Senin, 09 Oktober 2017

DONGENG



Aku bukan hanya mendengar dan membaca kisah Ariel Little Mermaid, melainkan melihat filmnya ketika aku masih sekolah dasar. Hebatnya film itu seseorang bisa menembus takdir, mengarungi lautan hanya dengan berenang, melawan arus dan amukan papanya Neptunus, kemudian menukar ekornya dengan kaki, bernyanyi, menikah dengan pangeran dan bahagia selamanya. Bahagia yang dengan sangat mudah diraih. Itulah yang dilihat dan dijadikan semacam rule of the life bagi anak kecil dengan lolipop, i did.
                Aku terlebih dahulu terbangun daripada yang lain, aku tahu bahwa kisah sesungguhnya dari putri duyung kecil adalah, dia menyelamatkan pangeran, bernyanyi untuknya kemudian ia menukar ekornya lewat penyihir dengan syarat ia punya waktu beberapa hari dan ketika waktunya habis dan pangeran tidak mencintainya ia akan hancur menjadi buih yang terjadi adalah putri duyung tidak lagi bisa bernyanyi karena dia bisu, ia hanya bisa menari meski setiap langkah yang diambilnya terasa menusuk bagai pedang. Ketika waktunya habis ia mengutarakan isi hatinya dan pangeran tidak suka padanya karena dia bisu dan tidak bisa bernyanyi, pangeran menikahi seorang putri dari kelasnya pada suatu malam sang putri berniat meracuni pangeran. Namun yang dilakukan putri duyung malang adalah meminum racunnya kemudian terjun ke lautan dan menjadi buih.
                Buih, dengan menjadi buih maka masih adakah perasaan cintanya ? dalam wujud apa ? buih adalah pemusnahan yang hakiki, apakah cintanya akan termiliki oleh lautan lepas ? adakah yang lebih tragis dari ini ?. Apa maksud seseorang mengganti dongeng yang serealistis itu dengan sesuatu yang lebih khayal ? bermaksud semua orang punya pikiran “oh okay dont worry this is will be nice, we will happily ever after?”. Kenapa seseorang merubah dongen dan membuat orang lain berangan-angan hidup semudah itu. Namun hal itu juga tidak memberikan apapun di masa depan bagi seseorang. Seseorang tak harus menyebrangi lautan atau membelah hutan, ketika hujan datang seseorang akan mengurungkan niatnya, gerimis akan membuat bajunya  basah, sepatu kotor penuh lumpurdan emosi meledak-ledak yang entah harus menyalahkan siapa. Tak perlu menyebrangi lautan, seseorang yang mendobrak batasannya ia belum tentu diaja menari di atrium dan altar, ia bisa ditinggalkan di sebuah jalan sendirian ketika tak menjadi sesuatu yang diinginkan. Tak perlu menyebrangi lautan, seseorang yang menanggalkan dirinya dari suatu masa akan dilupakan jika seseorang lain dengan suara merdu datang. Sialnya dia bukan putri duyung yang ketika melompat ke laut akan ditangkap neptunus, menjadi buih dan menyatu dengan gejolak samudra. Di dunia nyata seseorang yang menjatuhkan diri ke laut lepas akan busuk dan menjadi makanan plankton, ikan dan veterbrata lain. Tak peduli sedalam apa perasaannya, sehalus apa ia memberi isyarat. Meski cintanya lebih luas dari samudra itu sendiri, laut tidak akan menjadikannya buih. Tidak sebelum ia melewati fase pembusukan dan penguraian.

