Bagaimana mungkin, batinku. Orang yang memutuskan untuk
bersama, saling berbagi, saling menguatkan adalah dua orang yang punya peluang
paling besar untuk saling menyakiti. Yang menjadi belati dalam tiap komitmen
untuk bersama adalah ekspektasi. Berekspektasi bahwa orang dihadapanku akan
menyayangiku dengan cara yang kuingini, sehingga lupa bahwa ia punya caranya
sendiri, cara yang amat berbeda dan ia juga punya ekspektasi padaku,
mencintainya sebagaimana yang ia ingini tapi yang kulakukan tak pernah cukup,
hanya mengisi seperempat tiang dan ia terus mengucurkan perhatian namun tak
pernah sampai sebagai wujud kasih sayang.
Jika saling memiliki adalah cara mengisi dunia afeksi,
bagaimana mungkin berkali-kali jadi menangis karna tak kuasa ingin pergi. Mengapa
pula ketika memeluk terasa begitu pelik, bahkan setelah mengecup risaunya tak
pernah mau takluk. Mengapa jika saling bersama katanya bisa saling bahagia
namun ketika selalu bersama makin terluka ?
Aku yang tak pernah mencinta dan memiliki secara bersama
terlalu tinggi mengira, fantasi yang aku rancang sejak dahulu akan mencukupi,
melegakan hatiku dan aku tak perlu berkeinginan lagi. Yang kupunya telah cukup.
Meski kadang menangis dalam hati karena berbeda perihal pendangan terhadap
afeksi, berbeda terhadap konsep memiliki, meski tangisan tak lagi sanggup
menetap dihati hingga harus jatuh di pipi. Aku selalu yakin. Mencinta memang
seperti ini. Mencinta adalah menjadi seperti yang diingini orang dihadapanku,
mencinta adalah menyerahkan diriku, mencinta adalah membagi diriku lalu
memberikan setiap kepingnya meski dalam prosesnya aku beruarai air mata.
Mencinta memang proses panjang berisi tangis dan tawa berulang-ulang. Aku sibuk
mencinta, sehingga lupa aku harusnya bahagia dengan diriku sendiri, dari diriku
sendiri.
Berulang kali mencoba, membongkar dan memasang ulang konsep
mencinta dan memiliki, tak pernah sampai. Meski dimulai dari bahagia yang
paling sederhana, mencinta selalu berakhir di frasa memiliki yang tak pernah
ada filsuf atau teolog memberikan garis yang jelas dimana kita bisa memeluk
erat, berhadapan atau merelakan. Aku dan kamu adalah yang paling terluka dari
garis imajiner ini, namun tak saling sadar karena saling menyalahkan. Padahal sudah
waktunya merelakan.
Menjadi aku dan kamu mungkin adalah impian orang lain, tapi
hidupku dan hidupmu tidak dimaksudkan untuk mengenyangkan imajinasi mereka. Heranku,
mengapa orang tak kunjung berpikir sendiri pun tak apa. Semua orang bisa. Memang
cinta candu, semua juga berpikir begitu, aku juga masih ingin mencinta namun
yang kudahulukan keenggananku untuk terluka apapun alasannya.