahkan air mata.

Berharap senyumnya selalu siap sedia untukku.

Aku sangat tamak

Hingga mulai berdoa bahwa aku ingin habiskan sisa nafasku untuk disampingnya.

Merencanakan pemberontakan pada dunia hanya untuk hidup berdua dengannya.


Aku tak mau dengar suara bising ini, ini tanda aku makin jauh dari kota gemerlap ini.


Barang sekali, ingin aku berbicara dengannya, bertanya satu kata.

Dan aku janji akan terpuaskan apapun jawabannya.


“Kenapa?”

Jumat, 09 September 2022

Arus

 Kufikir sudah lama aku tidak merasakan perasaan sakit seperti ini. Perasaan tubuhku menolak apapun, menolak kopi yang aku minum, air putih yang aku tenggak, orang yang aku temui, suara-suara yang asal muasalnya ingin aku bungkam. Telapak tanganku yang bergetar dan berkeringat tipis, mungkin ini tentang kafein. Aku sudah puasa kafein 2 bulan, tapi tak tahu mengapa ini masih menyakitkan. Atau mungkin karena variabel lain. Seperti bulan yang tidak terlihat karna langit mendung, kopi berkafein tinggi, intro gitar yang diulang-ulang, jutaan panah jarak aku dan kamu serta garis imajiner diantaranya.


Kutahu dan semua pasti tahu yang berwujud akan musnah. Tapi kamu, kefanaan dan kekekalan dalam satu penciptaan. Tubuhmu hilang, kemungkinan besar hancur tapi kehadiranmu tak selalu tentang wujud banyaknya tentang makna. Bagaimana sebuah makna akan tiada ? Memusnahkan makna tidaklah mungkin, tak bisa ia menjadi abu, hanyalah bisa beku oleh waktu kemudian meleleh sewaktu-waktu. 


Setelah sekian lama, aku kembali punya mimpi, aku tak mengerti apakah memang mimpiku terlalu tinggi, amat tidak mungkin. Apakah sejauh ini bukannya mimpi melainkan khayalanku? 

Bukankah ketidakmungkinan itu seharusnya tak terwujud di dunia nyata ? Seharusnya kamu hanya menjadi imajinasi tak perlu dibuktikan dengan eksistensi. Jadi tak perlu repot aku meraba energi, memandangi langit kosong terus-menerus untuk melukis mimpi sambil menahan mata yang makin memburam, mencukupkan apa yang hanya sanggup aku punya.


Katamu tidak ada namanya membuang waktu, jadi pasti kamu punya jawaban mengenai apa yang kuhadapi kali ini.

Bahkan pertanyaan ini hanya mendapat jawaban dari lengang jalan, dari deru roda berat kendaraan yang lewat, kepalaku tak punya jawabannya. 


Kutatap jarakmu yang makin tak masuk akal, aku tak bisa bicara pada apapun selain gelombang dan denging berisik di telingaku. Berbisik pada hal-hal yang sebelumnya tak kupercaya ada. Pada laut yang kupikir arusnya akan menyentuh kakimu suatu hari. Pada kabut yang mungkin membuatmu gigil di dini hari. Pada angin yang berarak menyibak rambutmu. Berharap semuanya berbisik, menyampaikan, menagih dan menunjukkan bahwa aku tidak bergeming dan aku siap berlari kapanpun. Dan tak peduli siapapun. Musnah rasa takutku. 


Hanya bisa kujawab omong kosong di kepalaku dengan omong kosong lain. Bukankah membuat orang linglung dan hilang arah adalah perbuatan ilegal ? Manusia repot membuat dinding dinding tak kasat mata, tapi tak punya ancaman pasti untuk hal-hal yang pasti dialami manusia seperti ini. Manusia pusing dengan ketakutan-ketakutan terhadap hal yang bisa dipecahkan oleh sains di kemudian hari daripada hal-hal yang mengaduk-aduk emosi seperti ini. Manusia makhluk pengkhayal kebanyakan tidak visioner, sebagian sisanya menyepelekan kebimbangan, kebingungan, kehilangan, jiwa yang memudar perlahan dan jati diri yang terkikis mengenaskan.


Aku tak bisa berhenti bertanya, terus menerus bertanya. Aku benci orang yang mengguruiku menyuruhku melepas ikhlas. Meninggalkan dan melupakan. Mengambil hikmah dan pelajaran. Belajar tentang rela dan asa.

Senaif itukah manusia ?

Apa yang bisa digenggam dari kehilangan ?

Jumat, 29 Juli 2022

ENERGI DAN MIGRASI

 Menurut hukum fisika, energi tidak dapat di ciptakan dan juga dimusnahkan. 

Dan tentu saja manusia adalah energi, entah energi apa, mungkin energi potensial karena dalam tubuh manusia tertanam berbagai macam energi. Dan manusia adalah salah satu dari beberapa faktor kegilaan revolusi peradaban yang disebut berbagai kitab suci “Dunia Fana” ini. 

Fana adalah idiom dari golongan Sufi artinya hancur, lenyap, sirna atau hilang. Lalu kemana semua energi itu pergi ? Atau apakah energi dari manusia-manusia dan semua makhluk lain yang telah mati itu tidak terolah dengan baik kemudian makin menumpuk hingga nanti desakan energi itu akan meledakkan semesta ini ? Begitu ? Tapi ya aku lupa, energi tidak bisa diciptakan.

