Sekali waktu mungkin kita bisa menjadi angsa, yang tak pusing besok makan apa, sehelai daun talas bisa menjadi rumah teduh dari hujan dan gemuruh.
Acara kita sehari-hari hanyalah berenang dan berlomba siapa yang paling cinta siapa.
Tapi menjadi angsa kadang ide buruk, karna angsa tak bisa menaruh hati pada angsa lain bahkan ia sampai mati kesepian. Dan kamu tak layak untuk itu. Aku tak pernah ingin membiarkanmu terperosok pada jurang yang sama, jurang panjang tak terlihat dasarnya dan seakan akan terjun untuk selamanya, lebih mengerikan karena tidak ada apapun yang menunggumu di dasar karena tak pernah ada dasarnya. Tak ingin kupahami terjunmu kembali karena imajinasiku tak sanggup menanggungnya. Jadi aku akan mengeliminasi kemungkinan menjadi angsa.
Aku mulai sadar bahwa yang aku genggam saat ini bukan simpati atau empati, ia tumbuh begitu saja karna mungkin lukaku pun sama jadi seakan akan luka ini berlari menyambut temannya.
Sayang sekali aku tak punya keberanian mengakui bahwa hidupku juga sepi. Sangat berkebalikan denganmu, sesepi itu jurang panjangnya, tak ada dasar, tak ada yang menanti dibawah sana dan hal yang kau mampu hanyalah berteriak agar tetap sadar.
Aku ketakutan setiap hari, terhenyak setiap waktu. Rasanya ini adalah kesepian yang sesungguhnya.
Sekali waktu kadang kuharap kita adalah paus pembunuh mengarungi samudra hanya berdua dan tak keberatan sendirian kapan saja. Tapi memahami diam mu yang tak terduga juga tekanan tersendiri, menyelami celotehmu pun hal yang sulit kudalami. Itu yang membuatku merasa tak berguna, sedangkan pertemuan dan perkenalan ini harusnya bermakna dan setara. Aku ingin tahu lebih dalam tapi aku bodoh membaca gumaman, radar dan suara.
Yang ku genggam hanyalah untaian aksara tapi juga tak kumengerti ada apa dibaliknya.
Kubaca berulangkali, makin tak kumengerti, makin tak mau aku melepas ini dan mengarungi hidupku sendirian lagi.