Sabtu, 12 Februari 2022

Untuk Mao dan Ben kesayanganku

 
(Mao sedang nemenin makan)

 Kalau nanti kalian sudah bisa baca, tolong ini dibaca.

Kalau kalian nanya siapa yang paling aku sayangi di dunia ini. Jawabannya kalian. Mao dan Ben.

Aku kasi nama kalian Mao Zedong sama Bennito Mussolini agar kalian bisa garang, jadi duo preman di kampung ini. Karena asal kalian tahu, dulunya sebelum kalian ada Om Poopoo lah preman kampung sini. Jangankan kucing garong. Manusia aja takut sama Om Poopoo. Aku berharap masa kejayaan Om Poopoo bisa turun ke kalian. Tapi sepertinya enggak. Kalian setiap hari sibuk korek korek sampah, kayak malumaluin banget membuat citraku dikampung ini jelek, kayak ngga pernah kasi makan kalian. Padahal kenyataanya makananku sama makanan kalian kadang lebih enak makanan kalian.

Aku juga banyak dapat informasi kalau kalian suka nimbrung makan ikan pindang di rumah tetangga. Malumaluinbanget tolol. Ya mungkin kalian belum se dewasa itu. 

Tapi aku berterimakasih banget ke kalian.

Kalian duo paling menggemaskan. Berat badan kalian suka balapan, kalau Harto masih hidup mungkin dia akan jadi tergendut. 

Terimakasih udah selalu nemenin aku makan, kalian tahu aku susah banget makan, jadi suka nemenin tanpa ngerecokin (kalau makanan aku pedes) *tolong kalau makanan aku ngga pedes piringku jangan diobok obok.

Makasih udah mau sehat, kalau sakit nggak rewel, makasih udah selalu nemenin aku tidur, makasih undah mau tak cubit cubit, makasih udah nemenin aku nangis dan dengerin lagu sedih bareng. Makasih udah mau aku peluk peluk padahal aku jarang mandi. 

Maafin aku yang masih suka cengeng, kadang kalau kalian main suka tak gendong bawa ke kamar buat nemenin aku. Maafin suka tak marah marahin. Maafin aku yang kadang suka lupa kasi makan. Maafin aku yang sering pulang malam. Maafin aku udah kurus banget, susah makan sedangkan mesti maksa kalian buat makan meskipun kalian kenyang.

Aku tau aku nggak sempurna, mungkin di luar sana kalian bisa dapat babu lebih baik. Tapi aku menjamin nggak ada babu yang menyayangi kalian dengan tulus selain aku, mengingat tingkah kalian seperti sepeda lipat.

Aku janji aku nggak akan sering nangis, bakalan sering ajak kalian main, bakalan sering mandiin kalian, aku janji bakal berusaha yang terbaik untuk jadi pribadi yang lebih baik, aku janji bakalan terus sabar dan mencoba memahami semua sudut pandang manusia karena aku ingin menjadi manusia. Aku janji bakalan terus semangat untuk diriku sendiri, untuk kalian dan untuk impian-impianku.

Pokoknya terimakasih banyak untuk semua hal yang kalian lakukan selama ini buat aku. 

Semoga kalian berdua tetep bisa sama aku. Nggak berantem berantem. Nggak minggat salah satu karena rebutan wilayah. Tetep temenin aku makan, temenin aku kerja, temenin aku nonton film, temenin aku nangis ntar kalo tololku kumat. Pokoknya begitu.

Nanti aku traktir kalian royal canin.


Selasa, 08 Februari 2022

Tuhan Menciptakan Aku Ketika Bermain Dakon

 Entah mengapa bisnis perjudian tak ada matinya. Sejak zaman batu dan tulang hingga zaman kripto dan kecerdasan buatan. Dan perlu digarisbawahi bahwa di dunia ini tidak ada yang baru, semuanya adalah hal yang sama, berkembang dengan pola berulang. Maka darimana genetik penjudi ini berasal dan makin berkembang. Manusia kera hanya tahu berburu dan bertengkar. Manusia bercocok tanam dirumahkan oleh komoditinya sendiri. Adam, Idris, Noah, Abraham sejak utusan yang mana judi mulai menjadi budaya? 