Jadi mungkin saja kesadaran kita yang fana sedangkan kehidupan kita tidak. Kita memutari siklus lahir-hidup-mati ratusan kali. Tapi Bumi telah kiamat 4 kali, ketika kiamat itu terjadi kemana semua energi di Bumi disimpan atau pergi ? Haruskah aku bertanya pada jamur ? Karna tentu dia saksi dari jatuh bangun Bumi.

Plato menolak menjadi seorang matrilianisme, ia yakin ada sesuatu lebih gila, sesuatu yang tak bisa dijelaskan, bernama “ide” ia bilang manusia absolut yang terdiri dari 3 hal. Tetapi Plato juga yang membawa kegilaan teori “Twinflame” ke Dunia ini. Twinflame lahir dari satu energi kemudian terbelah. Jadilah ia sepasang anak manusia yang punya relasi gila. Segudang perbedaan dan yang menyatukan mereka satu-satunya adalah “rasa”. 

Memikirkan semua ini membuat aku sakit kepala, apalagi ditambah kenyataan bahwa kita memiliki kesamaan dengan berbagai makhluk hidup. Baik secara sains maupun kehidupan sosial. Mungkin ini waktu yang tepat untuk berdiskusi dengan Jamur. 


Aku pernah bertanya padamu jika memang hidup kita ini adalah proses daur ulang, maka kira-kira siapakah dirimu dimasa lalu ? 

Kamu hanya diam, tak punya petunjuk. Aku juga. Plato ada benarnya, hal yang lebih besar ketimbang materi adalah kesadaran. 

Pertanyaanku berubah.

“Kamu berharap jadi apa di kehidupan selanjutnya?” 

Kuharap jawabanmu keren. 

“Batu”. Ucapmu. Pesimis. Depresif. Aku kecewa. Aku ingin mendengarkan semua rahasia di semesta ini sehingga menjadi Jamur adalah opsi terbaik, karena jamur bisa berkomunakasi, memiliki kesadaran dan intelejensi tinggi. 

Batu benda abiotik, dia tidak ada di pilihan daur ulang kehidupan. 

Meskipun jawabanmu ngawur tapi kamu mungkin punya alasan kuat, tentu saja kehidupanmu terlampau pelik dan berat. Tapi aku ingin menawarkan kamu opsi yang lebih menarik.

Menjadi Paus. Paus salah satu mamalia yang hidup di laut. Coba bayangkan, mamalia-bernafas dengan paru-paru-melahirkan-menyusui. Namun tempat tinggal mereka ada di lautan. Paus memiliki banyak kemampuan yang bisa membuat kita ternganga. Tentu bukan menari dengan hulahoop, melompat, mencium orang atau berhitung. Jauh lebih dari itu. Paus adalah hewan yang hidupnya berkelompok, mengarungi samudra bersama-sama namun mereka tak pernah keberatan untuk sendiri. Paus adalah hewan dengan kemampuan migrasi paling tidak masuk akal, mereka bisa makan di Pasifik kemudian buang air di Yunani. 

Bukankah itu yang kamu inginkan ? 

Road trip menyusuri tempat-tempat nyeleneh yang seru. Mengunjungi bukit Fatima, mengitari jalanan Italia terutama Firenze, menapaki kuil demi kuil Athena atau mengendarai mustang klasik sambil mendengarkan lagu-lagu lawas di jalanan panjang Arizona tanpa harus bingung siapa yang membuka gudang, siapa yang bertemu klien, siapa yang kirim sampel, siapa yang antar jemput mama. 

Percayalah menjadi paus sangat seru terlepas dari perburuan Paus yang makin massive tiap tahun. Tapi tentu dewasa hanya terjadi jika kita mampu melalui badai masalah. 

Tanpa keresahan dan masalah kita hanya balita yang hidup dalam cangkang berumur puluhan tahun. 

Satu hal lagi.

Dalam kegiatan perburuan paus, untuk mendapatkan induk yang besar, orang-orang akan mengincar anak paus terlebih dahulu. Paus hewan yang cerdas, memiliki empati tinggi, ia tau strategi picisan macam itu tapi ia memilih menyerahkan dirinya agar anaknya bisa terus melanjutkan hidup, bermigrasi dari laut satu ke laut yang lain. 

Ini kamu. Orang yang selalu pasang badan dan memotong satu-demi satu keping hidupmu untuk orang-orang terdekatmu. Bukan sedang berjudi karna kamu sudah memastikan kamu akan kehilangan hal itu.

Kini aku tahu mengapa kamu ingin menjadi batu. Tapi pertimbangkanlah opsi yang aku tawarkan.


Kuharap dikehidupan selanjutnya kamu tidak menjadi batu karena tentu saja tidak bisa. Batu golongan abiotik, yang benar saja kamu tidak tahu ini, ngga mungkin orang dengan IQ 126 tidak tahu ini.

Kuharap kamu menjadi paus. 

Paus Biru, Paus terberat dan terbesar dengan kemampuan migrasi yang tak masuk akal.

Lalu aku akan menjadi jamur. Armillaria Ostoyae.

Dikehidupan selanjutnya mari berlomba, aku lebarkan penampangku sehingga mengalahkan Ostoyae di Oregon. Dan kamu mengarungi 7 samudra. 

