Selasa, 06 September 2016

Surabaya di satu pertiga malam

waktu membuat alam merekonstruksi dirinya sendiri. alam memekik menumbuhkan cadas, menggali jurang dengan ceruk-ceruk tajam. Tanah basah kemudian kerontang, tak ada yang protes, burung masih bersiul, kerbau melenguh dan ayam masih bahagia dengan kepakan sayapnya. Alam membuat waktu meracau, menerbitkan matahari, menenggelamkannya, menyembunyikan bulan dibaliknya, memendarkan bintang, meneduhkan tanah, menangiskan langit. hingga manusia datang lalu melompat terlalu jauh, memainkan waktu dan mengatur alam. membuat garis lalu melanggarnya. membuat jalan lurus lalu membuatnya menanjak, melubanginya, meninggikannya dengan pongah padahal belum tentu mereka bisa melewati dengan selamat.
Alam tak punya sekat dengan tabiat, mereka berbaur dan menangis bersama. seperti halnya malam ini, surabaya masih sibuk di waktu yang harusnya alam bermimpi untuk esok. Hingga tiba-tiba hujan datang menabrak kaca, semakin deras lalu hilang tanpa petir. Hujan. malam ini ia datang tanpa klimaks yang bisa merobohkan pertahanan seseorang.
Andai kita bisa seperti itu.
Andai kita bisa berjalan, melompat, berlari, berguling-guling di tanah, saling adu siapa yang paling cinta siapa, tertawa sampai sakit perut tanpa pernah dihampiri oleh apa yang dinamakan bom waktu hingga kemudian kita menjadi sejarah.
meski aku telah mendekatkan diri bahkan hingga kita bisa bertukar udara sebuah selaput anti peluru membumbung tinggi ke angkasa melapisi masing masing dari jiwa kita.
Aku datang untuk bersimpuh pada waktu dimana malaikat turun untuk mendengarkan apa yang kita minta agar Tuhan mengabulkannya. aku selalu bingung apa yang aku minta, aku terdiam untuk waktu yang sangat lama, membiarkan berjuta kalimat berkelakar. pada akhirnya aku hanya memohon diberikan yang terbaik. entah yang terbaik itu yang seperti apa. dan terbaik bagi siapa, bagiku atau bagimu. permintaan yang sangat singkat, karna itulah bunyi doa yang tepat.
Aku yang sering dihantui peristiwa bodoh yang menyisakkan isak dan ratap menyalahkan waktu dan alam yang tak senada dengan manusia, dengan anak-anak Tuhan. kenapa harus sedalam ini, kenapa harus kamu. karna aku biasa merasakan ini sendirian, dan hanya air mataku lalu semuanya berakhir dengan petir dan kiamat secara personal, kiamat yang hanya datang kepadaku.
semuanya tak akan pernah bisa memberi jawaban, tak akan bisa meredakan gemuruh yang bercokol lirih diantara kita. gemuruh yang tak akan bisa reda.
tapi aku bersyukur Tuhan memberiku mukjizat, wajah seperti pecundang, tawa seperti anak yang baru bisa membaca, menutupi kegilaan tentang apa yang dilakukan alam dan waktu. lalu bertemu denganmu kembali seperti orang gila.
Merebahkan badanku pada dadamu yang berdetak, menikmati Surabaya yang tak berhenti berdenyut, tersenyum untuk tikaman langit dan detik-detik dibawah bintang yang bertukar tempat.

Senin, 15 Februari 2016

If this a game

Aku pernah berkata bahwa aku kebal sakit karna hatiku elastis, aku pernah berkata bahwa aku tak akan terjatuh dan selalu ada di tempatku berpijak meskipun kau lempari aku dengan lampu gantung, mengikatku dengan dongeng seram. Kamu tau, mata ada untuk merasakan sakit, untuk rusak, telinga ada untuk sakit begitu juga semuanya. Lalu kenapa ada hati jika ia juga tak bisa sakit, tapi kenapa aku mengatakan aku kebal sakit? Kebal ia berarti dihujam berulang dan tak bergeming malah hidup dan bersahabat dengannya. Kamu mencobaku. Membuat aku lebih cepat merasakan daripada yang semestinya, membuat aku lupa bahwa aku punya banyak luka untuk ditangisi, lupa bahwa ada beban yang harus aku pikirkan, aku selesaikan. Semuanya enyah ketika kau datang tiap malam, menembus dindingku sendiri.
Ini kali pertama aku merasa takut, aku sudah bilang itu. Aku takut kalau aku salah berucap hingga kamu marah, aku takut aku tidak bisa mengerti maksudmu hingga membuatmu kesal karna tak bisa mengerti dirimu, aku takut aku tak bisa dimengerti olehmu, aku terlalu banyak takut hingga akhirnya aku takut jika aku tak berada di tiap menitmu. Kamu sukses membuatku menjadi penakut. Entah cinta entah aku yang berlebihan atau apakah ini kebodohan, aku gagal mengerti diriku sendiri. Lalu kamu, dibalik ketakutan-ketakutanku disanalah kamu tertawa, berpikir bahwa permainanmu sudah mulai naik level dan kau berpikir akan dapat point tambahan. Malam. Malam. Tiap malam, ketika sayap datang padaku perlahan aku tak paham bahwa disana ada pula belati yang menukik tajam. Entah permainan apa yang engkau mainkan, apa jenisnya.
Lihat aku terluka, menangis sekarang.
Apa kamu ingin dengar berita bahagianya untukmu ?
Permainanmu berhasil, kamu menang. Tapi mulai sekarang ketahuilah kamu kehilangan mainanmu untuk selamanya.