Do you know that our galaksies alive just because so many stars crushing, bumping and hit each other ? It make our planets, our home then u and me.
supernova make a genuine energy like some stars dead but then make so many chance creatures starts living and loving.
I learn sacrifies.
I know what I believe to be bad is sometimes not that bad
It just like you who crashed into my imagined world and causes personal apocalypse. and I was given billions of hours to heal. I thought my world was lonely and over but mind cells, affections, emotions, empathy merge and intertwine. sometimes confuse pheromones. sometimes it creates serotonin storm. sometimes spur endorphins and start lots of crazy things. this intertwined meeting of all psychic aspects has brought my awareness to be willing to welcome you many times
You also known our civilization starts from a cell.
A only fucking cell
Then they transform and they turned into two big kingdoms. I do not know humans belong to a which kingdom. is really crazy because humans share 70% of the same DNA with corn and only have 3% difference in genes with chimpanzees. I told you about my theory of human origin thats sounds crazy but surprisingly you believe it.
then we humans build everything. homes, schools, buildings, shrines, worship altars, zoos and imaginary boundaries. humans whose heads are in the crowd of thousands of questions begin to theorize. guess the puzzle that the earth hinted at. then build lines that come to understand. rules that are invisible but still tie your neck no matter how far you go and how high you fly. I hate imaginary lines. You dont. But let's make peace.
why humans build imaginary boundaries that they cannot across? That's a strange question and really different from the typicall question why did the government build a bridge that couldn't be crossed or build a terminal that couldn't be visited? You are right. money. but who get the benefits from these suffocating imaginary lines? me? you? God
but thank you I say for that imaginary line. I could have a reason to keep my distance from you.
imaginary lines made me who will drunk stay sober. I know I can no longer cross. That bastard's line suffocates me and saves me. You are no longer a star explosion, a supernova. You are a time bomb in the universe that I have created. You are an affection that will infect every essence and fabric of my neurons, nucleus and compounds. You are the happenings and the end in one package.
I can still enjoy every cup of coffee and every cigarette you smoke while listening to you theorize and conspire. I can enjoy you smiling and laughing while the world is twisting. very funny, now I know the feeling of freefall, I came to know how juple's feelings, who gave herself surrender to the person who makes her brain and feelings turn upside down. I really know.
But happy me, i have brake, i have parrasute. which will make me landing comfortably
BUAT APA DISIMPAN DALAM HATI ? NANTI JADI BELATI, MENUSUK PERASAAN SENDIRI. LALU SISA HIDUP MENYESALI.
Selasa, 31 Desember 2019
Selasa, 24 Desember 2019
PASANGAN
Jika kita melempar pandangan kita jauh ke belakang, kita tahu track record kita sudah sangaaatt panjang, perjalanan manusia menjadi penakluk bumi dan puncak rantai makanan adalah lompatan genom terbesar, sungguh beruntung nenek moyang kita menemukan api sehingga kita bisa berevolusi sedemikian.
Meskipun masih diperdebatkan tentang asal muasal manusia, apakah jatuh dari langit, apakah seleksi alam berjuta juta tahun yang lalu, ataukah hasil experiment makhluk ekstrateresterial. Masih misteri. As always, tidak ada sejarah yang benar-benar kita ketahui duduk perkaranya, sejarah subjektif.
Namun harus kita akui bersama bahwa hal paling esensial yang dibawa manusia sejak dahulu hingga sekarang adalah pasangan.
Mari kita lempar prespektif kita di jaman Mesozoikum hingga Megalitik, ketika manusia hidup berkelompok untuk bertahan hidup. Manusia yang kebetulan evolusi luar biasa dari kingdom animalia tidak hidup monogami. Hal yang wajar apabila seorang pejantan alfa memiliki beberapa betina atau bahkan betina di satu koloni miliknya semua haknya. Mengapa demikian, mari kita berpikir dengan cara yang sangat sederhana pejantan memproduksi sperma jutaan sel setiap hari. Betina hanya beberapa ratus ovum setiap bulan. Maka probabilitas investasi keduanya akan melahirkan skema pejantan yang lebih mengutamakan kuantitas dan betina yang mengutamakan kualitas. Persamaan keduaanya adalah sama sama tak mau rugi. [Makhluk ekonom sejak pra aksara]
Banyak hewan yang melakukan poligami, yang paling menonjol adalah singa. Bedanya pejantan disini adalah makhluk gabut yang tugasnya ngewe sama betinanya, gakding canda.
Tugasnya adalah mempertahankan wilayah dan gelut dengan pejantan lain. Satu orang pejantan bisa punya 4-5 betina. Singa betina berburu, mengurus anak, mengajari anak-anak mereka menjadi pemburu.
Dalam sebuah penelitian [au ah risetnya sapa lupa, males buka buku, males nyari, di gugel gaada] mengatakan. Manusia sulit menemukan pasangan yang "fit in" a whole package. Komunikasi, afeksi, finansial, physicly. Semua tidak selalu bisa diampu oleh seorang individu. Kembali ke 1 juta tahun yang lalu, manusia berpoligami bertujuan untuk membentuk generasi yang kualitasnya lebih baik. Karena generasi selanjutnya akan menerima pendidikan dari lebih banyak figur dengan latar belakang ahli dan kapabilitas yang berbeda-beda.
Monogami adalah sistem yang dibuat sedikit memaksa, mungkin untuk mengendalikan populasi, menjaga garis keturunan, menghindari inses. Who knows [males cari referensi,,,yawda lah yaa]
Tapiiii banyak juga hewan yang bermonogami.
Lets say angsa, angsa hewan yang memiliki satu pasangan, sedihnya angsa hewan yang tidak bisa move on ceunah, jika pasangannya mati dia akan galau, mogok makan sampai mati.
Katak, katak hewan monogami, tapi katak jantan akan coitus dengan katak betina dari awal musim kawin sampai katak betina hamil. Yawlaaaa. Capek.