Menyelami kedalaman demi kedalaman yang tak pernah disentuh manusia. 

Kita jadikan darat dan laut kekuasaan kita. 

Jumat, 22 Juli 2022

A GLINTS ABOVE THE HILLS

 from the fragile dust are born a little demonic souls

scrating walls by walls to found stairway to reaching peace 

everybody said the ladder were sinking in the deepest ocean.

but no one know which the oceans

earth have seven oceans. 

those demonic soul dive then drowning all over the times. it took almost a whole time. 

the she realize the ocean cannot hold those ladder cause it would be ruin the biotic life, the sea, venomous creature, siren or even nimfa.


She thought the ladder was buried deep in the earth's core

so with her tiny pointy nails, she dug

keep digging

She finds nothing until she loses her own soul

She forgot that the deeper she dug, the blurrier her vision became until blackout

and really nothing even herself

sadly she forgot how to cry and the sound is not carried by the void

the screams do not  echoing

She knew no way out but to dig.

instead of meeting light and sloping fields

She was reunited with the ocean.

it starts from scratch. A glorified rumors.


Have you ever heard the proverb "looking for a needle in the hay?" finding a speck of light in totaly darkness was just as difficult as that. however, that poor little soul was very lucky. she found it. though the place was very high from the lagoon, and she had to pass cliff by cliff. She never used the word "but" in his inventions.


a glints above the hills.  high, far, sparkling, vibrant and there's no reason to stay soaked in that dark rocky lagoon. though the whole world says it is not that hill to go, but another, lower, more accessible, gentler hill. actually not. As long as the sky that coping it is the same, hills with glints are the only ones. It doesn't matter on other hills there are piles of coal, perfume or even precious stones. The only hill with glints in the world. No one can compare. 





Dahyaa aku gapeduli sama gremer dan vocabulary ku yang itu itu aja, aku hanya ingin menulis ini.

Bwat yg merasa tolong jgn sok ganteng dan super PD. yaa lagian kamu dah tau ini buat kamu, baru aku posting skrg wqwqwqwqwqwqwqwqwqwqwq

Makasi yaa, jangan koreksi gremer aku bangke. Aku dah ngga les kumon.

maaf ya agak narsistik tapi kuharap bertemu denganku juga membawa vibes yang baik, happiness dan bisa buat kamu haha hihi jadinya ini relatable juga.

Apalagi aku banyak melakukan hal tolol. Menghibur sekali yeeekaaaannnnn……….

Tapi sebenernya aku tu bingung brutal, galau brutal kamu teh kenapa ? Tapi yauda semua orang punya alasan dan punya hak buat keep hal yang bagi mereka gabisa di share. Tapi aku nungguin looo, aku nungguin haha hihi dan momen menggibahkan alam semesta. Hehehehehehhe

Selasa, 12 Juli 2022

If You Asking Me

 if you asking me why i loved you

Here is my answer

Im in love with your confidence, there is No one can compete with your confidence, 

i said no one. 

I love the way you faced your path, keep your eyes on your ambition even though your reason for stnding on just only one. I love the way you interpret life, after losing for the sake of the loss you have gone through. 

I love you because of me. 

for your response to all the things I have told you, for your opinion of my wild thoughts. for your dreams about me and for your support for me. You treat me like something precious even though you already know I have lost everything.

I love you too for your own silhouette. and your gaze that looks like it's always counting. taking into details, diving into every second with accuracy that builds to make sense with your unique logic. in the end I have to say this. I love your smile, I love every time you smile and laugh because, my heart is full and warm.


if you ask since when i love you, 

honestly it makes me confused. because this process is not an instant, but you make step that I strand myself until I unknowingly fall into a trap. maybe those time, 

when I don't need to explain my first tattoo because somehow you already know and can interpret it by yourself. maybe when you show your weakness because of loneliness. maybe when you tell your big ambition. maybe when your chest hurts listening to my story. maybe when you ask out loud why i cry. maybe when you say that the chaos in my head is the hidden peace. maybe when you say that your happiness is only one. and maybe when you remember my little tattoo. all those things make me feel that i'm not alone.


So much has happened so far that I can't pick one


if you ask me what is the ideal thing for us to do together. who knows. too much, I'm afraid you're tired because it's obviously you will try to make it happen, because that's how you are. put everyone before yourself. but I hope you like it too. 

I want to sit next to you, singing the eccentric songs on your playlist. Hunt for sunsets on deserted beaches while sipping a bottle of beer. 

looking for a snack in the middle of the night. reading an old book in the library. 

enjoy a cup of mc flurry together. listen to me conspire unreasonably and count my tattoos.


If you asking me 

what if this relationship doesn't go as my hoped. I will answer. I'm still happy. for me there is no need to be a partner in the shackles of romanticism (even though it is one of my fantasies) being a friend to listen to your bullshit for hours is really fun. sit together playing poker and make doing silly things a punishment. arguing all night. as I said, my life was dark and covered with many things, I tried to climb and crawl but I don't know what to looking for. Then in the dark, I found your glow. I wrote at length and I convey to you. you glints over the hills. the high gloss I was trying to reach. although it may not be reached at least the dark core of my heart starts to warm and I see the light again. being anything in your life has never been a problem in my life, because once again I know, life can't follow my way,  my imagination. Besides, my biggest wish is that you can be happy. your heart can be warm and full even though the one in front of you is me. messy creatures that you may never meet before. I hope your happiness is as happy as mine.


if you ask me how far i wanna stay. 

then I will ask you back. 

how big you wanna be ? how far you wanna go ? 

how high you wanna fly ? 

how deep you wanna dig ? And there I am, being the fire for all your ambitions. be the wheel for all your journeys. 

be wings for you even though what you want to dive into is hell. be the warhead for all your curiosities. 

