Senin, 12 Januari 2026

Skenario

 Aku menghabiskan sisa tahun lalu dengan banyak pertanyaan. Sebagian besar tentang kamu. Pertanyaan seperti mengapa susah sekali untuk melepaskan semua tentang kamu ? Mengapa tidak ada orang yang bisa bercokol menggeser podium menyebalkan itu. Orang bilang mungkin harus dengan orang baru. 

Sudah kuhitung, ada kurang lebih 7 atau 8 atau entahlah berapa, namun semua dari mereka berakhir dengan pesan yang tidak kubuka.

kalau dipikir, tidak ada yang memperlakukan aku kurang sopan, everybody nice, bahkan beberapa dari mereka memberikan aku hadiah padahal juga bukan hari ulang tahunku. bukankah harusnya aku jatuh kepada salah satu dari mereka. 

salah satu dari nereka seperti memberikan seluruh hidupnya, waktu, perhatian, uang, barang, hadiah, memperhatikan gizi ku sampai aku naik 8kilo secara drastis. Tapi, aku masih tidak bisa menyebut nama lengkapnu di jam 3 pagi tanpa gemetar atau air mata. 

Aku melihatmu tanpa sengaja dengan perempuan lain dj pusat perbelanjaan, dan aku menyesali mengapa harus hari itu. Hari itu datang begitu saja, tanpa mimpi sebelumnya, pertanda dari langit, angin, awan atau riak air di waduk depan tempat tinggalku pun tak ada. dan aku ada disana tanpa persiapan apa apa. 

jadi kuraih masker, topi dan kacamata dan melihatmu diseberang tangga. Aku tak mau menyapa mu dihari itu. 

you look so fine. Baik baik saja, mungkin itu perempuan kesekian yang kau kencani batinku, lalu aku berfikir kembali, mengingat setahun lebih aku scrolling aplikasi kencan tidak pernah menemukanmu disana. 

ironis.

ya, aku memakai aplikasi kencan untuk melihat apakah kamu sedang mencari pilihan atau entahlah. Kadang aku berharap kamu ada disana kadang aku berharap kamu tidak ada. 

Rasanya merepotkan sekali mengingatmu berulang-ulang, orang bilang perasaan bisa hilang kalau kita sibuk, banyak kegiatan, banyak olahraga. 

ku akui iya, setelah dua tiga jam di gym, satu jam pilates, aku terlalu kelelahan sehingga pulang kerja langsung tertidur pulas. dan coba tebak. 

aku memimpikanmu berulang-ulang, 

kadang mimpi yang random dan aneh, kadang mimpi buruk, kadang aku penuh benci hingga menembak kepalamu atau kadang aku berusaha meraih tanganmu ketika tenggelam. Kadang kita duduk berdua di tepi pantai dan mengobrol hal receh seperti anak TK 

kadang tiba-tiba aku harus memasukkanmu ke penjara. 

terlalu random, aneh. Dan entahlah mengapa. 

Aku mulai berpikir lebih kreatif, mengapa perasaanku tidak bisa pergi malah memburuk semenjak akun Tiktokmu lewat, aku melihatnya, dan entah kata kata itu untuk siapa. 

Itu tahun dan bulan kita mulai tak saling bicara, terlalu kepedeankah jika aku merasa ? atau ada orang lain sejak awal ? 

Seiring berjalannya waktu, banyak sesi olahraga yang aku lakukan, aku sudah mengurangi banyak pikiran tentangmu. Syukurlah. 

Aku melihatmu liburan ke Jepang, lalu aku sadar bahwa kamu masih menyimpan kontakku, kenapa ? atau memang kamu biasanya begitu atau coba jelaskan alasan lain ? 

Aku sedikit lega aku tidak lagi bertanya tanya, aku berenang, menyelam bepergian sendirian, makan dan minum alkohol sendirian, sudah tidak ada bayanganmu barang sekelebat. 

perasaan itu hanya muncul ketika aku sakit

seperti sekarang. Aku berfikir dari kemarin, kenapa-kenapa. menurut perhitunganku harusnya jatah jatuh cintaku sudah habis, aku melanjutkan hidup dan memilih orang berdasarkan logika, apakah ini dorongan sisi animaliaku untuk berkembang biak ? rasanya tidak juga. karna aku juga tidak sekali duakali kencan dengan laki-laki. 