Jumat, 27 Januari 2017

BUTTERFLY EFFECT

Bisakah dikatakan bahwa hidup ini aneh, punya variabelnya sendiri, lebih rumit dari susunan sel otak. Sedemikian hebatnya efek domino dari kepakan sayap kupu-kupu menghantar aku pada malam-malam bersama manusia masokis lain, pulang tenah malam dengan hati yang meledak-ledak hingga lumatan bibir penanda kerinduan. Itulah yang sering melapangkan hatiku, mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Seperti bagaimana jika aku tidak memberitahunya pinku berganti ?. Pada akhirnya dia tidak bisa menghubungiku. Bagaimana jika aku tak mengirimi surat ?. Dia tidak akan mengenalku. Bagaimana jika aku lolos dengan pilihan pertamaku ? Tentu daja aku tidak pernah bertemu dengannya. Bagaimana jika aku tidak membahagiakan diri selama 3 tahun, untuk menjadi bagian "yang katanya kelas buangan, namun selalu membanggakan"?. Aku tak akan membuat pilihan-pilihan itu. Bagaimana jika aku tak rela dianggap tidak berguna di mata teman-teman lama karna dianggap bodoh sehingga masuk sekolah yang katanya tertinggal "padahal pengeruk medali emas di O2SN hingga PON" tentu akan mendaftar di kedokteran, hukum dlsb. Atau bahkan hidup menggila karna hanya staknan. Bagaimana jika aku tak berjuang mati-matian untuk tidak masuk SMP favorite ? Aku akan menjadi tikur kerdil dan tidak pernah mendapat satupun prestasi yang bisa mengantarkan aku diterima di SMA favorit tanpa tes. Bagaimana jika aku tak pernah jatuh cinta dengan hibrida setengah arab dan setengah siluman ular piton reticulatus? Aku tidak akan pernah punya effort lebih untuk menjalani hari-hari berat masa-masa ababil, atau bahkan mungkin aku sudah puluhan kali ganti pacar, lalu lenyap begitu saja. Bagaimana jika aku tak dekat dengan teman semasa sekolah dasar yang pada akhirnya menjadi partner kencan di tempat les ? Aku tak akan pernah belajar melupakan dan mengikhlaskan. Bagaimana jika aku tak pernah bertemu dengan teman masa kecil, teman SMA yang jadi idola banyak perempuan sekolah, teman laki-laki di pondokan yang sigap bukain gerbang kali pulang lewat jamnya? Aku tak akan pernah belajar bagaimana cara mengganjar laki-laki tidak sopan pada perasaan. Bagaimana jika aku tak bertemu sepupu sahabat karib diantara rimbunnya sisha tengah malam ? Aku tak akan pernah sadar pada kenyataan dunia yang seperti itu di depanku. Bagaimana jika aku tak bertemu dengan makhluk ajaib yang hobi menyendiri, punya pandangan sendiri, punya dunia nya sendiri ? Aku tak akan pernah sadar, bahwa semua orang bisa menyenangkan. Bagaimana jika aku tak mengenal makhluk astral "jauh tapi selalu bersahabat dengan pabcaran WAN dan LAN?" . Aku tidak akan jadi seberani ini. "Bagaimana jika aku tak disakiti dan ditinggal pergi begitu saja?" Aku tidak akan pernah bisa meredakan gemuruh secara personal di hati hingga saat ini. Semua itu harus terjadi. Satu hal saja luput dari jalannya kita tidak akan sampai pada saat ini. Kita tidak akan pernah berlari mengitari danau bersama, kita tidak akan pernah jalan hingga tengah malam dan aku harus menumpang tidur, kita tidak akan pernah "kebut gunung", kita tidak akan pernah pergi ke bioskop, aku tidak akan pernah pergi ke rumahmu, aku tidak akan pernah memandangmu lekat-lekat hingga deru nafasmu dapat ditangkap pori-pori pipiku. Aku tak pernah menyesali sesak-sesak yang menggunung itu, karna dengan semua itu kita bisa bertemu, aku bisa mengerti bagaimana cara agar kita bisa saling terpaut, aku bisa mengerti karakter yang bertolakbelakang denganku, aku bisa menjadi suplemen yang menyenangkan.
Tak perlu kata-kata puitis, shakespeare tak pernah melahirkan karya bahagia. Tak perlu sajak dan prosa karna aku ingin kita tak pernah ada akhirnya.