I want to assure you that it is not impossible for us to tear the sky apart, scattering its contents to enjoy together. 

listen, 

Maybe it's cheesy, but I don't think heaven is up there. 

Heaven is when I wake up next to you then hug you again. and mumbled a little, letting go of the world and reality behind me. And act unconcerned even if the sky falls, the earth is turbulent and the doomsday is tomorrow. maybe you have your own prayers, have your own images, who knows whose prayers and hopes are granted by God and the universe, but I'm sure it's my efforts would be shake the sky.

Sabtu, 09 Juli 2022

Tumbuh

 Kini kupaham makna “Manusia adalah makhluk istimewa”. Karena meskipun manusia adalah hasil evolusi segelintir species Kera yang dinamai oleh orang-orang intelek itu “Lucy” DNA kita membawa data miliaran makhluk hidup, terkunci dalam tubuh. Tumbuhan, hewan, amuba. Kita benar-benar gila. 

Manusia hidup berkerumun, menjadi makhluk sosial mengatur strategi, mengumpulkan masa, membangun dinasti politik dan strata seperti kera. Manusia sangat teritorial, berjibaku dengan alam, mengeraskan rahang, memilih pemimpin, menajamkan urat untuk apa-apa yang ia miliki seperti Harimau dan Singa. Manusia mengais, mencuri demi bisa hidup hari demi hari seperti Hyena. Manusia yang sabar mengintai, membuat skenario dan menyiapkan jebakan agar buruannya bisa masuk dalam mulutnya seperti Buaya. Manusia terbang, menawarkan tarian hebat, benda-benda mencolok, kidung indah demi mendapat cinta seperti bangsa Aves. Manusia yang mengorbankan diri demi kelanjutan generasi seperti belalang sembah. Kemudian manusia yang melepaskan kulit, kuku-kuku mereka, menggeliat kesakitan agar mereka bisa tumbuh makin besar seperti Ular.

Manusia bertumbuh tiap detik, berjalan di setapak tipis yang licin, makin jauh meninggalkan hari kemarin. Terus bergerak menjauhi peristiwa demi peristiwa dalam hidup. 

Manusia modern berlomba lomba merancang mesin canggih berkecepatan milyaran cahaya untuk menjelajahi masa depan, mungkin setinggi itu rasa penasarannya. Atau karena tak ada garansi untuk hidup yang serba tak pasti ini. Karna tentu saja perhitungan manusia kerap meleset dan semesta dan segala isinya ini masih berisi milyaran tanda tanya.

Tapi coba ditanya, kepada siapapun. Jika mereka bisa memilih, mereka akan lebih memilih pelesiran ke masa lalu daripada menembus medan cahaya untuk masa depan yang asing.

Karena meskipun masa lalu adalah waktu yang seribu kali lebih jauh namun potongan-potongan memori di masa lalu adalah hal yang lebih sering dikunjungi oleh manusia itu sendiri.

Manusia adalah entitas gila luar biasa karna satu-satunya entitas yang sadar bahwa ia sedang berada di antara gelombang tipis bernama kenangan dan masa depan. Sejarah dan misteri, terus menerus merangkak maju tanpa bisa kembali, hanya bisa menoleh kebelakang berkali-kali.

Dahsyatnya manusia harus terus mengelupas, melepas apa-apa yang ada padanya, sisik demi sisik, mengorbankan satu-persatu harta-harta berharga dari hidupnya. Kehilangan serta perpisahan lagi dan lagi. Manusia sering menolak fakta yang mereka sudah paham bahwa perpisahan adalah suatu hal yang pasti dengan selalu bertanya mengapa itu terjadi.

Melepaskan sisik dan kulit adalah cara Ular untuk tumbuh sedangkan bagi manusia tumbuh adalah Rela.

Ombak yang besarnya tak pernah terkira. 

Tumbuh dan kehilangan demi kehilangan dialami manusia, namun manusia kadang lupa. Kehilangan membuat manusia bisa belajar dan bisa memaknai hidupnya.

Sabtu, 11 Juni 2022

SEKALI WAKTU

 Sekali waktu mungkin kita bisa menjadi angsa, yang tak pusing besok makan apa, sehelai daun talas bisa menjadi rumah teduh dari hujan dan gemuruh. 

Acara kita sehari-hari hanyalah berenang dan berlomba siapa yang paling cinta siapa.

Tapi menjadi angsa kadang ide buruk, karna angsa tak bisa menaruh hati pada angsa lain bahkan ia sampai mati kesepian. Dan kamu tak layak untuk itu. Aku tak pernah ingin membiarkanmu terperosok pada jurang yang sama, jurang panjang tak terlihat dasarnya dan seakan akan terjun untuk selamanya, lebih mengerikan karena tidak ada apapun yang menunggumu di dasar karena tak pernah ada dasarnya. Tak ingin kupahami terjunmu kembali karena imajinasiku tak sanggup menanggungnya. Jadi aku akan mengeliminasi kemungkinan menjadi angsa.