Elang Tiram, akan coitus dengan pasangannya 300 kali sehari selama musim kawin untuk menjaga betinanya tidak diambil pejantan lain.
Burung lovebird, akan bertengkar dengan pasangannya (ketika dijodohkan) sampai salah satu ada yang mati. Karena lovebird adalah monogami jadi sangat penting baginya kualitas dan kuantitas yang diinvestasikan. Agar tidak rugi. Monogami punya resiko.
Mungkin hidup akan lebih seru apabila society tidak di konstruk menjadi monogami, agama agama tidak menganjurkan memiliki satu pasangan jauh lebih baik. Let's say, dalam sebuah rumah tangga ada yang expert dalam finance, edukasi, berberes rumah, merawat anak, melakukan kegiatan fisik. Beban hidup akan ringan karena dibagi bersama. Dan seorang individu bisa mendapatkan "paket yang lengkap"
Hehehehehehh [ngga gitu juga]
Namun penyakit menghancurkan kemungkinan-kemungkinan itu.
Meledaknya pertumbuhan penduduk makin melahirkan penyakit penyakit baru, penyakit endemik, penyakit global, menular dan mematikan. Memiliki pasangan lebih dari satu berisiko akan menghancurkan populasi manusia itu sendiri.
Jadi, mari bermonogami heheheeh
Bagaimana jika kita tidak bisa mendapatkan individu paket lengkap ?
Yaaa...
Saatnya kita gunakan kapabilitas 3% perbedaan DNA kita dengan simpanse ini.
Mari mencari momen-momen untuk membentuk afeksi.
Mari mencari cara untuk membangun finansial bersama
Mari mencari topik yang membuat kita bisa berkomunikasi dengan lancar [well ada milyaran variabel topik, sampe bangkotan pasti ada aja bahan buat ngobrol]
Mari mencari gaya untuk kebahagiaan jasmaniah bersama [awww,,,malu banget]
Jangan galau sampai mau mati kalau ditinggal pasangan, bukan berati diri sendiri yang buruk atau pasangan yang buruk. Hanya saja orang itu lebih baik untuk tidak bersamamu.
Jangan berkelahi sampai mati kalau tidak cocok.
Tidak cocok yaa jangan dipaksa. Kalau tidak bisa mencari jalan tengahnya yasudah cari jalan keluar aja.
Maaannnn we evolve since 1.2 million years later. Its our imperium still make you have kingdom animalia instinc ?
Meskipun masih diperdebatkan tentang asal muasal manusia, apakah jatuh dari langit, apakah seleksi alam berjuta juta tahun yang lalu, ataukah hasil experiment makhluk ekstrateresterial. Masih misteri. As always, tidak ada sejarah yang benar-benar kita ketahui duduk perkaranya, sejarah subjektif.
Namun harus kita akui bersama bahwa hal paling esensial yang dibawa manusia sejak dahulu hingga sekarang adalah pasangan.
Mari kita lempar prespektif kita di jaman Mesozoikum hingga Megalitik, ketika manusia hidup berkelompok untuk bertahan hidup. Manusia yang kebetulan evolusi luar biasa dari kingdom animalia tidak hidup monogami. Hal yang wajar apabila seorang pejantan alfa memiliki beberapa betina atau bahkan betina di satu koloni miliknya semua haknya. Mengapa demikian, mari kita berpikir dengan cara yang sangat sederhana pejantan memproduksi sperma jutaan sel setiap hari. Betina hanya beberapa ratus ovum setiap bulan. Maka probabilitas investasi keduanya akan melahirkan skema pejantan yang lebih mengutamakan kuantitas dan betina yang mengutamakan kualitas. Persamaan keduaanya adalah sama sama tak mau rugi. [Makhluk ekonom sejak pra aksara]
Banyak hewan yang melakukan poligami, yang paling menonjol adalah singa. Bedanya pejantan disini adalah makhluk gabut yang tugasnya ngewe sama betinanya, gakding canda.
Tugasnya adalah mempertahankan wilayah dan gelut dengan pejantan lain. Satu orang pejantan bisa punya 4-5 betina. Singa betina berburu, mengurus anak, mengajari anak-anak mereka menjadi pemburu.
Dalam sebuah penelitian [au ah risetnya sapa lupa, males buka buku, males nyari, di gugel gaada] mengatakan. Manusia sulit menemukan pasangan yang "fit in" a whole package. Komunikasi, afeksi, finansial, physicly. Semua tidak selalu bisa diampu oleh seorang individu. Kembali ke 1 juta tahun yang lalu, manusia berpoligami bertujuan untuk membentuk generasi yang kualitasnya lebih baik. Karena generasi selanjutnya akan menerima pendidikan dari lebih banyak figur dengan latar belakang ahli dan kapabilitas yang berbeda-beda.
Monogami adalah sistem yang dibuat sedikit memaksa, mungkin untuk mengendalikan populasi, menjaga garis keturunan, menghindari inses. Who knows [males cari referensi,,,yawda lah yaa]
Tapiiii banyak juga hewan yang bermonogami.
Lets say angsa, angsa hewan yang memiliki satu pasangan, sedihnya angsa hewan yang tidak bisa move on ceunah, jika pasangannya mati dia akan galau, mogok makan sampai mati.
Katak, katak hewan monogami, tapi katak jantan akan coitus dengan katak betina dari awal musim kawin sampai katak betina hamil. Yawlaaaa. Capek.
Elang Tiram, akan coitus dengan pasangannya 300 kali sehari selama musim kawin untuk menjaga betinanya tidak diambil pejantan lain.
Burung lovebird, akan bertengkar dengan pasangannya (ketika dijodohkan) sampai salah satu ada yang mati. Karena lovebird adalah monogami jadi sangat penting baginya kualitas dan kuantitas yang diinvestasikan. Agar tidak rugi. Monogami punya resiko.
