Rabu, 25 Desember 2024

DROPS

 

Could it be that I’m too greedy? Or perhaps, no one could ever replace you. I once believed it would be easy to find someone like you—or even better. But as I reflect, perhaps it’s not you that lingers within me. Perhaps it’s all the coincidences that once unfolded, the prayers that were answered, the trivial things that became real. 

Perhaps, and only perhaps, that’s how it is.


Like how God creates dew, letting it fall and seep into the earth.

Like how raindrops pool into puddles, only to evaporate.

Like how fireworks burst into sparks, then fade into nothingness.

Like fog, dissolving in the warmth of sunlight.


I understand.

Nothing lasts under this sky.

All that is fleeting will vanish—like dew, fireworks, fog, and rain.

Yet, why does this trace linger for so long? It isn’t a wound, but its mark refuses to fade.

Can I still dare to ask again?


Me, in the silver satin dress you gave me,

A bottle of wine,

The skyline of towering buildings,

And a midnight phone call.

A hoarse voice echoing from the other end,

Asking how I’ve been,

Carefully arranging words,

While I’m busy wiping away tears.


Hiding the fear buried deep within me—

Fear of facing the reality of every scenario in my head,

None of which I can bring myself to pour out through these fingers.


A five-star restaurant,

Classy jazz music,

Two dishes costing more than the average monthly income of a small-town household,

A lineup of black cards,

And the latest luxury cars.

They mean nothing to me.

They fail to move me.

They leave me unmoved.


Perhaps I’m mad—

Because when I think about it,

My sanity only seems to work one week out of every month.


Could fragments of me have been left behind as well?

Did they evaporate, or do they linger?


And what should I even say to appear composed and fine?


How’s the calico cat?

How’s the yellow tabby tomcat?

Has your tattoo grown by one more?


I know not everything in this world is meant to be owned.

But am I greedy to ask for you to return,

At least one more time?


I don’t even know what I truly want.

No scenarios in my mind.

Perhaps just to fulfill a promise.

Perhaps, yes. Perhaps someday.


“For everything, there is a season.

A time for every matter under the heavens.”



Sabtu, 30 November 2024

SKYSCRAPER

 The streetlights stretch, coil, and clatter.

I return here,

to the place where stars tumble, the sky is empty, yet the ground is crowded.

Glistening,

starry,

I gaze at the beams of light on that street.

I cast my gaze to the empty sky.

Skyscrapers,

crawling, tearing through the dark, challenging the heavens. Loud, festive, half-arrogant.

Skyscrapers,

perhaps, should not be here,

perhaps not in such abundance,

until the sky grows dim.

This place has changed too much, too quickly, too densely. All that is excessive is not always good, and I wonder how it is with excessiveness that is magical.

Me, you, this city, and magic are the right phrase.

For some reason, long before I knew you existed, I felt I would meet you. So I let go of everything, all that clung to me, knowing I would find a more magnificent glow.

All that is simple happens just so, swiftly and precisely.

I don’t know from where this vision came or what lies behind it, but suddenly your name appeared in my hopes, and suddenly you became a part of my insincere manifestation, suddenly fulfilled.

And only then did I realize—perhaps "suddenly" is not the right phrase. Later, I also began to wonder, is it because of that "suddenly" that everything vanished?

All the things still perched on the tip of my tongue, not yet spoken, everything important, every impossibility, every miracle—all that should not be heard by your ears, has not reached you.

I try again with this universe's miracle, do I still possess my powers? Does my prayer still reach ears? Does my hope still hold weight?

And here I am now, staring at the sky ravaged by skyscrapers, and my heart, empty after receiving yet another miracle.

I don’t know what this universe desires,

granting all my manifestations about you, for you, yet casting me as far as possible from your radar, facing me with every possibility of meeting, yet breaking my heart each time I wish for it again and again, only to be shattered.

I thought that skyscraper should move, to tear at the walls of my heart, to wound me so I may always remain awake, always vigilant, never froze.

Where do all these miracles want to take me?

Cars, clothing colors, the fragrance of perfume, the glaring lights of bars, the bitter taste of alcohol still choked within me, still lingering, then turning into new monuments in all my senses.



(Have u hear the song which the lyrics was "if everyone have a love like us, they doesnt call the place above..... Heaven" ? I sang it over and over again, but those song made me felt hummiliated for now heheheheheh, so funng isnt it, how time has a huge power to turns everything anomalic) 😂


Rabu, 14 Agustus 2024

Tidak ada

 

Jawabannya tidak ada.

Tidak kesemuanya. 

Jawabannya adalah segala hal yang kuyakini, sepenggal puisi yang membawa ku ke arah ini

Sepenggal frasa yang melekat seperti jaring laba-laba, mengantar lakmus otakku kemana gelombang ini bermuara, menjelajahi ceruk demi ceruk apa yang terlanjur kuselami selama ini. 

Aku juga tak mengerti, kenapa teka-teki itu harus kamu yang menjawabnya, jika saja….