Aku merenung sangat lama, hingga mencapai kemungkinan ini.

mungkin aku jatuh cinta pada momen itu, mungkin aku jatuh cinta pada skenario dan planning-planning itu. Mungkin disanalah aku menaruh hatiku. 

Di agneda double date dengan Faiz dan Sonia temanmu, aku dan sonia punya banyak kemiripan, suka tantangan, suka hal random, mudah tertawa, suka travelling, Sonia mengamini ide ku untuk ikut prosesi Waisak di Magelang, Sonia juga suka diving dan trying to persuade me, Sonia merekomendasikan kita untuk melihat hujan meteor di Bulan Agustus di Bromo. 

we planned road trip berempat. ke tempat-tempat yang paling disukai Sonia dan aku. 

Mungkin di skenario itulah perasaanku tertinggal. Mungkin di skenario liburan Thailand juga atau trip jawa-bali-lombok. 

mungkin skenario itu yang diputar putar otakku setiap malam. Sehingga mungkin ini bukan tentang kamu, tapi tentang momen, bukan hanya kita berdua tapi dengan temanmu juga. Mungkin di momen karaoke bersama itu hatiku jadi penuh. mungkin di momen ketika kita makan sop kaki kambing pinggir jalan atau chinnese food langgananmu, lagu di mobil, minuman keras di kulkas dan planning. 


Aku tidak tahu apakah aku harus bersyukur atau menyumpah. Karna momen sederhana itu tidak pernah pudar setiap detailnya. 

Namun, jika semua rencana itu terlaksana aku tidak akan tetap bergeming di tempatku, mengabaikan semua story whatsapp mu, tidak mencoba merecoki akun tiktokmu. 

Tidak perlu semua, andai satu saja rencana itu terlaksana, kamu akan melihat aku bersimpuh di kakimu, menangis, memohon dan berjanji, seperti perempuan bodoh yang logikanya mati.

Minggu, 10 Agustus 2025

Blessed

 Dear Tuhan dan seluruh isi semesta

Terimakasih atas hidup yang engkau anugerahkan, terimakasih atas berkat dan kepenuhan

Terimakasih atas pelajaran dan kasih sayang yang tidak pernah putus. 

Engkau memanglah maha mengetahui segala macam hal, kemudian engkau mengetahui apa yang terbaik bagi hidupku. Terimakasih karena selalu beserta ku, terimakasih telah menghadiahkan hidup penuh kebahagiaan, sukacita, keberlimpahan, pelajaran, support , dan perlindungan ini kepadaku.

Terimakasih karena memahamiku lebih baik dari aku memahami diriku. Sesungguhnya hanya engkau yang mengerti, aku hanya dapat menanggung pelajaran penuh sukacita dan tidak dapat lagi menanggung duka. 

Terimakasih atas perlindungan dan kasih sayangmu yang seluas alam semesta dan tak pernah berharap balasan. Karunia yang indah ini hadiah yang tak terganti.

Berkatilah aku dengan cintamu yang lebih besar, dengan keberlimpahan yang lebih dahsyat, penjagaan dan kasihmu yang agung.

Jadikan aku manusia yang bermanfaat, bimbing aku ke jalan yang tidak melempar luka kepada sekitarku.

Mudahkanlah semua angan dan usahaku. Jangan lepaskan tanganmu dari aku, lindungi dan selamatkan aku dari ketidakberuntungan. 

Sungguh hanya engkau kekuatan yang mampu meng-aminkan doa dan harapanku. Hanya kepadamu aku meminta, hanya kepadamu aku berlindung, Hanya kepadamu aku berserah. Karena hidup yang engkau beri selalu indah dan berlebihan. 

Minggu, 26 Januari 2025

ASTIGMATISM

 In this world, perhaps the most burdensome curse is astigmatism.