Mungkin hidup akan lebih seru apabila society tidak di konstruk menjadi monogami, agama agama tidak menganjurkan memiliki satu pasangan jauh lebih baik. Let's say, dalam sebuah rumah tangga ada yang expert dalam finance, edukasi, berberes rumah, merawat anak, melakukan kegiatan fisik. Beban hidup akan ringan karena dibagi bersama. Dan seorang individu bisa mendapatkan "paket yang lengkap"
Hehehehehehh [ngga gitu juga]
Namun penyakit menghancurkan kemungkinan-kemungkinan itu.
Meledaknya pertumbuhan penduduk makin melahirkan penyakit penyakit baru, penyakit endemik, penyakit global, menular dan mematikan. Memiliki pasangan lebih dari satu berisiko akan menghancurkan populasi manusia itu sendiri.
Jadi, mari bermonogami heheheeh
Bagaimana jika kita tidak bisa mendapatkan individu paket lengkap ?
Yaaa...
Saatnya kita gunakan kapabilitas 3% perbedaan DNA kita dengan simpanse ini.
Mari mencari momen-momen untuk membentuk afeksi.
Mari mencari cara untuk membangun finansial bersama
Mari mencari topik yang membuat kita bisa berkomunikasi dengan lancar [well ada milyaran variabel topik, sampe bangkotan pasti ada aja bahan buat ngobrol]
Mari mencari gaya untuk kebahagiaan jasmaniah bersama [awww,,,malu banget]
Jangan galau sampai mau mati kalau ditinggal pasangan, bukan berati diri sendiri yang buruk atau pasangan yang buruk. Hanya saja orang itu lebih baik untuk tidak bersamamu.
Jangan berkelahi sampai mati kalau tidak cocok.
Tidak cocok yaa jangan dipaksa. Kalau tidak bisa mencari jalan tengahnya yasudah cari jalan keluar aja.
Maaannnn we evolve since 1.2 million years later. Its our imperium still make you have kingdom animalia instinc ?
Minggu, 22 Desember 2019
kenapa
Dengan
putus asa aku akan menjawab mengapa air laut asin.
air
laut asin semata-mata agar matamu perih ketika kamu menyelam dan lupa pakai
googles. Air laut asin semata-mata agar kulitmu kering dengan sempurna ketika
kamu kelamaan berenang. Air laut asin semata-mata untuk memperparah sakitmu
jika kamu terluka. Air laut asin semata-mata untuk mengacaukan lidahmu ketika tak
sengaja ia tertelan. Laut mengapa asin, karena laut ingin menjauhkan dirimu
darinya. Jangan berharap lebih, milyaran karang yang kau lihat di
akuarium-akuarium raksasa buatan itu hanya untuk kau lihat, ia sengaja menari
untukmu, tarian terbaiknya namun begitu jauh, begitu asin. Ia sengaja, makin
jauh, makin indah, makin asin, makin tak bisa kau sentuh makin tak bisa pula kau
miliki. Illegal.
Kupikir-pikir
menahun aku telah berhenti menyelami laut, karena tubuhku selalu terluka, lenganku,
punggungku, kakiku, jari-jariku, dan menahan sakit karena terkena air asin bukanlah
kapabilitas yang ku miliki. Menahan sakit bukanlah kekuatan super. Menahan sakit
adalah manusiawi dan sangat manusiawi pula menghindari sesuatu yang membuat
kita terluka. Musa membawa umatnya melewati laut merah, sebelumnya ia membelah
laut. Menjadikan air-air itu dinding yang tak bisa menyentuh bajunya dan baju
umat-umatnya, Musa tidak berlayar atau berenang, musa menguras laut lalu
menjadikan sarana melarikan diri dari tiran.
Johannes
bapak pembaptis bukan dibaptis dilaut, tapi di sungai Jordania. Air laut akan
membuat matanya perih dan kulitnya lengket. Johannes lebur dalam nama Kristus
bukan diperantai laut yang beriak-riak namun lewat sungai, sungai yang sejuk dan
menganugerahinya nama baru.
Tempat
penyucian jiwa-jiwa yang malang, jiwa yang murka, jiwa yang gundah di India
bukanlah Laut, tapi sungai Gangga, dosa manusia luruh hingga air sungai keruh,
kotor dan berbau. Namun semua orang menyucikan jiwa mereka disana, di sungai
bukan di laut.
Siapa
yang punya cinta dan kasih laut ? nelayan ? mereka harus mengembangkan layar,
membersihkan lambung kapal dari air yang masuk, memilih motor penggerak super
agar bisa luwes menghadapi arus.
Siapa
yang punya cinta laut ? ikan ? ikan menjauhi arus, badan mereka tak sanggup
melawan arus, mereka juga akan secepat mungkin lari dari badai, hidup mereka
terancam.
Hanya
pantai yang punya cinta kasih laut, pantai yang tak pernah pindah, pantai yang
diam dan laut tak pernah absen mendatanginya kembali, lagi dan lagi. Tak peduli
seberapa jauh laut berlari cintanya hanya milik pantai yang diam dan ia selalu
rela untuk menepi. Memeluknya erat. Aku iri.