Jika saja aku lebih rajin membaca, jika saja cepat ku selesaikan buku tentang alam semesta ini, mungkin aku lebih dulu menemui maksudnya.

Kurapal frasa itu seperti mantra, aku hapal setiap baitnya seperti lagu, kupikir itu hanya puisi indah penulis yang aku sembah. 

Kamu membuyarkan kerangka berpikirku sendiri, bahwa itu adalah bagian dari teka-teki, sedangkan aku masih mematung tersadar bahwa tidak semua yang kutahu itu ku ketahui. Kemudian aku lebur sempurna ketika kamu hadirkan jawabannya. Kesombonganku berakhir, aku tak mampu berfikir.

Masih terselamatkan harga diriku karena kamu sungguh tak tahu apa yang kamu perbuat. 

Kusadari, apa yang hilang memang akan hilang, dan aku tidak akan berarak kemana mana. 

Bahagia yang pernah kuterima, akan tetap menjadi bahagia, jawaban dari teka-teki yang baru kusadari mungkin bercokol selamanya, dan biarlah disana selamanya. 

Kamis, 09 Mei 2024

Meramal masa depan

 


Baru kusadari, tubuh manusia itu sesuatu jaringan kompleks yang luar biasa. Salah satu contohnya mungkin bayam dan wortel yang ku makan kemarin menjadi sel darah putih hari ini. Telur dan kol jadi sel darah merah. 24jam tidak ada yang berhenti bekerja, nukleus, jaringan pembuluh darah semuanya bergerak cepat, memobilisasi segala yang ku berikan dan segala yang disekitar.

Hingga aku berfikir apakah sel dan jaringan itu akan marah dan mogok kerja jika sadar bahwa kesadaranku tidak turut andil dengan baik atas proses metabolisme supersonik tersebut. Mereka bergerak dengan terstruktur cepat dan tepat. 

Sedangkan aku.

Diam.

Seperti biasa.

Ditempatku, memperhatikan dengan seksama, berfikir, mengandai-andaikan banyak hal. 

Kemudian dengan cerobohnya meminta pada langit-langit, pada udara, pada gelombang. Seperti biasa dengan narasi angkuh, sok tahu dan menyebalkan.

Aku sudah berhenti lama meminta sesuatu yang terbaik, aku ingin dapat apa yang aku mau agar aku bisa belajar mempertahankan sesuatu. Agar aku bisa merasa memiliki. Aku panjatkan doa sedemikian dengan sombong, mengira tidak akan pernah keberatan untuk melepas. Nyatanya.

Hidupku terjungkir dalam sehari.

Padahal aku tidak kehilangan, dia disini menempel seperti bayanganku. Tapi ini mulai terasa seperti kesalahanku yang akan datang. Lalu, bisakah aku tetap dengan angkuh berdiri ketika harinya tiba ?

Sudah lama aku tidak membiarkan diriku terikat dengan suatu hal, memiliki segenggam kemanisan. 

Aku menikmati berdiri di ruang hampa bahkan nihil suara. Tak memiliki apapun berarti dimasa depan aku tak perlu kehilangan apapun. Pada kenyataannya mungkin aku pecundang besar, menghindari banyak hal demi merasa aman, merasa telah menelan segalanya padahal tidak pernah kemana-mana. 

Jadi untuk kehilangan di masa depan ini, apakah kira-kira seluruh jaringan di tubuhku sudah menyiapkan amunisi untuk menghadapinya ? Cadangan energi di dalam mata kaki mungkin (?)

Mungkin kamu sudah tahu, semesta berfikirku berbeda, kamu menganggap ini ceracau kacau otakku yang kusut. Tapi jika harinya benar-benar tiba, mungkin kamu akan kembali, dan lebih mudah memahami. 

Atau mungkin tidak karena kamu sudah repot menyelami rutinitas yang sama seperti beberapa bulan sebelum ini lahir. 

Dan aku.

Kira-kira dimana aku ?

Mungkin tenggelam bersama buku baru dari Yuval Noah, mungkin menyelami laut terdekat, mungkin berkemah sendirian, mungkin menghajar kaki ku di fitness center, atau apapun termasuk diam. 

Yang kutahu pasti, di titik itu aku tak lagi menganggap ini kesalahan apalagi kesalahanku. Ini pelajaran baru, bahagia yang harus segera kulepas karna dunia menginginkannya, kamu menginginkannya, aku dan tubuhku menginginkannya. 

Sebagaimana cicak memotong tubuhnya

Sebagaimana ular melepas sisik dan kulitnya. 

Tumbuh dan tidak akan kupalingkan lagi. 



Kira-kira apa yang akan pertama kali aku rindukan ? 

Sebotol wine dan obrolan ngalor ngidul ?

Dentum musik, kilatan lampu lalu tanganmu yang repot berusaha memanjangkan rok pendekku ?

Bau parfum mu yg menempel berhari-hari di rambutku ? 

Bau whisky tua yang tertinggal di pagi hari ? 

Atau apa ? Ada apa dimasa depan ? 

Adakah yang kira-kira membuatku makin susah melepaskan ?