Aku mulai sadar bahwa yang aku genggam saat ini bukan simpati atau empati, ia tumbuh begitu saja karna mungkin lukaku pun sama jadi seakan akan luka ini berlari menyambut temannya. 

Sayang sekali aku tak punya keberanian mengakui bahwa hidupku juga sepi. Sangat berkebalikan denganmu, sesepi itu jurang panjangnya, tak ada dasar, tak ada yang menanti dibawah sana dan hal yang kau mampu hanyalah berteriak agar tetap sadar. 

Aku ketakutan setiap hari, terhenyak setiap waktu. Rasanya ini adalah kesepian yang sesungguhnya. 

Sekali waktu kadang kuharap kita adalah paus pembunuh mengarungi samudra hanya berdua dan tak keberatan sendirian kapan saja. Tapi memahami diam mu yang tak terduga juga tekanan tersendiri, menyelami celotehmu pun hal yang sulit kudalami. Itu yang membuatku merasa tak berguna, sedangkan pertemuan dan perkenalan ini harusnya bermakna dan setara. Aku ingin tahu lebih dalam tapi aku bodoh membaca gumaman, radar dan suara. 

Yang ku genggam hanyalah untaian aksara tapi juga tak kumengerti ada apa dibaliknya. 

Kubaca berulangkali, makin tak kumengerti, makin tak mau aku melepas ini dan mengarungi hidupku sendirian lagi.

Jumat, 13 Mei 2022

FAREWELL CEREMONY

 Aku menaruh dua cup kopi ke lantai yang membeku karena sekarang sedang musim hujan. Ngomong-ngomong sekarang ini malam takbir dan sebagai dua orang yang patah, terombang-ambing, malam takbir aku dan Ciput duduk memulai ritual dengan obrolan panjang yang sebenarnya entahlah apa faedahnya bagi hidup kita.

“Ya menurutku, menyuarakan isi hati hak semua gender, bagiku kode dan tarik ulur hanya buang buang waktu”

“Ya benar juga, kadang aku menyesal tidak melakukan itu, lalu apakah untuk yang bersamamu saat ini juga buah dari sikap terus terangmu itu?”

“Sebagian iya dan sebagian tidak”

“Tidak usah bangga, first move mu sering memuakkan”

“Contohnya?”

“Contohnya ketika kamu tanya ke orang bisa mundurin motor nggak, padahal jangankan mundur, motor orang itu bisa saja ngepot, nge drift, muter-muter disitu saking luas space nya”

“Dan kemudian dia jadi pacarku, aku tetap menang”

“Apa kamu pernah merasa menyesal?”

“Enggak, jika waktu diulang dan aku sudah tahu akhirnya pun aku akan tetap memilih hal yang sama”

“Ya kenapa?”

“Kamu tahu lebih dari siapapun jawabannya”

“Ya tentu, itu adalah hubungan yang membuat iri siapapun, dia benar-benar orang yang pas untukmu di fase dan keadaanmu saat itu”

“Yaa, setelah kupikir-pikir dia membawa bergunung-gunung cinta yang aku tak pernah sadar”

“Kamu ingat bagaimana dia menawarkan diri membawa kita semua ke tempat-tempat yang kita mau bahkan sampai malam, padahal baru kenal”

“Tentu saja”

“Ya dia beralasan ngantuk, tidak bisa menyetir, meminta duduk di bangku belakang, bersandar padamu dan menciumu di depan kita semua”.

Aku tertawa meledak.

“Pada saat itu aku ingin memukul kalian berdua tapi yasudahlah, selama kamu bahagia”

“Esok harinya aku pergi lagi, ke pantai berdua, membawa dua beer, dia bilang bahwa mantan pacarnya menyumpahi dia tidak akan mendapatkan yang lebih baik, lalu dia bilang bahwa mantannya benar-benar salah”

“Ya beberapa hari kemudian dia bawa sebotol anggur, kita minum sambil main uno, itu hari dimana pertama kali aku merasakan minuman keras” 

“Dia menculikku dihari kedua lebaran karna tau aku bosan dan tidak ingin bertemu dengan orang-orang. Dia membawaku minum kopi di kaki gunung yang entah mengapa sudah buka”

“Dia melakukan banyak hal hei, bertengkar dengan mamanya, membawa kabur mobil untuk membawa pulang kita yang mabuk dan setengah tidak sadar”

“Iya aku tentu ingat”

“Tapi mungkin kamu tidak ingat kalau ketika di mobil kamu setengah telanjang, benar-benar tipe orang yang merepotkan ketika mabuk”

Tawaku meledak.

“Banyak hal yaa yang benar-benar kita lalui bersama, hingga kamu dan dia jadi cuma berdua” 

“Iya”.

Aku menyesap kopiku. Melempar pandanganku ke langit-langit. Dan iya banyak sekali, terlalu banyak. 

Dia membawaku ke psikiater, dia yang sering tidak pulang karena menemaniku yang tak mau pulang ke rumah. Dia yang menyusun liburan ke Bali, meskipun tahu Bali lesu dan tak ada apa-apa, menjemputku jauh dan mencoba berbagai kedai kopi, warung makan, nasi goreng di pinggir jalan, hampir semua warung bakso, mengantarkan aku pulang, menghisap sebatang rokok sebelum menciumku dan masih tak mau melepasku membuka gerbang. Dia yang menerobos hujan ke kota sebelah demi seekor ayam goreng yang sebenarnya aku tak sebegitu doyan, hanya karna konten tiktok yang persuasif luar biasa. Dia yang menerobos hujan demi mengantar sebuah jaket untuk aku yang kedinginan di dalam kedai kopi.