Sabtu, 21 Desember 2019
TU-SYE
Mari
kita ucapkan selamat pada ekosistem yang gemar menseleberasikan berbagai hal
ini. Menandai angka-angka khusus di kalender yang akan menjadi hari dimana
tradisi dan budaya membakar dupa, meniup lilin, membersihkan rumah, menyalakan
pelita, melepas lentera, atau sebaliknya, hari dimana berdiam, mengharamkan
api, menolak nasi, meninggalkan listrik, menanggalkan peluk cium sementara dan
mengkuduskan sunyi. Hari ini adalah hari dimana sorai ditebar di udara, di
jalan kecil yang riuh, berderet deret pertokoan dan diselingi pohon-pohon
akasia ramai sahutan pemilik kedai kopi di ujung jalan yang memanggang biji
kopi arabika dengan tungku berusia sama ketika kopi mulai ditanam di
tanah-tanah tuan tanah. karbon dioksida pada biji kopi yang kecil dan utuh
beradu mesra dengan wangi roti yang baru keluar dari oven, wangi mentega dan
biang dari jeruk bali mengantarkan imaji renyah roti berbalut gurih mentega,
toko roti dan kedai kopi itu sudah semacam duet abadi turun temurun. Berurutan
dari duet aroma di ujung jalan toko bunga yang setiap hari didatangi lebah
hingga sang pemilik sudah akrab dengan sengatan, semacam suntik antibiotic
rutin, toko baju yang suara penjualnya lebih nyaring dari nada tinggi inka
Christy, toko permen yang tak pernah sepi dari anak-anak yang berlarian dan
saling menjerit berebut permen edisi khusus yang dibuat dengan tangan sendiri
oleh sang pemilik atau beradu permen siapa yang paling manis, toko sepatu
kulit, toko mainan, toko elektronik, kedai jamu tradisional di ujung jalan yang
lain dibangunlah pos untuk jaga malam, meski terbilang aman tradisi jaga malam
diadakan bukan hanya untuk menahan kantuk demi kententraman warga, namun untuk
bercengkerama season 2. Di jalan kecil yang riuh, dengan koalisi lusinan aroma
dan duet maut suara orang-orang diantaranya, alam bahu-membahu mencipta
rutinitas kecil disela hiruk-pikuk yang ada.
Perempuan
itu bukan berasal dari pemukiman setempat, rumahnya jauh, andai ia bisa punya
kapabilitas teleportasi dia akan sangat bersyukur karena tinggal di keramaian
seperti itu membuatnya sakit kepala, dia tak pernah ingin ada disana, tak
pernah sama sekali, nasib sial membawanya berjibaku dengan aroma kopi, wangi
roti, harum bunga dan teriaka-teriakan sepanjang jalan, jika petang sekumpulan
bapak-bapak menggelar temu kangen di pos keamanan setiap hari, dunianya tak
pernah tenang, memakai penutup telinga setiap hari tidak bagus dipandang,
lagian bakteri akan berpesta di telinganya. Perempuan itu tak punya pilihan
karena dia harus bekerja disana. Mengumpat sepanjang jalan baginya sudah
seperti merapal mantra, menghitung hari dimana ia akan meninggalkan tempat itu
tak pernah absen ia lakukan.
Di
hari yang dingin bertepatan dengan ulang tahun kota, mimpi buruk ganda dialami
oleh perempuan itu. Dihadapannya duduk seorang pria yang sejak tadi belum
berhenti bicara, dua jam berharganya terbuang di kedai kopi untuk mendengarkan
pria tanggung dan pemilik kedai berkelakar kesana kemari, kopi di cangkirnya
dingin, belum ia sentuh sejak sesapan pertama, ia tak paham bagaimana cara
seorang manusia bisa berbicara tanpa kehabisan topik, otaknya tentu benar-benar
cepat memproses informasi. Perempuan itu melihat draft yang ada di tangannya,
ia mendengus kesal, ini masih toko pertama, masih ada 12 toko lagi di sepanjang
jalan itu, ia tak menyangka memberikan kartu ucapan selamat bisa memakan waktu
seharian penuh. Langit menggelap dan draft itu baru saja habis dibagikan, ia
menatap pria itu dengan kesal, baginya berkumpul dengan orang asing adalah awal
dari penyakit, penyakit mental. Dan ia tak suka mentalnya terganggu. Kemudian
mereka beristirahat di pos jaga, saling memberi jarak. Perempuan itu menghela
nafas panjang, lututnya sudah tak lelah ia berniat pulang.
“Tukang
sate ter-enak sedunia sebentar lagi lewat, kau tak akan menyesal”. Ujar pria
itu yang membuat lawan bicaranya mengurungkan niat karena ia kelaparan.
“Kenapa
kamu suka sekali bicara?”
“Kenapa
kamu hobi sekali diam, ku kira kamu bisu”
“Aku
bicara hanya untuk hal-hal yang penting”
“Kalau
begitu, aku tak pernah diam karena segala hal di sekelilingku penting”. Obrolan
mereka terhenti dengan datangnya gerobak sate yang di dorong oleh seorang pria
paruh baya. Percikan bara dan tebalnya kepulan asap membuat mereka kembali
saling terdiam, tidak ada yang berselera bicara hingga dua porsi sate
diantarkan pada mereka. Pria itu menarik napas panjang dan mulai bercerita
tentang orang-orang yang ada di lingkungan itu, tentang pemilik kedai yang
setiap hari ulang tahun istrinya akan membuat es kopi kesukaan mendiang
istrinya yang meninggal karena kanker, penjual roti yang memakai biang roti
berumur lebih tua dari umurnya sendiri, suami-istri pemilik toko pakaian yang
seorang vegan, pemilik toko permen yang merangkap menjadi rabbi yahudi, toko
sepatu yang dulu pernah terbakar hingga kaidah bahasa, bahasa yang menurutnya
ada secara alamiah dan genetis, ada sejak manusia menjadi fetus kemudian dibawa
setiap individu yang lahir kedunia. Kemudian hingga perjalanan bahasa yang
berasal dari tiruan suara hujan, derik pohon, guntur, deras aliran sungai, riak
kolam, ributnya angina hingga marahnya badai ber-evolusi bersamaan dengan
evolusi intelektual manusia. Bahasa yang menjadi kreol hingga pidgin kemudian
menjamur begitu saja pada populasi 7 miliyar orang.
Pupil
perempuan itu melebar, ia berhenti mengunyah sejak tusukan sate ke lima, di
piringnya masih ada 5 tusuk sate, di detik itu ia ingin malam lebih panjang,
lututnya tiba-tiba lelah, atau sate yang ada dihadapannya tidak bisa habis
seperti anak panah dewa.
