Aku bukan hanya mendengar dan membaca kisah Ariel Little
Mermaid, melainkan melihat filmnya ketika aku masih sekolah dasar. Hebatnya
film itu seseorang bisa menembus takdir, mengarungi lautan hanya dengan
berenang, melawan arus dan amukan papanya Neptunus, kemudian menukar ekornya
dengan kaki, bernyanyi, menikah dengan pangeran dan bahagia selamanya. Bahagia
yang dengan sangat mudah diraih. Itulah yang dilihat dan dijadikan semacam rule
of the life bagi anak kecil dengan lolipop, i did.
Aku
terlebih dahulu terbangun daripada yang lain, aku tahu bahwa kisah sesungguhnya
dari putri duyung kecil adalah, dia menyelamatkan pangeran, bernyanyi untuknya
kemudian ia menukar ekornya lewat penyihir dengan syarat ia punya waktu
beberapa hari dan ketika waktunya habis dan pangeran tidak mencintainya ia akan
hancur menjadi buih yang terjadi adalah putri duyung tidak lagi bisa bernyanyi
karena dia bisu, ia hanya bisa menari meski setiap langkah yang diambilnya
terasa menusuk bagai pedang. Ketika waktunya habis ia mengutarakan isi hatinya
dan pangeran tidak suka padanya karena dia bisu dan tidak bisa bernyanyi,
pangeran menikahi seorang putri dari kelasnya pada suatu malam sang putri
berniat meracuni pangeran. Namun yang dilakukan putri duyung malang adalah meminum
racunnya kemudian terjun ke lautan dan menjadi buih.
Buih,
dengan menjadi buih maka masih adakah perasaan cintanya ? dalam wujud apa ? buih
adalah pemusnahan yang hakiki, apakah cintanya akan termiliki oleh lautan lepas
? adakah yang lebih tragis dari ini ?. Apa maksud seseorang mengganti dongeng
yang serealistis itu dengan sesuatu yang lebih khayal ? bermaksud semua orang
punya pikiran “oh okay dont worry this is will be nice, we will happily ever
after?”. Kenapa seseorang merubah dongen dan membuat orang lain berangan-angan
hidup semudah itu. Namun hal itu juga tidak memberikan apapun di masa depan
bagi seseorang. Seseorang tak harus menyebrangi lautan atau membelah hutan,
ketika hujan datang seseorang akan mengurungkan niatnya, gerimis akan membuat bajunya basah, sepatu kotor penuh lumpurdan emosi
meledak-ledak yang entah harus menyalahkan siapa. Tak perlu menyebrangi lautan,
seseorang yang mendobrak batasannya ia belum tentu diaja menari di atrium dan
altar, ia bisa ditinggalkan di sebuah jalan sendirian ketika tak menjadi
sesuatu yang diinginkan. Tak perlu menyebrangi lautan, seseorang yang
menanggalkan dirinya dari suatu masa akan dilupakan jika seseorang lain dengan
suara merdu datang. Sialnya dia bukan putri duyung yang ketika melompat ke laut
akan ditangkap neptunus, menjadi buih dan menyatu dengan gejolak samudra. Di
dunia nyata seseorang yang menjatuhkan diri ke laut lepas akan busuk dan
menjadi makanan plankton, ikan dan veterbrata lain. Tak peduli sedalam apa
perasaannya, sehalus apa ia memberi isyarat. Meski cintanya lebih luas dari
samudra itu sendiri, laut tidak akan menjadikannya buih. Tidak sebelum ia
melewati fase pembusukan dan penguraian.