Because of it, you struggle to see words clearly—shadowed, tilted, even blurred.

Because of it, nights on the road are a torment, lights scattering into radiant bursts that sting your eyes.

And, of course, as though it were a cruel joke, astigmatism often comes hand-in-hand with myopias.


The strain of blurry letters tires you.

The strain of doubled objects exhausts you.

The strain of jagged lines pierces your eyes.

But do you know what’s truly the worst?


Not being able to recognize faces.


I am a creature who draws energy from the crowd—

the lively hum of shopping malls, bustling supermarkets, cozy restaurants, and cafes.

I drown if locked in my room.

Yet amidst the sea of people, almost everyone appears uniform to my eyes.

And I can never quite stop the restless beating of my heart.


My gaze falters, then sweeps from head to left arm.

Relief washes over me when I find no tattoo there.

But disappointment follows, like an unwelcome guest.


What my mind craves and what my body desires seem to speak in different tongues.

It took me time to notice.


I begin to wonder:

What would happen if, once more,

in the vast unfamiliar crowd,

our eyes met?

What would I do?

How long would I freeze?

And what is it that I truly want?


I scroll through dating apps daily, hoping to stumble upon you.

Do you, like so many other men out there, play the game of swipes and matches?

Sometimes, I feel sadness when I cannot find you—

because how could your feelings turn so swiftly,

while I tirelessly search for an empty space in my heart untouched by a name or memory?


Yet at times, I feel relief when I don’t find you—

perhaps it means you have no interest in the countless women on those apps,

or perhaps your heart has not yet stirred toward seeking connection.


And so I remain conflicted.

Am I glad, or am I grieved?

It seems my astigmatism has afflicted not just my eyes,

but my reason as well.


I wish to trust my instincts, for I do not want to be startled by fate.


Here, everyone looks the same.

And I keep glancing at left arms, searching,

hoping to find,

but also not to find.


Astigmatism—

you carry it too.

But alas, I bear no mark.

Even if I did,

I doubt you would trace its edges,

and be shaken as I am.



Rabu, 25 Desember 2024

DROPS

 

Could it be that I’m too greedy? Or perhaps, no one could ever replace you. I once believed it would be easy to find someone like you—or even better. But as I reflect, perhaps it’s not you that lingers within me. Perhaps it’s all the coincidences that once unfolded, the prayers that were answered, the trivial things that became real. 

Perhaps, and only perhaps, that’s how it is.


Like how God creates dew, letting it fall and seep into the earth.

Like how raindrops pool into puddles, only to evaporate.

Like how fireworks burst into sparks, then fade into nothingness.

Like fog, dissolving in the warmth of sunlight.


I understand.

Nothing lasts under this sky.

All that is fleeting will vanish—like dew, fireworks, fog, and rain.

Yet, why does this trace linger for so long? It isn’t a wound, but its mark refuses to fade.

Can I still dare to ask again?


Me, in the silver satin dress you gave me,

A bottle of wine,

The skyline of towering buildings,

And a midnight phone call.

A hoarse voice echoing from the other end,

Asking how I’ve been,

Carefully arranging words,

While I’m busy wiping away tears.


Hiding the fear buried deep within me—

Fear of facing the reality of every scenario in my head,

None of which I can bring myself to pour out through these fingers.


A five-star restaurant,

Classy jazz music,

Two dishes costing more than the average monthly income of a small-town household,

A lineup of black cards,

And the latest luxury cars.

They mean nothing to me.

They fail to move me.

They leave me unmoved.


Perhaps I’m mad—

Because when I think about it,

My sanity only seems to work one week out of every month.


Could fragments of me have been left behind as well?

Did they evaporate, or do they linger?


And what should I even say to appear composed and fine?


How’s the calico cat?

How’s the yellow tabby tomcat?

Has your tattoo grown by one more?


I know not everything in this world is meant to be owned.

But am I greedy to ask for you to return,

At least one more time?


I don’t even know what I truly want.

No scenarios in my mind.

Perhaps just to fulfill a promise.