Perempuan
itu bangun lebih awal, mandi lebih cepat, menyikat gigi lebih lama,
menghidupkan tape recorder dengan lagu-lagu tAtu dan culture club
berulang-ulang. Tiga kali ia mengganti tatanan rambutnya, dua kali ia berganti
baju kemudian berlari tergesa hingga terseok hak tingginya sendiri. Di depan
kedai kopi seseorang yang membuatnya terjun bebas semalam sedang
berbincang-bincang dengan pemilik kedai, ia menghampirinya, pemilik kedai
tersenyum dan memanggil namanya. Mereka berjalan melewati pertokoan yang mulai
riuh, sepanjang jalan di tiap-tiap kedai, tiap toko memanggil nama perempuan
itu menawarkan untuk singgah, sesekali ia melipir, untuk mencoba permen,
mencoba es-krim di pagi yang menggigil, melihat bunga atau membeli camilan.
Hidup perempuan itu terjungkir, rutinitasnya berubah, tidak. Lebih tepatnya
kacau. Ia tak pernah menyadari, rutinitas yang berubah adalah cikal bakal
bencana.
Musim
akan berganti, perempuan itu tak pernah menghitung berapa lama sudah ia
habiskan berjalan bersisian dengan pria yang tidak pernah absen menjejalinya
dengan ratusan cerita, yang ia juga tak perduli apakah itu fiktif atau fakta, ia
berhenti menghitung hari, ia berhenti berharap di mutasi dari kota itu, ia
berhenti bertanya-tanya mengapa hidupnya begitu. Yang mulai ia hitung adalah
waktu dan durasi. Berapa jam lebih sekian menit lagi ia harus mandi, menyikat
gigi, menata rambut, mengenakan baju, memakai sepatu kemudian menjumpai pria
yang mengawali harinya dengan meminum secangkir kopi panas dari kedai kopi yang
pemiliknya belum pisa lepas dari patah hati. Perempuan itu tak lagi butuh
alarm, jam wekernya pun ia sudah lupa berada dimana, pengingatnya adalah
nalurinya sendiri, insting genetis mamalia pemburu. Hari itu rutinitas paginya
sama, lagu Karma Chameleon masih berputar, ia sudah berlari sambil mengenakan
sepatu barunya, ia terburu-buru. Tape recordernya lupa ia matikan. Ia tiba di
kedai kopi tepat waktu, waktu yang tepat seperti biasanya ia menjumpai pria itu
yang masih menyesap kopi sambil berbincang dengan pemilik kedai. Namun pria itu
tidak disana, matanya menyapu ke sepanjang jalan, ia juga tidak ada di toko
roti, ekor matanya menangkap bayangan pria itu di bahu jalan yang lain,
berjalan sendirian. Ia melambaikan tangan, memanggil namanya dengan kencang,
pria itu menoleh. Perempuan itu melempar senyum lebar. Namun pria itu abai,
berpaling, ia tak pernah menoleh ke belakang.
Sepanjang
jalan perempuan itu termenung, membisu, bertanya-tanya apa yang salah
dengannya, semua ia lakukan sebagaimana ia lakukan setiap hari, ia bangun
seperti biasa, mandi seperti biasa, menyikat gigi seperti biasa, bernyanyi
seperti biasa. Kemudian ia ingat, tape recordernya masih menyala, apakah tape
recorder mempengaruhi peristiwa hari itu, ah sepatunya juga baru, apakah sepatu
baru membuat pria itu enggan berbicara dengannya ? puluhan pertanyaan menumpuk,
berlapis-lapis memenuhi otaknya. Perempuan itu mulai menghitung hari, judulnya
hari kebungkaman, berhari-hari pria itu memilih bahu jalan yang berbeda, tidak
pernah menoleh lagi padanya, perempuan itu tetap di jalan yang sama, menatap
dari kejauhan, sambil bertanya-tanya. Sejak itu Ia baru tersadar rutinitas yang
berubah adalah cikal bencana.
Gelombang
panas akan lewat, penduduk dihimbau untuk mempertahankan imunitas tubuh karna
perbedaan tekanan udara, suhu dan cuaca bisa berdampak buruk bagi tubuh.
Perempuan itu pulang lebih awal, ia tak mampir kemana-mana yang ia perlukan
hanyalah berganti baju, tidur di ranjangnya yang hangat dan merenungi apa yang
sebenarnya terjadi. Untuk pertama kalinya kota itu menjadi diam. Seluruh orang
tak bersuara, jalanan kosong, jangkrik tidak berderik, tidak ada suara kepakan
sayap burung atau suara tokek yang bersahutan bahkan angin tak lewat. Di
sepinya kota, listrik padam.
Jalanan
mulai riuh, aroma-aroma kopi yang disangrai, roti yang baru dioven, bunga
--peony yang baru datang, warna-warni permen, teriakan penjual baju, penjual es
krim, minuman ringan memenuhi jalan. Kemudian seorang pria lewat berkalung
catatan kecil, ia menulis sesuatu di catatannya kemudian menghampiri setiap
toko, semua dari mereka mengenalnya, mereka menatap heran, tidak ada yang
bertanya ada apa, hingga pria itu menghilang di ujung gang. Pria hangat yang
suka menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama mereka, bertukar cerita,
mendengarkan keluh mereka, menjadi tuli. Kemudian datang seorang perempuan
berbaju rapi mengenakan sepatu hak tinggi, membawa tongkat, perempuan itu
menyapa mereka hangat namun tatapan matanya kosong. Perempuan yang mereka kenal
menjadi ramah akhir-akhir itu menjadi buta. Langit telah runtuh di kota itu.
