aku di persimpangan jalan, dua arah menuju takdir yang entah apa tujuannya. Hanya ada satu tiket yang akan membawaku keliling dunia. Dunia yang aku impikan, bukan dunia yang aku inginkan.
Aku berdiri di persimpangan jalan, bersiap untuk memijak apapun. Aku butuh satu tiket lagi untuk pulang, ke rumah yang aku belum pernah punya. Aku mau menidurkan kembali mimpiku dan mungkin nanti kugapai dengan kamu disisiku. Aku tidak keberatan mendaki dan merangkak, asal aku bisa pulang.
Aku berdiam lama, aku tidak jago berjudi, aku tidak mau melempar hidupku atas dasar percaya.
Aku berdiri, pagi hingga petang. Matahari terbit dan terbenam di pelupuk mata.
Tiket pulangku belum di tangan.
Haruskah aku putuskan? Tiket pulang tidak akan ku genggam ?
Karna, kamu jalan yang tak mau aku lewati, aku penumpang yang tidak kamu inginkan.
Bagaimana jika jalan itu ternyata sampai sekarang pun masih mengharapkan dan menunggumu untuk lewat? Soal tiket pulang, kau hanya mengangankannya, bukan mengusahakannya. Setelah semua yang kau lalui, fuck you jika kau tidak berani bertaruh dan mengusahakan tiket itu, Lilith.
BalasHapus