Perhaps, yes. Perhaps someday.


“For everything, there is a season.

A time for every matter under the heavens.”



Sabtu, 30 November 2024

SKYSCRAPER

 The streetlights stretch, coil, and clatter.

I return here,

to the place where stars tumble, the sky is empty, yet the ground is crowded.

Glistening,

starry,

I gaze at the beams of light on that street.

I cast my gaze to the empty sky.

Skyscrapers,

crawling, tearing through the dark, challenging the heavens. Loud, festive, half-arrogant.

Skyscrapers,

perhaps, should not be here,

perhaps not in such abundance,

until the sky grows dim.

This place has changed too much, too quickly, too densely. All that is excessive is not always good, and I wonder how it is with excessiveness that is magical.

Me, you, this city, and magic are the right phrase.

For some reason, long before I knew you existed, I felt I would meet you. So I let go of everything, all that clung to me, knowing I would find a more magnificent glow.

All that is simple happens just so, swiftly and precisely.

I don’t know from where this vision came or what lies behind it, but suddenly your name appeared in my hopes, and suddenly you became a part of my insincere manifestation, suddenly fulfilled.

And only then did I realize—perhaps "suddenly" is not the right phrase. Later, I also began to wonder, is it because of that "suddenly" that everything vanished?

All the things still perched on the tip of my tongue, not yet spoken, everything important, every impossibility, every miracle—all that should not be heard by your ears, has not reached you.

I try again with this universe's miracle, do I still possess my powers? Does my prayer still reach ears? Does my hope still hold weight?

And here I am now, staring at the sky ravaged by skyscrapers, and my heart, empty after receiving yet another miracle.

I don’t know what this universe desires,

granting all my manifestations about you, for you, yet casting me as far as possible from your radar, facing me with every possibility of meeting, yet breaking my heart each time I wish for it again and again, only to be shattered.

I thought that skyscraper should move, to tear at the walls of my heart, to wound me so I may always remain awake, always vigilant, never froze.

Where do all these miracles want to take me?

Cars, clothing colors, the fragrance of perfume, the glaring lights of bars, the bitter taste of alcohol still choked within me, still lingering, then turning into new monuments in all my senses.



(Have u hear the song which the lyrics was "if everyone have a love like us, they doesnt call the place above..... Heaven" ? I sang it over and over again, but those song made me felt hummiliated for now heheheheheh, so funng isnt it, how time has a huge power to turns everything anomalic) 😂


Rabu, 14 Agustus 2024

Tidak ada

 

Jawabannya tidak ada.

Tidak kesemuanya. 

Jawabannya adalah segala hal yang kuyakini, sepenggal puisi yang membawa ku ke arah ini

Sepenggal frasa yang melekat seperti jaring laba-laba, mengantar lakmus otakku kemana gelombang ini bermuara, menjelajahi ceruk demi ceruk apa yang terlanjur kuselami selama ini. 

Aku juga tak mengerti, kenapa teka-teki itu harus kamu yang menjawabnya, jika saja….

Jika saja aku lebih rajin membaca, jika saja cepat ku selesaikan buku tentang alam semesta ini, mungkin aku lebih dulu menemui maksudnya.

Kurapal frasa itu seperti mantra, aku hapal setiap baitnya seperti lagu, kupikir itu hanya puisi indah penulis yang aku sembah. 

Kamu membuyarkan kerangka berpikirku sendiri, bahwa itu adalah bagian dari teka-teki, sedangkan aku masih mematung tersadar bahwa tidak semua yang kutahu itu ku ketahui. Kemudian aku lebur sempurna ketika kamu hadirkan jawabannya. Kesombonganku berakhir, aku tak mampu berfikir.

Masih terselamatkan harga diriku karena kamu sungguh tak tahu apa yang kamu perbuat. 

Kusadari, apa yang hilang memang akan hilang, dan aku tidak akan berarak kemana mana. 

Bahagia yang pernah kuterima, akan tetap menjadi bahagia, jawaban dari teka-teki yang baru kusadari mungkin bercokol selamanya, dan biarlah disana selamanya. 

