Sabtu, 11 Agustus 2018

SAYAP DAN PENYINTAS

Seseorang tidak bisa melepaskan sayap yang telah terkepak dan membawanya ke banyak tempat. Meskipun tak sampai pindah negara atau pindah planet. Kepakan sayap dengan motor seperti itu cukup untuk melintasi dimensi-dimensi tak kasat mata. Dimensi yang menciptakan ruang berselaput, kedap suara, kedap dari ceracau individu lain. Ruang yang tak berbatas jarak, tak memiliki nilai tukar, luput dari sistematika penghitungan. Ruang yang memiliki oksigen, nitrogen, karbon dioksid dan monoksid nya sendiri. Ruang yang melintasi jalan yang menyimpang, menukik, memotong. Ruang dimensi cermin tak berbatas yang membatasi hadir, sentuh dan lihat. Ruang terluas yang menyibak aturan, mendekap malam dan bungkam pada dengungan burung hantu.
Sayap sekecil itu bisa membawa ke ruang seajaib itu, lebih dahsyat dari berita amstrong di bulan. Setiap kepakan sayap punya ritme agar tak jatuh, agar stabil. Agar motor penggeraknya tak mudah aus sehingga mogok ditengah jalan kemudian menjadikan jatuh. Ritme yang dilakukan berulang ulang, terus menerus membuat kepakan sayap menjadi rutinitas, melayang adalah prioritas dan terbang adalah bonus.
Namun manusia diciptakan dengan terminologi yang berbeda, tak cukup dengan ruang istimewa, selayaknya mortir manusia bersayap ingin mengelilingi semesta, berjingkat disana, tiarap disini. Terbang lagi, yang penting ritme kepakan sayap selalu terjaga, tak perlu montir turut serta ambil andil menyervis baut dan mur. Tenaga ini milik penyintas, berbaur dengan darah dan debur jantungnya.
Lepas dari dimensi semenarik itu, maka kini segalanya harus ditabrakkan, dipertemukan, harus hadir, harus saling berucap, harus saling mengerti kendati tak saling mendekap.
Sepasang sayap kecil tak kasat mata, sekelumit tawa dan deburan aliran darah yang di pompa jantung. Jangan sampai dia anemia.
Tak perlu merebahkan diri pada dada yang busung, atau bahu yang hangat, sayap milik penyintas bisa istirahat hanya dengan sepersekian desible tanda agar waspada. Sesederhana itu di dunia yang serba rumit, di tempat serba akrobatik. Sayap dan penyintas sudah seperti paket lengkap keliling dunia tanpa harus kemana-mana, meskipun sayap bisa membuatnya kemana-mana hingga antar galaksi sekalipun. Dimensi kaca buatan sendiri bermetamorfosa layaknya rumah dan taman bermain, tempat ia jungkir balik sekaligus tempat ia pulang.
Lalu mari kita pikirkan bisakah itu semua ditanggalkan ? Bisakah itu semua dilucuti satu persatu ? Karna segalanya tak bisa berdiri sendiri sendiri, semuanya ramuan bak konstelasi bintang, asteorid, meteorid di bimasakti. Kita ambil satu maka tumbanglah segalanya. Hancurlah ritme dan rutinitas, pecahlah dimensi imaji, runtuhlah bahu dan air mata.
Lalu dimana dia dan apakah ini ? Jikalau ini puisi mana rima ketika iramanya kacau hambur entah kemana. Jikalau ini lagu sungguhlah ini masterpiece dengan dinamika luar biasa namun sampai seberapa oktaf kah jerit ini akan di antiklimakskan ? Bilakah penyintas, sayap engkau dan ruang hablur dikembalikan ? Melihatkah engkau pada haus telingaku ? Mengertikah engkau pada tanya besar di kepalaku. Kita tak perlu saling tanya karna tak ada gunanya, kita akan terperosok dan susah payah menggapai bibir setelah merenung amat lama. Kita tak perlu kemana mana, cukuplah rutinitas bersayap yang membawa terbang dalam dimensi tunggal antar perasaan. Janganlah dulu bermimpi melintasi galaksi, kecewa kita harus dulu saling diobati.