Semua tujuannya hanya untukku. Semua waktunya hanya untukku, dan aku selalu sibuk mencari tahu apakah dia mencintaiku.

Dia yang membantu pekerjaanku. 

Banyak hal yang masih bisa dirayakan dan terdengar tidak masuk akal jika dibandingkan dengan bagaimana perpisahan itu terjadi. Sejak awal aku dan dia sudah sepakat ini hanyalah fase dan kita berdua harus bergerak berlawanan arah. Tapi hari perpisahan itu terlanjur diwarnai masalah dan amarah.

Dia membawa bergunung-gunung rasa cinta, meredam amarah dan perasaanku yang suka jungkir balik, menungguiku makan karna syndrom ku parah, lucunya jadi membaik setelah kita pulang dari Bali. Dia adalah wahana yang tepat dan benar-benar tepat di kondisiku saat itu. Dan seharusnya ritual perpisahan kita harus sakral.

Mengingat banyak hal-hal baik yang terjadi, membahas hal-hal bodoh bersama dan pencapaian-pencapaian yang sudah dilakukan berdua. Bertukar kado. 

Saling mengucap do’a do’a baik, memberi tahu mimpi-mimpi apa yang akan kita raih. Berpelukan. Karna itu adalah hari baik, hari sakral, hari berakhir nya babak negeri dongeng dan roller coaster dan bersiap memasuki babak baru, plan-plan baru dan mimpi-mimpi yang terencana.

Seharusnya itu upacara sakral perpisahan yang terjadi. 

Entahlah, amarah dan emosi menutup semua kemungkinan indah itu. 

Jika mungkin nanti harta karun ini ditemukan. Aku ingin berterimakasih karna dengan cintamu, tulusmu, usaha dan segala kerja kerasmu, kamu memberikanku apapun, apapun yang kumau, apapun yang kuinginkan, dan dengan cintamu membawaku ke titik itu, melewati ombak demi ombak kehidupanku, menghadapi kehilangan dan sakit hati tidak sendirian. Mendengarkan curhat dan ceritaku yang membosankan. Memberikan ide dan dorongan, mendukung segala keputusan gilaku dan selalu bersedia memberikan bahu sekeras apapun tangisanku. Tak pernah menyerah melakukan apa mauku. Cinta tak pernah salah, keputusan-keputusan dangkal kita yang membuat segalanya kacau. 

Kamis, 21 April 2022

The Story of a Pair Shoes

 Aku rasa semua orang pernah, punya sepatu yang tidak pas dengan kakinya. Ada yang kebesaran dan ada yang kekecilan. Pangeran di cerita cinderella juga berusaha mati matian agar sepatu kaca itu menuntunnya kembali ke tuannya.

Berapa lama ya kira kira waktu yang dibutuhkan oleh pangeran untuk menemukan tuan dari sepatu kaca cantik itu ?

Bukankah butuh waktu setidaknya bertahun-tahun untuk memastikan semua orang mencoba sepatu itu ?

Mengapa dia begitu sabar, mengapa manusia tidak. Terutama aku.

Ukuran kaki ku 37, tapi hampir setiap kali membeli sepatu atau punya sepatu selalu sulit. Terlalu longgar dan terlalu sempit. (Pernah sekali waktu pas, sepatu diskonan matahari beli bareng riris) 

Aku tidak pernah mau ribet dan sabar mencoba satu persatu, aku hanya melihatnya sekilas, jika aku suka dan hanya itu satu satunya aku akan ambil dan bawa pulang.

Setelah itu baru bingung, karna sepatunya terlalu longgar dan terlalu sempit. Memilih sepatu adalah hal yang memuakkan, jadi jangan heran sepatuku itu itu saja. 

Rasanya bodoh ketika mengingat aku mencuci kemudian mengeringkan sepatu dengan hair dryer berharap sepatu itu mengkerut lalu pas di kakiku, tutorial life hacks yang menyebalkan. 

Aku pernah menabung lalu membeli sepatu hak tinggi yang sudah lama kuinginkan, yap dihari uangku terkumpul, dihari itu sepatu model dan warna yang kuincar habis, sisa satu ukuran yang lebih kecil.

Tepat sekali, aku membelinya meski aku tau itu pasti melukai kakiku. 

Setiap kali memakainya tumitku berdarah, kulitku terkelupas, sampai di titik itu aku tak merasa keberatan, tidak merasa itu hal yang perlu diperdebatkan. Sepatu impian dan ilusi kakiku yang menjadi jenjang adalah harga yang tak bisa ditawar, oleh lecet lecet sekalipun.

Aku adalah ciptaan absurd dan tidak masuk akal. 

Aku tidak pernah pandai memilih, orang lebih mau membeli barang yang sedikit kelonggaran daripada sedikit kekecilan karena tentu saja menghindari luka.

Tapi aku, entah mengapa, menganggap luka adalah harga yang pantas untuk terlihat mempesona.