Orang
bisa menghardik harimau yang datang dari depan, namun siapa yang mampu
menghindari takdir yang datang dari belakang. Menahun perempuan itu melewati
pertokoan yang ramai, orang-orang disana menyambutnya hangat terkadang ia
mendengar orang-orang memberi tanda bahwa pria yang dulu selalu berjalan
bersamanya ada bersama mereka, namun ia memilih diam, dan berlalu, mereka
sama-sama tahu tak mungkin lagi bagi mereka saling tegur sapa, mereka tak tahu
caranya. Perempuan itu berdiri di atas kebimbangan setiap hari pada akhirnya ia
tahu, hidup adalah panggung yang mengerikan tidak ada pemeran pengganti air
mata adalah air mata, darah adalah darah, sakit adalah sakit, semua dihadapi
sendiri. Ia telah lama pasrah dengan hidupnya, namun ia tetap bersikukuh dengan
pria yang selalu menyesap kopi di kedai pria tua patah hati setiap pagi,
hidupnya tetap mengorbit pada keyakinan suatu hari bisa melihat kembali agar
bisa berbincang dengan pria itu, dia akan belajar bahasa isyarat lebih tekun,
lebih sering, lebih banyak daripada orang-orang di pertokoan. Namun jika tidak
lagi bisa, cukup sekali seumur hidupnya, ia ingin sekali dari sekian juta
peluang dan kesempatan bisa mengucapkan selamat berpisah dengan baik dan benar.
Air matanya berderai, tidak ada yang menghapusnya, tidak pula tangannya, tapi
suaranya tersembunyi, menyayat hatinya sendiri.
Perempuan
itu berteduh di pos jaga, tetes gerimis menusuki kulitnya, ramalan cuaca telah
salah, katanya mala mini langit cerah sehingga bisa melihat komet melintas. Ia
mendengus kesal, ia tidak bisa pulang karena takut jalanan licin. Tiba-tiba
hujan turun dengan deras, bulirnya seperti kerikil yang jatuh dari langit dan
makin bertambah deras dibarengi dengan hawa dingin yang menusuk, teriakan orang-orang
pertokoan menjadi samar, dibisukan hujan, angin lewat menghempas
ranting-ranting pohon, suara dentuman berulang kali terdengar, suara ombak yang
menabraki karang berpuluh-puluh mil pun hingga terdengar. Langit menjadi putih,
cumulounimbus bergulung-gulung, petir berteriak bersahutan, hujan tak lagi
jinak, ia seperti tirai yang membatasi jarak pandang tiap manusia. Di malam
yang berisik dan mencekam orang-orang di pertokoan bungkam, hening. Perempuan
buta itu makin takut, ia benci sendirian, tubuhnya menggigil, ia tidak bawa
jaket, air matanya sudah ada diujung pertahanan bersiap untuk meluncur tak
terkendali.
Dari
kanan tubuh si Buta ia merasakan ada tangan yang menarik lengannya, ia
terkesiap
“siapa
ini?” tidak ada jawaban.
“siapa
?”. ia menjauh. Tangan itu makin keras menarik tubuhnya.
“siapa?”
air matanya mulai leleh. Lalu ia merasakan hangat tubuh mendekati wajahnya,
mengusap lelehan air mata di pipinya.
“Ini
kamu ?”. tidak ada jawaban
“Kenapa?”.
Tidak ada jawaban. Si Tuli menggamit tangannya, tidak berkata apa-apa, hanya
terus menatapnya lurus-lurus. Kemudian ia merengkuhnya. Erat.
“Apa
kabar?” tanya perempuan itu, tidak ada jawaban. Ia lupa orang tuli tentu tidak
dapat bicara dan bahkan suaranya tidak akan terdengar karena gemuruh badai ini.
Ia diam. Pria itu melepaskan rengkuhannya. Menarik tangan perempuan di
hadapannya, menempelkan jari-jarinya di telapak tangan perempuan itu, pola demi
pola.
Di
tengah amukan badai di darat dan di laut, di derik angin, kabut tebal yang
dibawa hujan serta petir yang berkompetisi siapa yang paling keras suara
galaknya. Dua anak manusia yang kehilangan arah di persimpangan ciptaan mereka
sendiri bertukar cerita. Kota yang ribut karna badai hingga tak ada satu
orangpun yang berani bicara mereka bertukar cerita membentuk hangat di kurungan
tembok jaga yang gigil.
Ada lebih dari 7000 bahasa di seluruh penjuru bumi.
Ada satu bahasa yang digunakan di satu benua. Ada 839 bahasa yang di gunakan di sebuah pulau.
Ada bahasa yang dituturkan hampir 7 miliar orang.
Ada bahasa yang hanya memiliki 36 penutur.
Orang memahami bahasa sebagai sekumpulan simbol, kode, bunyi, fonem yang memiliki makna, yang disepakati yang dipakai untuk berkomunikasi.
Untuk bertanya, untuk menjawab, untuk meminta, menyuruh, memerintah, menghasur, mengajak, bernegosiasi, bertengkar, berdamai. Segalanya.
Tapi dunia manusia bisa rancu, sudah pernah chaos dan bisa chaos lagi kapanpun karna bahasa. Ego manusia dan segala variabelnya tidak semua mampu dijembatani oleh bahasa. Manusia tersusun dari naluri yang kompleks, saling tumpang tindih dan paradoks, milyaran maksud, milyaran angan tak semua mampu ditanggung bahasa. Jadilah maksud-maksud tersebut dipaksa untuk diwakilkan oleh bahasa-bahasa yang sudah disepakati. Padahal semua juga tahu tak semua botol minum memiliki tutup yang sama.
Ranculah komunikasi manusia dengan itu.
Manusia makin sombong karena evolusi, dan semakin menjadi sombong dari hari ke hari karna sudah pergi ke bulan, sudah menempatkan teleskop super canggih di antariksa, sudah mengirim pesawat tanpa awak di interstellar yang siap menjelajahi jagat raya, sudah bertani di mars, sudah menciptakan bisa menciptakan penyakit endemik maupun penyakit global beserta antidotnya.
Manusia melompat sangat cepat dan terlalu jauh.
Meninggalkan bahasa pertama mereka.