Kamis, 09 Mei 2024

Meramal masa depan

 


Baru kusadari, tubuh manusia itu sesuatu jaringan kompleks yang luar biasa. Salah satu contohnya mungkin bayam dan wortel yang ku makan kemarin menjadi sel darah putih hari ini. Telur dan kol jadi sel darah merah. 24jam tidak ada yang berhenti bekerja, nukleus, jaringan pembuluh darah semuanya bergerak cepat, memobilisasi segala yang ku berikan dan segala yang disekitar.

Hingga aku berfikir apakah sel dan jaringan itu akan marah dan mogok kerja jika sadar bahwa kesadaranku tidak turut andil dengan baik atas proses metabolisme supersonik tersebut. Mereka bergerak dengan terstruktur cepat dan tepat. 

Sedangkan aku.

Diam.

Seperti biasa.

Ditempatku, memperhatikan dengan seksama, berfikir, mengandai-andaikan banyak hal. 

Kemudian dengan cerobohnya meminta pada langit-langit, pada udara, pada gelombang. Seperti biasa dengan narasi angkuh, sok tahu dan menyebalkan.

Aku sudah berhenti lama meminta sesuatu yang terbaik, aku ingin dapat apa yang aku mau agar aku bisa belajar mempertahankan sesuatu. Agar aku bisa merasa memiliki. Aku panjatkan doa sedemikian dengan sombong, mengira tidak akan pernah keberatan untuk melepas. Nyatanya.

Hidupku terjungkir dalam sehari.

Padahal aku tidak kehilangan, dia disini menempel seperti bayanganku. Tapi ini mulai terasa seperti kesalahanku yang akan datang. Lalu, bisakah aku tetap dengan angkuh berdiri ketika harinya tiba ?

Sudah lama aku tidak membiarkan diriku terikat dengan suatu hal, memiliki segenggam kemanisan. 

Aku menikmati berdiri di ruang hampa bahkan nihil suara. Tak memiliki apapun berarti dimasa depan aku tak perlu kehilangan apapun. Pada kenyataannya mungkin aku pecundang besar, menghindari banyak hal demi merasa aman, merasa telah menelan segalanya padahal tidak pernah kemana-mana. 

Jadi untuk kehilangan di masa depan ini, apakah kira-kira seluruh jaringan di tubuhku sudah menyiapkan amunisi untuk menghadapinya ? Cadangan energi di dalam mata kaki mungkin (?)

Mungkin kamu sudah tahu, semesta berfikirku berbeda, kamu menganggap ini ceracau kacau otakku yang kusut. Tapi jika harinya benar-benar tiba, mungkin kamu akan kembali, dan lebih mudah memahami. 

Atau mungkin tidak karena kamu sudah repot menyelami rutinitas yang sama seperti beberapa bulan sebelum ini lahir. 

Dan aku.

Kira-kira dimana aku ?

Mungkin tenggelam bersama buku baru dari Yuval Noah, mungkin menyelami laut terdekat, mungkin berkemah sendirian, mungkin menghajar kaki ku di fitness center, atau apapun termasuk diam. 

Yang kutahu pasti, di titik itu aku tak lagi menganggap ini kesalahan apalagi kesalahanku. Ini pelajaran baru, bahagia yang harus segera kulepas karna dunia menginginkannya, kamu menginginkannya, aku dan tubuhku menginginkannya. 

Sebagaimana cicak memotong tubuhnya

Sebagaimana ular melepas sisik dan kulitnya. 

Tumbuh dan tidak akan kupalingkan lagi. 



Kira-kira apa yang akan pertama kali aku rindukan ? 

Sebotol wine dan obrolan ngalor ngidul ?

Dentum musik, kilatan lampu lalu tanganmu yang repot berusaha memanjangkan rok pendekku ?

Bau parfum mu yg menempel berhari-hari di rambutku ? 

Bau whisky tua yang tertinggal di pagi hari ? 

Atau apa ? Ada apa dimasa depan ? 

Adakah yang kira-kira membuatku makin susah melepaskan ?