Aku menulis ini sambil menatap sepasang sepatu baru ku, yang kudapat sebagai hadiah ulang tahun. Sebelumnya kubeli sendiri sepatu, dan tentu saja kekecilan. Bahkan sepatu hadiah ini juga kekecilan, terlalu kecil sampai aku harus memotong habis kuku kaki ku, benar benar tandas karena jika tidak kuku ku akan patah, dan semakin sakit. 

Sepatu hadiah ini juga sebenarnya sepatu biasa, tak memakai ini pun aku tak apa, tapi aku tak punya pilihan, tidak akan ada lagi orang lain yang muat kakinya, dan itu hadiah, sudah sepantasnya kupakai sendiri meskipun ngilu. 

Uniknya sepatu itu tak pernah rewel, tak pernah sobek meskipun terdesak jari jari kaki ku, tak pernah terkelupas meskipun terkena hujan.

Makin lama kakiku agak leluasa namun entah mengapa sakitnya tak pernah hilang. Dan aku harus selalu memotong habis kuku ku.

Aku memandangi sepatu itu, sekarang memandangnya saja sudah mampu membuat kakiku merasakan sakitnya. Kaki ku hafal bagaimana ada di dalamnya, proses masuknya, bagaimana keluarnya. Kakiku tak mau damai, sepatu itu tak juga mau melebar sedikit lagi. Aku sudah melakukan banyak hal, membuang kaus kaki ku, memotong habis kuku kaki ku, membersihkan luka luka di kaki ku. Sepatu itu tidak bergeming, tak bersahabat sama sekali. Padahal aku tuannya, aku mencoba segala hal agar dia bisa kugunakan sebagaimana fungsinya. Tetapi entah maunya apa, dia sepatuku, ada di rak sepatuku paling atas, berada disana, mudah dijangkau mata, tapi menolak untuk dapat kugunakan dengan nyaman. Ia hanya mau disana, tidak melakukan apa-apa, menjadikan dirinya pajangan, menurutnya sudah cukup yang ia lakukan karena ia hanyalah sepasang sepatu. 

Minggu, 03 April 2022

God made me dealing with storm and thunder (just like thor)

 ive been struggle since i was newborn. Illness and stuff.

If you read down my post on this blog u will know what i have been done.

Whats new ?

The newest things is how someone i loved, i trust, someone who i put him towards me, i give all mine. Broke me into a tiny pieces.

Not just mentally, physicly too.

I ve been lost everything. 

Family, friends, money and love. 

repeatedly at the lowest position in my life cycle.

Iam sick and go alone at hospital

I almost got raped

Then i got raped by someone i tought he is the goblet of my suffer

I got dumped

Someone tortured my body

Tortured my feelings then told me that im nothing. Worthless. Not worth it for him. 

After all those pain i held alone. Motherfucking alone, keep all the fault on me, shut my mouth off about it.

Iam lonely in this path, trying to figured another side looking for nice one. Everyone trying to knew me but they are not, they dont lived in my mind, i lonely in this path while people build romance things about sunsets and sunrise, the sky wreck me down.

But im here, dealing with the storm and hurricane. Finding through myself in the core of chaos. Breathing and smilling.

Univers make me dealing with the shore and the rocks, hoping me dying, i burn my self to knock it down. They forgot where diamond come from. 

Everythings ruin me, choking me, bite my tongue.

And im still here.

Do you know what make me still standing here ?

My faith.

Not for god, legend, myths, star constellations or what the hell is that.

It just because my faith towards myself.

Cz i believe i born with this name, and this name don't depend on destiny written by other things.

This name write the own destiny.

Jumat, 11 Maret 2022

Wabi-Sabi

 Finally i write this, not because i have threw all my sadness, my pains and doesnt care about my brews, it just because i dont wanna growing up my anger then it would be torturing me deeply. 

Aku mengerti, aku tidak lahir dari Laut sehingga tak perlu untukku berusaha mati-matian menerjang karang tiap beberapa menit sekali untuk selamanya, berharap karang itu runtuh dalam perutku. 

Aku mengerti, aku tidak lahir dari gunung sehingga aku tak perlu membalas segala hal yang melukaiku dengan amarah, dengan nada-nada tinggi yang menciutkan nyali orang lain.

Aku tak lahir dari langit, sehingga tak perlu aku menurunkan badai hebat agar orang-orang tahu kemampuanku kemudian segan. 

Aku tidak terlahir dari matahari sehingga tak perlu aku menghdirkan kemarau hebat hingga orang lain menyembah nyembah untuk dapat setetes air.

Aku manusia yang dapat memilih.

Aku tak lahir dari laut tapi aku sering dihibur laut, gulungan ombaknya yang menyentuh kaki dan selalu mengantarku kembali ke tepi. Arusnya mengantar nelayan pergi, karangnya tempat molusca-molusca tinggal. Itulah laut. 

Aku tak lahir dari muntahan gunung tapi aku sering dikuatkan gunung. Jutaan kehidupan terus menerus berputar di tubuhnya, hewan dan manusia yang bergantung dari nutrisi tanahnya, tonggeret dan capung selalu kembali pada nya. Itulah gunung.

Dari semua peluang dan kesempatan selalu ada pilihan dan aku berhak memilih. Apakah aku akan melepaskan mimpi buruk yang ada pada alam bawah sadarku menyeruak dan tinggal di lobus frontalku selamanya.

Dengan segala kesadaranku aku memilih tidak.

