Senin, 18 Mei 2020

Patriarki kills me softly

Setiap orang yang lahir ke dunia tidak bisa memilih segala sesuatu yang ia akan terima ketika ia lahir. Baik itu jenis kelamin, keadaan fisik, keluarga dan lingkungan. Tidak ada janin yang memohon mohon untuk dilahirkan. Embrio, zygot, janin ada karna ia diminta, diharapkan untuk ada.
Kromoson dirumuskan XX dan XY dan kombinasi keduanya terjadi karna proses alam dan aktivitas manusia. Tidak ada yang bisa memilih apakah ia ingin terlahir menjadi laki laki atau perempuan. Di era yang lebih canggih orang tua dapat memilih jenis kelamin anaknya tentu saja dengan harga yang tinggi. Sebuah janin di rahim tidak pernah bisa menentukan atau memilih, ia hanya berdetak lirih.
Hal yang paling absurd yang aku dengar semenjak lahir adalah kata-kata seorang ayah tentang keinginannya mempunyai anak sulung perempuan karna ia berharap anak perempuan itu bisa membantu membersihkan rumah, memasak dan pekerjaan domestik lain. Ia berkata anak perempuan bukan yang lain. Ayahku berkata demikian di depanku sedangkan aku melihat adik laki-lakiku baru pulang membawa snack cokelat dan bersiap memainkan mobil mobilan remote terbaru yang dibelikan ayahku.
Dipikiran anak umur 8 tahun hal itu merupakan hal yang paling absurd, kenapa perempuan diidentikkan dengan pekerjaan berberes sedangkan lakilaki bisa minum kopi sambil menonton tv di pagi hari.
Aku menanyakan kegelisahanku pada teman temanku karna saudara saudaraku memiliki pendapat yang sama. Rupanya temanku juga. Aku setengah yakin kalau aku salah. Setengahnya lagi aku berpegang pada teoriku bahwa kedudukan lakilaki dan perempuan setara. Di umur 9 tahun pula tiba tiba aku terkena penyakit aneh, mulutku memborok dan bernanah, jika ditanya apa penyakitnya tidak ada yang tahu, bukannya dilarikan ke rumah sakit atau ke dokter yang paham, aku langsung dibawa ke apotek tanpa resep dokter, menerima obat dari apoteker yang ngawur mendiagnosis, setelah diobati bukannya membaik lukanya semakin menjadi jadi, mulutku nyaris tertutup luka. Setelah apa yang terjadi aku si anak sulung perempuan di masukkan kamar. Dibiarkan, katanya bandel tak mau diobati, padahal obatku obat luar cair bening yang peruh bukan main, semakin kupakai semakin melebar boroknya. Beruntung sepupuku menemukan aku dirumah, membawaku ke rumah nenek dan membuatnya menangis. Setelah sembuh, rumahku heboh adik laki lakiku sakit terbatuk batuk, ia dibawa ke dokter praktek dekat rumah kemudian ke rumah sakit dengan diagnosa macam macam. Dari mulai batuk bisa hingga radang paru paru. Nyatanya sembuh hanya dengan memakan permen hexos.
Aku suka membaca segala bentuk pengetahuan, aku selau tidur disamping buku buku yang sebelumnya menjadi lullaby. Suatu hari aku membaca injil dan mempertanyakan eksistensi Tuhan. Aku berakhir diceramahi kyai 2 jam nonstop dan penjelasannya sama sekali tidak sinkron dengan concernku, kali kedua aku kelepasan membicarakan tentang kemerdekaan perempuan atas dirinya dan eksistensi agama agama bumi. Aku berakhir di ruqyah. Adikku suka berbagai hal tentang konspirasi, tidak masalah aku juga, ia suka mengutarakan pendapatnya, yang menjadi masalah sumber yangia pelajari adalah dari artikel di facebook, konten orang di youtube dan sumber yang kurang bisa di verifikasi lainnya.
Yang terjadi adalah, ia dicap sebagai anak yang sangat pintar, jago beretorika dsb. Aku semakin tak mengerti betapa beracunnya patriarki yang kualami. Suatu hari ibuku berkata padaku, adikku bertanya siapa yang lebih membuatnya bangga, apakah aku si anak sulung ataukah dia si anak bungsu, ibuku menjawab tentu saja dia. Setelah nenekku meninggal aku semakin yakin jika aku sendirian. Kebingungan mencari tempat untuk bersandar. Karna dibesarkan dengan kasih sayang berlebih dan semua orang berdiri di sisinya, tidak ada yang bisa mengendalikan tempramen adikku dan mulutnya yang seenaknya. Dia sering mengatakan aku bodoh, dia berteriak kepadaku bahkan ke ibuku, ia suka memotong pembicaraan orang lain yang bahkan lebih tua darinya, ia tak mau menjadi latar belakang, suaranya harus di dengar ia bermetamorfosa menjadi individu narsistik yang tiada duanya.
Hari ini aku menangis karena perkataannya. Aku mengalami 2 kali kecelakaan, aku tak pernah menangis, aku gagal sempro aku tak menangis, banyak struggle di hidupku dan aku masih bisa tertawa tawa membuat jokes dan membodoh bodohi diriku sendiri. Tapi hari ini aku menangis, karna karantina aku tidak bisa bertemu teman temanku, pusara nenekku mengering sejak lama, tidak ada saudara yang mengerti. Aku hanya sendiri. Berulang kali aku menahan tangisku karna menurutku memalukan, ibuku memanggilku untuk membantunya, aku datang untuk membantu, mendapatiku masih menangis ia berteriak menyuruhku pergi dan berkata aku lebay. Berulangkali adikku berteriak kepadanya, mengambil kartu debetnya, mengambil uangnya menghapus laporan mbanking, menjual handphonenya, menjual laptop yang ia belikan. Dan ia tetap menganggapnya bukan apa-apa.
Anak laki-laki dianggap lebih berharga, berulangkali orang tua berkata anaknya semua sama hingga berbusa busa mulutnya, mereka tak pernah menganggapnya benar benar sama. Kendati di keluarga yang tak bermarga. Di minang masyarakatnya penganut matrialisme (matriarki) anak perempuannya lah pewaris bisnis, penerus keluarga.
Tidak pahamkah mereka yang menuhankan toxic patriarki atau matriarki bahwa mereka sedang berjalan dalam lintasan fana dan mengorbankan anak anak mereka ?


Jika ditanya aku mau apa,
Aku mau menang lotre, mengganti identitasku, menjalani kehidupanku yang sepi dengan cara yang membuat hatiku semarak. Setidaknya aku verhenti menyekaratkan diriku sendiri.