Sederhananya meskipun tidak suka merayakan segala sesuatu, terkadang aku memberi reward pada diriku sendiri. Setelah berbagai hal dan aku akhirnya dapat mencapai tujuanku. Mungkin itu juga yang dirasakan orang ketika merayakan berbagai macam hari-hari yang menurut mereka special. 100 hari jadi, satu tahun hari jadi, satu tahun hari putus, hari kelahiran, 7 hari setelah kelahiran, kematian, 7 hari setelah kematian, 100 hari setelah kematian, 1000 hari kematian. Terlalu banyak hari hari yang ingin diingat dan dirayakan orang orang-orang. Terkadang mereka membuat sendiri alasan, mencari-cari momen hanya demi mengadakan selebrasi. Entah mengapa aku alergi.
Aku berhenti merayakan ulang tahun dan mengingat ingat hari kelahiran serta umurku ketika aku berumur 17 tahun. Usia 17 adalah usia yang sakral dan dinanti nantikan, karena aku dan semua orang akan tercatat secara resmi sebagai warga sipil, dan mulai mempunyai beraneka ragam kartu di dompet. Setelah segala euphoria 17 tahunan mulai hilang, disanalah tersadar bertumbuh dewasa tidaklah semudah dan senyaman itu. Jadi sejak itu aku berhenti berselebrasi, bahkan terkadang lupa usia ku yang sesungguhnya. Ketika diminta mengisi sebuah data aku harus menghitung dengan kalkulator. Mengetik, tahun sekarang dikurangi tahun kelahiranku. Terkadang hasilnya membuatku sedikit kaget. Dalam hatiku tetap berontak. "this must be broken, im fucking seventeen bitj".
Bertumbuh dewasa menjadikan pemikiranku makin kompleks, makin banyak variabel yang harus kuhadapi, makin banyak tanggung jawab yang harus kuatasi. Dan membahagiakan diri tak semudah lagi seperti bolos sekolah untuk jajan bakso dekat pantai. Konsep bahagia di kehidupan yang dewasa lebih simpel namun kompleks. Karna lakmus diotak terlanjur dijejali oleh finansial, deadline kerja, urusan lingkungan kantor, keluarga, tetangga, usaha, idealisme yang kerap tabrak menabrak dengan realita, kondisi sosial yang ga bisa diabaikan, dan akan makin rumit jika terdistraksi masalah cinta.
Sudahlah. Jika bisa memilih, ketika malaikat menghampiriku saat aku masih di surga dan menawariku hidup di bumi sebagai manusia, bahkan ketika malaikat mengiming imingiku dengan frasa "Disana nanti ada orang yang menyanyikan lagu untukmu, melindungi kamu, mendoakan kamu, menjaga kamu, mengobati lukamu" hhhh tentu aku tidak lagi terbuai. Bapakku sibuk mencari uang, Ibuku sibuk mengatasi tingkah sodaraku yang lain dan aku sibuk berperang dengan dunia. Aku akan membalas bujukan malaikat dengan kalimat halus "Maaf, tidak, mending saya menjadi tukang meni pedi bidadari surga dan tukang ngelap rumah berlian di firdaus".
Kelahiran tidak perlu diglorifikasi sedemikian rupa, bertambah tua adalah petaka.
Tapi.
Sepertinya aku mulai hilang akal. Bertemu denganmu adalah kiamat bagi keyakinan yang kupegang selama ini. Aku baru menyadari jika tanggal lahir begitu penting menentukan karakter lewat horoskop, cardinal sign, elemen, posisi planet dan bintang bintang. Tanggal lahir tibatiba membuat aku candu. Mengobrak-abrik posisi matahari, uranus, mars, venus dan pluto. Kamu yang dengan rutin menselebrasikan sebuah angka di kalender yang terkadang dengan masif. Sukses mensugesti aku yang entah mengapa sudah melingkari sebuah tanggal di kalender dan mulai berhitung.
Aku tak pernah membuka aplikasi kalender di handphone, karena tidak ada yang perlu ditanyakan pada kalender, tidak ada yang perlu dicatat. Semua hari sama bagiku, hari libur-pun tak mengubah secara signifikan. Fermentasi minuman yang kubuat sendiri saja kutandai dengan notes kecil. Tak butuh kalender. Tak butuh reminder.
Tapi yaaa...
Semesta bisa menjungkirbalikkanmu detik ini juga. Di aplikasi yang selama ini menjadi tempelan halaman depan handphone tiba tiba ada tanda lingkar merah.
"happy birthday manusia terspontan didunia".
Kemudian hal yang seharusnya tidak kulakukan terjadi.
Mimpi buruk yang dapat dihadirkan oleh sebentuk kalender.
Aku menggesernya keatas.
Semakin keatas.
Dan terus keatas.
Angkanya tetap sama. 1 sampai 30, ada yang 31 bahkan 29.
Namun.
Angka tahunnya bertambah banyak.
Makin banyak.
Sedangkan mari bersama-sama merenung, waktu sangat handal dalam memeram suasana.
Momen tak beruntung, chaos, dan sedih di hari ini akan menjadi tawa setelah diperam waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Berlaku juga dengan momen tawa, bahagia yang akan menjadi luka serta alasan tangis setelah dituakan waktu.
Dan tanda yang kubuat tidak berhenti di angka dan bulan yang kutandai di awal.
Tanda itu terus ada.
Di angka dan bulan yang sama.
Setiap tahun.
Tahun bertambah dan angka bertanda itu masih disana.
Padahal semua juga tahu.
Aku kamu pun tahu.
Kebersamaan akan berakhir kapan saja. Kita tahu akhirnya. Namun angka bertanda akan disana selamanya.