Kukira itu Tuhan sendiri. Menurunkn judi seperti mukjizat karena mungkin judi adalah olahraga yang memacu adrenalin tanpa harus berkeringat. Dan mungkin begitulah ia dalam penciptaan manusia beserta takdirnya.

Melempar biduk dadu untuk jalan hidupku. Dilemparkannya kedua bilah dadu dengan kedua tangan kanannya yang selalu benar. Kemudian ia tuliskan dalam kitab besarnya.

Jadilah aku boneka hidupnya yang hidupnya penuh perjudian, kugulirkan bidak demi bidak benar dan salah. Sedangkan aku tak pandai berjudi, tak tahu matematika. Habislah aku.

Aku menyerah terhadap hidupku sejak lama. 

Sejak bibirku membusuk terkena penyakit sedangkan aku tak mengecap kasur dan bau desinfektan rumah sakit.

Sejak aku ditampar sandal dan sebagainya. Sejak aku tahu limaratus ribu di kota metropolitan tidak punya arti apa-apa selain bisa tidur tak kehujanan dan tentu saja kepanasan. 

Sejak aku mulai terbiasa menangis tanpa suara. Tapi daduku terkadang berbuah manis. Aku bisa diobati dan dirawat oleh keluargaku yang lain.

Aku bisa bertemu dengan orang yang mencintaiku tulus begitu juga orang tuanya. Memberikan aku segalanya yang tak pernah kupunya. 

Aku dengar dulu mengapa aku tak pernah memakai perhiasan, tak pernah pakai cincin dan anting dari batu mulia karena tidak pantas dengan kulit gelapku. Namun nyatanya semua perhiasan yang kukenakan tak mengurangi nilainya. Akan lebih baik jika kupakai berlian di jari manisku. Begitu katanya.

Seumur hidup aku baru tahu sepatu rancangan desainer sangat berbeda jika dikenakan padaku, di kakiku yang gelap dan kering. Meskipun hanya Christian Siriano aku sangat senang, aku banyak dipuji. Aku suka dipuji. 

Seumur hidup aku baru mengerti mengapa tas mahal harganya mahal. Karena entah mengapa membuat aku lebih percaya diri. 

Segala hal yang kumiliki pergi secepat aku merasakannya. Karena aku tahu aku tak cukup bernilai untuk mendapatkan semua itu seumur hidupku. Yang kupunya hanya harga diri, dan semua yang kunikmati serasa mengikisnya perlahan.

Lahirlah aku menjadi manusia egois dengan pikiran melanglang buana. Melatih cara berpikir dan sikap agar aku pantas berada di level yang pernah kunikmati dengan usaha sendiri. 

Kuberi judul babak itu dengan Pergolakan Hidup jilid sekian. 

Mungkin ketika itu dadu Tuhan sedang bagus.

Apakah aku bisa ?

Iya.

Sementara. 

Karena itulah perjudian, kemenangan cepat pergi secepat ia didapatkan.

Bagusnya aku tak langsung jatuh. Bagusnya aku tak langsung tumbang. Namun sepertinya disitulah petakanya.

Aku tak cepat sadar. Dalam perjudian kalah berarti kamu kehilangan segalanya. Kurangnya kesadaran membuatmu terus menggulirkan dadu dan mempertaruhkan segalanya. Hingga aku tak punya sisa, lalu kupertaruhkan hidupku sendiri karena pikiranku menyempit, tak kusadari berjudi sudah memakan akal sehatku sendiri.

Habislah aku. Meja judi memakan segala yang kumiliki sedangkan otakku masih mencerna “bagaimana bisa?”. 

Aku terlalu bodoh, tak bisa melihat masa depan yang punya banyak variabel, aku cuma tahu masa depan sebagaimana berwujud persis dengan apa yang ada di kepalaku.

Hidup sendiri, tidak bersandar pada apapun dan siapapun, punya rumah bertenaga sel surya, punya strawberry hidroponik, jacuzzi dan dapur kecil untuk memasak.

