Jumat, 11 Maret 2022

Wabi-Sabi

 Finally i write this, not because i have threw all my sadness, my pains and doesnt care about my brews, it just because i dont wanna growing up my anger then it would be torturing me deeply. 

Aku mengerti, aku tidak lahir dari Laut sehingga tak perlu untukku berusaha mati-matian menerjang karang tiap beberapa menit sekali untuk selamanya, berharap karang itu runtuh dalam perutku. 

Aku mengerti, aku tidak lahir dari gunung sehingga aku tak perlu membalas segala hal yang melukaiku dengan amarah, dengan nada-nada tinggi yang menciutkan nyali orang lain.

Aku tak lahir dari langit, sehingga tak perlu aku menurunkan badai hebat agar orang-orang tahu kemampuanku kemudian segan. 

Aku tidak terlahir dari matahari sehingga tak perlu aku menghdirkan kemarau hebat hingga orang lain menyembah nyembah untuk dapat setetes air.

Aku manusia yang dapat memilih.

Aku tak lahir dari laut tapi aku sering dihibur laut, gulungan ombaknya yang menyentuh kaki dan selalu mengantarku kembali ke tepi. Arusnya mengantar nelayan pergi, karangnya tempat molusca-molusca tinggal. Itulah laut. 

Aku tak lahir dari muntahan gunung tapi aku sering dikuatkan gunung. Jutaan kehidupan terus menerus berputar di tubuhnya, hewan dan manusia yang bergantung dari nutrisi tanahnya, tonggeret dan capung selalu kembali pada nya. Itulah gunung.

Dari semua peluang dan kesempatan selalu ada pilihan dan aku berhak memilih. Apakah aku akan melepaskan mimpi buruk yang ada pada alam bawah sadarku menyeruak dan tinggal di lobus frontalku selamanya.

Dengan segala kesadaranku aku memilih tidak.

Aku tau dan ingat, aku pernah menulis perjalanan waktu, bumi dan manusia. Kelahiran, pertumbuhan, evolusi dan kehampaan. Milyaran tahun dibutuhkan Bumi untuk mengecap segalanya kemudian terbenam dalam lubang hitam besar. Milyaran tahun adalah waktu yang singkat, ia akan berakhir. 

Luka yang kualami akan tinggal selamanya. Tidak runtuh menjadi debu kosmik, atau menguap begitu saja lalu bergabung dengan nebula. Menyakitkan sekali merengkuhnya tanpa batas seperti itu.

 Seperti caraku melihat alam dan fenomena, aku memutuskan membiarkan luka pedihku terbenam jauh hanya ingin aku undang bagian bahagianya saja. Karna tentu saja sedalam apapun luka ku, aku pernah tersenyum tulus, aku pernah tertawa lepas dan aku pernah merasa utuh. 

Tanganku pernah digenggam, tubuhku pernah dipeluk, tangisku pernah dihapus. 

Meletakkan pedih dan nestapa diatas segalanya amat sangat tidak adil pada diriku sendiri. Cukup orang lain dan hal-hal lain yang membuatku merasa dicurangi, merasa tak mendapat hal yang esensial sebagai seorang manusia. Diriku sendiri tak sepatutnya ikut campur.

Tak ada yang meredakan badai kecuali badai itu sendiri, tak ada yang menenangkan ombak kecuali lautan itu sendiri. 

Hal yang perlu diketahui bersama bahwa Luka memang selalu membekas kadang terbuka dengan sendirinya, namun bukan berarti orang penuh luka tidak bisa berbahagia.

Deburan ombak, gugusan bintang, langit cerah, barak api, hembusan angin. Semua hadir bagai koin yang selalu punya dua sisi. Tak perlu diminta. Kita layak bahagia.