Jumat, 09 September 2022

Arus

 Kufikir sudah lama aku tidak merasakan perasaan sakit seperti ini. Perasaan tubuhku menolak apapun, menolak kopi yang aku minum, air putih yang aku tenggak, orang yang aku temui, suara-suara yang asal muasalnya ingin aku bungkam. Telapak tanganku yang bergetar dan berkeringat tipis, mungkin ini tentang kafein. Aku sudah puasa kafein 2 bulan, tapi tak tahu mengapa ini masih menyakitkan. Atau mungkin karena variabel lain. Seperti bulan yang tidak terlihat karna langit mendung, kopi berkafein tinggi, intro gitar yang diulang-ulang, jutaan panah jarak aku dan kamu serta garis imajiner diantaranya.


Kutahu dan semua pasti tahu yang berwujud akan musnah. Tapi kamu, kefanaan dan kekekalan dalam satu penciptaan. Tubuhmu hilang, kemungkinan besar hancur tapi kehadiranmu tak selalu tentang wujud banyaknya tentang makna. Bagaimana sebuah makna akan tiada ? Memusnahkan makna tidaklah mungkin, tak bisa ia menjadi abu, hanyalah bisa beku oleh waktu kemudian meleleh sewaktu-waktu. 


Setelah sekian lama, aku kembali punya mimpi, aku tak mengerti apakah memang mimpiku terlalu tinggi, amat tidak mungkin. Apakah sejauh ini bukannya mimpi melainkan khayalanku? 

Bukankah ketidakmungkinan itu seharusnya tak terwujud di dunia nyata ? Seharusnya kamu hanya menjadi imajinasi tak perlu dibuktikan dengan eksistensi. Jadi tak perlu repot aku meraba energi, memandangi langit kosong terus-menerus untuk melukis mimpi sambil menahan mata yang makin memburam, mencukupkan apa yang hanya sanggup aku punya.


Katamu tidak ada namanya membuang waktu, jadi pasti kamu punya jawaban mengenai apa yang kuhadapi kali ini.

Bahkan pertanyaan ini hanya mendapat jawaban dari lengang jalan, dari deru roda berat kendaraan yang lewat, kepalaku tak punya jawabannya. 


Kutatap jarakmu yang makin tak masuk akal, aku tak bisa bicara pada apapun selain gelombang dan denging berisik di telingaku. Berbisik pada hal-hal yang sebelumnya tak kupercaya ada. Pada laut yang kupikir arusnya akan menyentuh kakimu suatu hari. Pada kabut yang mungkin membuatmu gigil di dini hari. Pada angin yang berarak menyibak rambutmu. Berharap semuanya berbisik, menyampaikan, menagih dan menunjukkan bahwa aku tidak bergeming dan aku siap berlari kapanpun. Dan tak peduli siapapun. Musnah rasa takutku. 


Hanya bisa kujawab omong kosong di kepalaku dengan omong kosong lain. Bukankah membuat orang linglung dan hilang arah adalah perbuatan ilegal ? Manusia repot membuat dinding dinding tak kasat mata, tapi tak punya ancaman pasti untuk hal-hal yang pasti dialami manusia seperti ini. Manusia pusing dengan ketakutan-ketakutan terhadap hal yang bisa dipecahkan oleh sains di kemudian hari daripada hal-hal yang mengaduk-aduk emosi seperti ini. Manusia makhluk pengkhayal kebanyakan tidak visioner, sebagian sisanya menyepelekan kebimbangan, kebingungan, kehilangan, jiwa yang memudar perlahan dan jati diri yang terkikis mengenaskan.


Aku tak bisa berhenti bertanya, terus menerus bertanya. Aku benci orang yang mengguruiku menyuruhku melepas ikhlas. Meninggalkan dan melupakan. Mengambil hikmah dan pelajaran. Belajar tentang rela dan asa.

Senaif itukah manusia ?

Apa yang bisa digenggam dari kehilangan ?