Aku tau dan ingat, aku pernah menulis perjalanan waktu, bumi dan manusia. Kelahiran, pertumbuhan, evolusi dan kehampaan. Milyaran tahun dibutuhkan Bumi untuk mengecap segalanya kemudian terbenam dalam lubang hitam besar. Milyaran tahun adalah waktu yang singkat, ia akan berakhir. 

Luka yang kualami akan tinggal selamanya. Tidak runtuh menjadi debu kosmik, atau menguap begitu saja lalu bergabung dengan nebula. Menyakitkan sekali merengkuhnya tanpa batas seperti itu.

 Seperti caraku melihat alam dan fenomena, aku memutuskan membiarkan luka pedihku terbenam jauh hanya ingin aku undang bagian bahagianya saja. Karna tentu saja sedalam apapun luka ku, aku pernah tersenyum tulus, aku pernah tertawa lepas dan aku pernah merasa utuh. 

Tanganku pernah digenggam, tubuhku pernah dipeluk, tangisku pernah dihapus. 

Meletakkan pedih dan nestapa diatas segalanya amat sangat tidak adil pada diriku sendiri. Cukup orang lain dan hal-hal lain yang membuatku merasa dicurangi, merasa tak mendapat hal yang esensial sebagai seorang manusia. Diriku sendiri tak sepatutnya ikut campur.

Tak ada yang meredakan badai kecuali badai itu sendiri, tak ada yang menenangkan ombak kecuali lautan itu sendiri. 

Hal yang perlu diketahui bersama bahwa Luka memang selalu membekas kadang terbuka dengan sendirinya, namun bukan berarti orang penuh luka tidak bisa berbahagia.

Deburan ombak, gugusan bintang, langit cerah, barak api, hembusan angin. Semua hadir bagai koin yang selalu punya dua sisi. Tak perlu diminta. Kita layak bahagia. 

Sabtu, 12 Februari 2022

Untuk Mao dan Ben kesayanganku

 
(Mao sedang nemenin makan)

 Kalau nanti kalian sudah bisa baca, tolong ini dibaca.

Kalau kalian nanya siapa yang paling aku sayangi di dunia ini. Jawabannya kalian. Mao dan Ben.

Aku kasi nama kalian Mao Zedong sama Bennito Mussolini agar kalian bisa garang, jadi duo preman di kampung ini. Karena asal kalian tahu, dulunya sebelum kalian ada Om Poopoo lah preman kampung sini. Jangankan kucing garong. Manusia aja takut sama Om Poopoo. Aku berharap masa kejayaan Om Poopoo bisa turun ke kalian. Tapi sepertinya enggak. Kalian setiap hari sibuk korek korek sampah, kayak malumaluin banget membuat citraku dikampung ini jelek, kayak ngga pernah kasi makan kalian. Padahal kenyataanya makananku sama makanan kalian kadang lebih enak makanan kalian.

Aku juga banyak dapat informasi kalau kalian suka nimbrung makan ikan pindang di rumah tetangga. Malumaluinbanget tolol. Ya mungkin kalian belum se dewasa itu. 

Tapi aku berterimakasih banget ke kalian.

Kalian duo paling menggemaskan. Berat badan kalian suka balapan, kalau Harto masih hidup mungkin dia akan jadi tergendut. 

Terimakasih udah selalu nemenin aku makan, kalian tahu aku susah banget makan, jadi suka nemenin tanpa ngerecokin (kalau makanan aku pedes) *tolong kalau makanan aku ngga pedes piringku jangan diobok obok.

Makasih udah mau sehat, kalau sakit nggak rewel, makasih udah selalu nemenin aku tidur, makasih undah mau tak cubit cubit, makasih udah nemenin aku nangis dan dengerin lagu sedih bareng. Makasih udah mau aku peluk peluk padahal aku jarang mandi. 

Maafin aku yang masih suka cengeng, kadang kalau kalian main suka tak gendong bawa ke kamar buat nemenin aku. Maafin suka tak marah marahin. Maafin aku yang kadang suka lupa kasi makan. Maafin aku yang sering pulang malam. Maafin aku udah kurus banget, susah makan sedangkan mesti maksa kalian buat makan meskipun kalian kenyang.

Aku tau aku nggak sempurna, mungkin di luar sana kalian bisa dapat babu lebih baik. Tapi aku menjamin nggak ada babu yang menyayangi kalian dengan tulus selain aku, mengingat tingkah kalian seperti sepeda lipat.

Aku janji aku nggak akan sering nangis, bakalan sering ajak kalian main, bakalan sering mandiin kalian, aku janji bakal berusaha yang terbaik untuk jadi pribadi yang lebih baik, aku janji bakalan terus sabar dan mencoba memahami semua sudut pandang manusia karena aku ingin menjadi manusia. Aku janji bakalan terus semangat untuk diriku sendiri, untuk kalian dan untuk impian-impianku.

Pokoknya terimakasih banyak untuk semua hal yang kalian lakukan selama ini buat aku. 

Semoga kalian berdua tetep bisa sama aku. Nggak berantem berantem. Nggak minggat salah satu karena rebutan wilayah. Tetep temenin aku makan, temenin aku kerja, temenin aku nonton film, temenin aku nangis ntar kalo tololku kumat. Pokoknya begitu.

Nanti aku traktir kalian royal canin.