Bahasa yang dapat menyampaikan milyaran variabel tujuan, maksud, keinginan bahkan tanpa perlu melibatkan langit-langit mulut, melibatkan laring, melibatkan lidah, melibatkan gigi atau bahkan membuka mulut.
Bahasa pertama tiap ciptaan yang lahir di dunia. Bahasa sentuhan.
Ada satu bahasa yang digunakan di satu benua. Ada 839 bahasa yang di gunakan di sebuah pulau.
Ada bahasa yang dituturkan hampir 7 miliar orang.
Ada bahasa yang hanya memiliki 36 penutur.
Orang memahami bahasa sebagai sekumpulan simbol, kode, bunyi, fonem yang memiliki makna, yang disepakati yang dipakai untuk berkomunikasi.
Untuk bertanya, untuk menjawab, untuk meminta, menyuruh, memerintah, menghasur, mengajak, bernegosiasi, bertengkar, berdamai. Segalanya.
Tapi dunia manusia bisa rancu, sudah pernah chaos dan bisa chaos lagi kapanpun karna bahasa. Ego manusia dan segala variabelnya tidak semua mampu dijembatani oleh bahasa. Manusia tersusun dari naluri yang kompleks, saling tumpang tindih dan paradoks, milyaran maksud, milyaran angan tak semua mampu ditanggung bahasa. Jadilah maksud-maksud tersebut dipaksa untuk diwakilkan oleh bahasa-bahasa yang sudah disepakati. Padahal semua juga tahu tak semua botol minum memiliki tutup yang sama.
Ranculah komunikasi manusia dengan itu.
Manusia makin sombong karena evolusi, dan semakin menjadi sombong dari hari ke hari karna sudah pergi ke bulan, sudah menempatkan teleskop super canggih di antariksa, sudah mengirim pesawat tanpa awak di interstellar yang siap menjelajahi jagat raya, sudah bertani di mars, sudah menciptakan bisa menciptakan penyakit endemik maupun penyakit global beserta antidotnya.
Manusia melompat sangat cepat dan terlalu jauh.
Meninggalkan bahasa pertama mereka.
Bahasa yang dapat menyampaikan milyaran variabel tujuan, maksud, keinginan bahkan tanpa perlu melibatkan langit-langit mulut, melibatkan laring, melibatkan lidah, melibatkan gigi atau bahkan membuka mulut.
Bahasa pertama tiap ciptaan yang lahir di dunia. Bahasa sentuhan.
Selasa, 17 Desember 2019
PEREMPUAN YANG TIDAK MENGENAL GARIS FINISH
Tulisan saya dedikasikan partner membacoti hidup
masng-masing di depan alfamidi sambil makan pop mi. ninda.
Setiap perlombaan adu jarak dan
kecepatan memiliki titik akhir. Titik dimana kontestan bisa bernafas lega atau
tersenyum gembira. Hidup adalah sebuah perjalanan dan pergulatan dengan waktu.
Apakah hidup punya garis finish ? iya bagi sebagaian orang. Tontonan anak
perempuan di usia dini kebanyakan adalah Barbie, Snow White, Cinderella,
Mermaid, Mulan, Aurora dsb. Dalam kisahnya mereka menjalani masa sulit dan masa
sulit berakhir dengan datangnya pangeran. Scene ditutup adegan pernikahan dan
woilaa. Tamat. Sedari kecil cerita-cerita tersebut seringnya di asosiasikan
sebagai life goals. ‘kesusahanmu akan berakhir jika kau menikah dengan lelaki
impian’.
Bagi
sebagian besar perempuan hal itu adalah kebenaran mutlak dan tidak bisa
diganggu gugat. Namun ada pula yang menganggap pernikahan adalah sebuah prosesi
yang akan memenjarakan hidup selamanya. Mimpi buruk nomor wahid bagi
orang-orang yang menolak formasi superior-inferior seperti aku dan
perempuan-perempuan yang tumbuh terdomestikasi. Sudah kujelaskan di postingan
sebelumnya sedikit ttg background ku. Menurut Haideh Moghissi “Ungkapan (ekspresi) perempuan atas
keinginan-keinginannya dan usahanya untuk memperoleh hak-haknya terlalu sering
dianggap bertentangan dengan kepentingan-kepentingan laki-laki dan melawan
hak-hak laki-laki atas perempuan yang telah diberikan oleh Tuhan”. Jadi
berbicara tentang pernikahan…….. aduh.
Pemberontakanku terhadap dominasi laki-laki dan
orang-orang yang meyakini bahwa perempuan harus dirumahkan terkadang membuatku
depresi kuadrat, karena aku tidak menemukan teman untukku berbagi keresahan
yang sama. Hingga satu hari aku punya partner untuk berbagi keesahan dan
misoh-misoh bersama. Hidup kami aneh karena orang yang mengkritisi plihan kami
adalah mereka-mereka sesama perempuan. Bagaimana bisa ? Saya membaca sebuah
suluk bertanggal 1823. Sebuah karya sastra sejarah berumur kurang lebih 200
tahun. Karya sastra tersebut merupakan ambisi seorang raja di Jawa untuk
mengumpulkan kembali budaya, kondisi sosial, pendidikan, religi dan ekonomi
pasca penyitaan 17000 lebih karya sastra dan catatan budaya oleh Belanda dari
Keraton. Penggambaran perempuan dalam karya sastra tersebut hanyalah sebuah
objek dari hasrat seksual, citra dari kemampuan finansial, pendengar yang taat
dan pengamat sejati. Perempuan tidak berdiri di ruang public bahkan seorang
janda harus dirumahkan di rumah dalam. Tanggung jawab perempuan semata-mata
pada urusan rumah dan suami, setelah hampir 200 tahun berlalu ideologi ini
tetap terawat dengan baik.