Hingga aku tahu, manusia bisa sebahagia itu jika bersama dengan orang yang cocok dan pas. Manusia bisa tersenyum setulus itu jika mendapat kasih sayang. Manusia bisa sesempurna itu ketika merasa saling memiliki dan sebagai perempuan bisa merasa sangat gagal jika tidak bisa memberikan sarana penyalur afeksi keduanya. 

Aku pernah meyakini nilai perempuan tidak bisa diukur dari kapabilitasnya membersihkan sela jendela, mencuci piring dan melahirkan. Namun aku mulai mengerti, ketulusan pasangan, ketulusan laki-laki tidak akan pernah terbayar hanya dari cinta dan kasih dariku semata. 

Amat sangat kurang dan tidak adil jika satu hal dari sekian banyak hal di dunia pernikahan tidak bisa ditimang.

Perasaan gagal.

Aku telah melihat wajah-wajah dengan perasaan gagal, mimpi buruk bagiku. 

Ketulusan memang tak pernah bisa dibayar namun bodoh sekali jika aku tak punya alat untuk menawar. 

Daduku kembali digulir. Bingung apalagi yang kupertaruhkan, aku tak bisa mengatur nafasku dengan nyaman, badanku dengan aman. Terlalu jauh aku dibawa lari oleh adrenalin. 

Aku jadi benci melihat orang tulus padaku, menjadi takut dicintai sepenuh hati. Karna tak punya aku sesuatu yang bisa ditawarkan untuk ditukar. 





Notes : jika nanti orang yang mau dan tulus bersamaku menemukan catatan ini, ketahuilah aku sedang berusaha menjadikan diriku lebih dari sisi yang lain, meski aku tahu tak akan pernah sepadan.


Notes II : ditulis ketika tubuh sudah kacau, darah dan air mata sudah tidak bisa dibedakan bentuknya. Nodanya ada dimana-mana. Sedang menanti jadwal kosong untuk check up selanjutnya. 

Luar biasanya masih bisa mengopi double shot espresso dengan santai.


(penyebab luka dan tangis dari semua ini sedang tidur sambil menebar jala untuk menangkap wanita haus cinta yang lain, bantalnya di pintal dengan benang yang berasal dari air mataku) 


Untuk yang kenal aku, tolong bilang alasan untuk tetap tinggal di bumi selain rasa indomi kari ayam di hari hujan enak. Tempat tinggal idealku planet Mars btw.

Hmmmm iya, kucingku sedang beranjak dewasa, mau beli lash agar aku mirip Freya.


Aku pengen makan salju pake sirup marjan.



Dulu ada yang nawarin beliin swift karna mirip minikuper. Semoga bisa beli sendiri. Tapi aku pengennya Kia. 

Semoga aku bisa terus sabar, semoga aku bisa ikhlas nerima ini semua. Semoga aku gak terus terusan ngebenci diriku sendiri.


Semoga aku bisa terus kenal orang baru yang bermanfaat.

Semoga banyak yang sayang sama aku. 

Semoga mbahku bisa bahagia dan ikhlas sama jalan hidupku. Semoga mbahku nggak protes terus terusan sama Tuhan. 

Semoga aku bisa sehat dan gak perlu ngobat-ngobat.

Semoga aku tetep bisa cengengesan kalau ngopi. Semoga aku bisa beli barang barang yang aku mau dengan gampang kayak dulu. Semoga besok aku ngga liat darah darah lagi di badanku.

Semoga nanti ada yang tulus mau peluk aku kalo aku lagi sedih.

Semoga nanti ada yang nemenin kalo lagi pengen minum. Semoga nanti aku bisa makan hai di lao, bisa makan all you can eat.

Semoga bisa makan grill dan shabu shabu sesering yang aku mau.

Semoga nanti bisa punya malamute terus tak pamerin ke orang orang kalo aku punya anjing gede.

Semoga nanti bisa punya caracal, soalnya Mao sama Ben makin tolol dan nggak garang. Tapi aku tetep sayang Mao sama Ben.

Semoga bisa punya rumah sendiri (walaupun ngontrak) sebelum pindah ke rumah baru, karena sungkan kalo pulang malem.

Semoga aku selalu inget nggak selamanya aku bakal sedih, habis sedih pasti bakal seneng. Begitu juga sebaliknya.