Saudara saya berkata bahwa bersih-bersih rumah, melayani
suami dan merawat anak adalah ladang pahala, betapa perempuan dimudahkan untuk
mendapat pahala oleh Tuhan. Bitch no, bersih-bersih rumah, merawat anak dan
melayani suami bukanlah perkara yang mudah karena tidak semua perempuan
memiliki bakat mengasuh, bakat memasak, bakat merapikan rumah. Bila kita
melihat restoran-restoran china laki-laki akan ada di depan tungku panas dan panci
besar hingga wajan. Di dunia yang lebih modern laki-laki berjibaku di dapur
hampir ada di semua jenis rumah makan. Laki-laki sebagai perawat juga ada di
seluruh rumah sakit. Bibiku sejak aku berusia 2 tahun bekerja di konstruksi
bangunan, pagi dia masak untuk semua anak buah suaminya, siang ia bekerja
berat, memindahkan pasir berton-ton dari truk yang baru datang ke lantai 15,
mengoperasikan alat-alat berat, membuat adonan semen, pasir dan air kapur.
Hingga sekarang usianya hampir kepala 7. Ekonomi bukanlah alasannya, uang
suaminya bisa membuat ia beli tas coach, calvin klein, furla dan sepatu tory bunch jika ia mau. Aku
bertanya mengapa, jawabannya adalah “kalo diem aja badanku pegel-pegel”. Bibiku
tidak bisa mengasuh anak-anaknya, semua anaknya ia titipkan, ketika ia
mengasuhku barang sehari nenekku dibuat menangis karna pipiku lebam digigit bibiku
sendiri, aku menangis 2 jam. Bekas lebam itu tidak hilang 3 hari. Dari sini
kita tahu, tidak ada pekerjaan yang mengkhususkan apakah itu pekerjaan feminine
atau maskulin, tidak ada border gender dalam bekerjaan, perbedaan fisik
bukanlah alasan.
Setiap hari libur ninda bertengkar dengan ibu nya, karena
setiap hari libur ninda akan mendapat pelajaran tentang bagaimana menjadi
perempuan yang baik dan benar menurut ibunya. Pelajaran menyapu, mengepel,
memasak, melipat baju mungkin jika aku ada dirumah aku akan mengalami hal yang
sama. Menurut ibu ninda perempuan yang baik harus bisa memasak agar suaminya
tidak lari kemana-mana, perempuan harus bisa beres-beres rumah karena itu modal
awal berumah tangga. Bahkan ibunya memberi ninda modal membeli skincare dan ke
salon agar ninda punya pacar secepatnya. (Dalam kingdom hewan yang melakukan
tarian atau aktivitas demi menarik pasangan adalah pejantan,, huuu ku tabok ibu
ninda pake sepeda hias) Sesungguhnya apasih menikah ? mengapa seakan akan
menikah merupakan garis finish tiap-tiap individu yang dilahirkan ke dunia ?
padahal pasca menikah akan timbul variable-variabel masalah baru, dan susahnya
adalah tidak pernah ada mata pelajaran untuk mengatasi kehidupan pra-nikah.
(yaa beruntunglah sekarang bkkbn sedang merumuskan program tentang kesiapan
pernikahan bagi calon-calon pengantin).
Aku dan Ninda menyayangkan 7-11 tidak buka di Indonesia,
lebih tepatnya bangkrut. Karna menu kami mengobrolkan hal-hal underrated
seperti ini tidak pernah ganti. Se-cup pop mie rasa super pedas kadang ditambah
pilus garuda atau sosis dan sebotol teh pucuk. Ninda pernah membuat list
hidupnya dulu sekali, sebelum ia tahu banyak hal, ia merencanakan hidup
sebagaimana hidup yang ia dengar dari lingkungannya, dari kartun yang ia
tonton. Sebelum ia menyadari banyak hal, sebelum ia paham tiap-tiap orang itu
rumit, semua orang tidak berbagi skema dan stigma yang sama dengan dirinya.
Sebelum ia paham bahkan keluarga kecilnya sendiri bukanlah keluarga impian yang
ia dambakan. Setelah berbagi pilus, sosis dan minum karna pop mie super pedas
ini menyiksa sekali, ninda memutuskan untuk berlari. Pelarianku kumulai sejak
aku menduduki bangku kelas 4 sd, aku menyadari hidupku ada yang salah. Begitu
pula Ninda. Kenapa kita harus berlari dan menjauh dari society ? karena sejak
akar rumput society memaksakan norma bias yang tidak jelas. Orang tua di Asia
terobsesi dengan mengendalikan anaknya, mereka menganggap pendidikan mereka
berhasil jika anak menuruti apa yang diminta oleh orang tua. Konsep ini kusebut
dengan orang tua durhaka. Yang kemudian mendapat protes keras dari teman
dekatku sendiri. Yaaa terserah, apa yang selama ini kita yakini benar mau kita
sudah berdarah-darah dibuatnya akan tetap terlihat benar. Dan yasudah.
Pemberontak terbesar dan tersangar dalam hidupku ada dua
orang, dua orang gila yang membuatku tidak merasa kesepian, tidak merasa yang
kulakukan salah, tidak merasa yang kuyakini selama ini melanggar asas. Mie kami
habis, hanya tertinggal kuah pedasnya saja. Biasanya kami akan meneguknya
sampai tetes terkahir, dan membiarkan pedasnya membakar tenggorokan, gakding
canda, kami buru-buru minum teh pucuk dingin kami. Hampir setiap keluarga
berkonsep sama dengan keluargaku dan Ninda, bahkan keluarga Riris dan Nina
lebih strict, tapi dua nama diatas menentang kami luar biasa. Hidup adalah
perjalanan yang panjang, jika menikah dan menjadi bagian dari konstruk domestic
sekian abad adalah garis finish maka kami akan memilih terbang. Tapi aku lebih
lega, temanku bertambah satu, aku tak perlu bertelfon dengan sepupuku atau
curhat dengan Juple. Satu sudah lebih dari cukup.
Langganan:
Komentar (Atom)