Selasa, 11 Desember 2018

NIKAH MUDA : Perempuan, Norma, Budaya dan Eksistensi.

Beberapa waktu yang lalu saya bermain ke rumah saudara saya, yaaa termasuk saudara dekat juga. Kemudian bertepatan dengan telefon dari ayah saya, saya berbincang agak lama. Setelah selesai kemudian saudara saya menanyai saya
Sepertinya dia mendengar obrolan saya dengan ayah saya tentang keinginan saya yang ingin lanjut studi dan meminta doa ayah saya supaya saya berkesempatan mendapat beasiswa penuh.

Saudara saya tanya "del, kamu nikah umur berapa ntar?" Pertanyaan yang remeh, jika ini ibu saya, saya akan menjawab kalo saya akan berkembang biak dengan membelah diri, karna sesungguhnya saya belum pernah memiliki ide untuk menikah. Tapi saya jawab dengan jawaban rasional bagi masyarakat pada umumnya agar pertanyaan ini mendapat jawaban yang pantas.
"Mungkin 28 mbak"
saya kira jawaban saya sudah teramat wajar karena dalam otak saya, saya melakukan perhitungan kecil kecilan dari mulai umur saya lulus studi saya di tahun ini, ditambah rencana saya studi lanjutan nanti dan beberapa tahun untuk berkarir, namun agaknya saya memilih jawaban yang salah.
Kemudian terlontarlah nasehat nasehat pedas seperti
"Mashaa Allah itu tua banget, kamu mau punya anak umur berapa, nanti adeknya anak pertama kamu lahir kamu udah umur berapa, nikah ngga tentu langsung punya anak loh del, kamu emangnya gamau jalan bareng sama anak kamu dilihat orang kayak kakak adek".
Saya cengo untuk beberapa saat sambil cengar cengir.
"Kamu tau, semakin tua kamu nikah kamu semakin beresiko untuk hamil dan melahirkan, kamu lihat sendiri aku hamil di usia 20an aja susah banget sampek itu dua-duanya caesar". Saya tambah cengo karna obrolan ini mulai merembet ke science.
"Kamu looh, meskipun sekolah tinggi banget juga ngapain, iya kalo suami kamu ridho kamu berkarir, kalo engga, masa kamu mau ngelawan suami kamu, ridho suami itu ridho nya Allah del, liat itu tetangga ku lulusan psikologi dia, skrg juga dirumah, kodratanya perempuan itu dirumah dell, kamu loh ngerawat anak, dan jadi ibu rumah tangga juga sudah jadi pahala"
Ketika memasuki obrolan ini, otak saya sedang melintasi univers dan mencari portal atau lubang cacing yang bisa mengirim saya sejauh mungkin pindah galaksi, membuka kemungkinan multiple reality dan hidup di realitas lain.
"Kamu loooh semakin kamu sekolah tinggi, laki-laki juga tambah takut nikahin kamu". Dalam hati saya menjerit "BODO AMAT" tapi karena saudara saya telah lelah mencari sumber sumber yang kredibel untuk mendukung opininya tentang "menikahlah sedini mungkin demi hidup yang sejahtera" kita harus hargai.
"Haha iya juga yaa mbak ya"
"Iya mangkanya, kamu kalau udah lulus yaa kerja terus kalo udah ada jodohnya ya udah, buat apa nunggu lama-lama".

Hahahahah
Sungguh obrolan termenyakitkan yang pernah kualami.
Dan saya berhenti untuk menginap di rumahnya sejak saat itu.
.
Saya adalah perempuan Jawa Timur daerah pinggiran atau pesisir, namun lahir dari dua keluarga yang menjunjung nilai-nilai Jawa central. Dari kecil dibiasakan untuk menghormati, menjunjung tinggi nama keluarga, berbudi pekerti dan berpendidikan.
Kemudian saya dilahirkan di keluarga Islam yang bisa saya katakan ekstream bukan abangan seperti lingkungan saya. Menjadi perempuan seperti saya berarti harus berhenti memikirkan kemerdekaan seperti yang saya mau. Ketika perempuan lahir maka kemerdekaannya dipegang oleh kedua orang tuanya. Ketika ia sudah haid kehormatan keluarga ada di tanganya. Ketika ia menikah kemerdekaannya diserahkan kepada suami, sebagai ganti ia adalah simbol yang mewakili keluarganya di depan keluarga pihak laki-laki. Berbuat salah, hancurlah reputasi keluarga. Di usia senja kemerdekaannya milik lingkungan sosial dan Tuhan.
.
Dilahirkan menjadi perempuan berarti saya terlahir dengan simbol seksualitas tak kasat mata, karna sejak zaman yunani simbol keindahan diwakili dengan wanita telanjang. Disertai dengan perkembangan zaman dimana eksploitasi tubuh wanita membabi buta. Wanita menjadi iklan sabun mandi, wanita berbikini di berbagai peragaan busana, wanita menjadi iklan perawatan wajah dan wanita dianggap memiliki rasionalitas dan intelegensi lebih rendah daripada laki-laki. Selain itu wanita dipercaya sebagai pelaku pelecehan seksual yang dialami oleh wanita itu sendiri.
Hahahahha ironi.
.
. Dilahirkan menjadi perempuan di keluarga Jawa berarti sampai mati saya harus menjadi bagian dari Patriarki kelas kakap. Tidak bisa menyuarakan pendapat dalam urusan politik keluarga (jika memaksa akan digunjingkan dan di cap femme fatale), tidak memiliki posisi yang sama dengan laki-laki, dan sudah didengungkan dimana mana kodrat wanita itu adalah sumur, dapur, kasur. (Bersih-bersih, memasak dan melakukan hubungan seksual dengan suami).
.
.
Kemudian saya kebetulan lahir di keluarga kecil hamba Allah sejati. Keluarga Islamis yang sedikit ekstream. Menjalankan syariat islam tanpa terkecuali, dimana menurut saya posisi perempuan sangat paradoks. Seperti surga ditelapak kaki ibu. Namun di sisi lain Ridho suami adalah ridho Allah. Tidak patuh pada suami berarti mendapat murka Allah. Perempuan tidak bisa mengajukan talak, yang berhak mengajukan talak adalah laki-laki, jika perempuan memberikan talak maka talaknya tidak sah. Perempuan mendapatkan sepertiga bagian sedangkan laki-laki duapertiga.
Di neraka penghuninya kebanyakan perempuan.
Mengutip yang dikatakan saudara saya, jadi perempuan saja dirumah, berberes dan mengurus anak sudah dihitung pahala. *mudah bukan?
.
Jika saya punya kesempatan menggunakan time travel, saya akan kembali ke masa dimana saya lahir kemudian saya akan berteriak kepada Della kecil "TRIPLE KILL" .
3 kali kekalahan dalam sebuah wujud manusia.
.
Tidak hanya di Jawa atau di dalam agama Islam, wanita dipandang tidak memiliki kesetaraan dengan laki-laki hampir diseluruh masyarakat dengan slogan yang sama "laki-laki berpikir menggunakan logika dan rasionalitas, perempuan berpikir menggunakan hati" (padahal hati adalah organ pemecah lemak dan penawar racun)
Padahal sesungguhnya ketika pembuahan terjadi kromosom ayah yang dibawa sperma, dan kromosom ibu yang tertanam di sel telur masing masing akan bercampur. Sehingga sebuah embrio akan memiliki setengah kromosom ayah dan setengah kromosom ibu. Dan sejak menjadi embrio manusia membawa androgynitas. Laki-laki dan perempuan.

Terjadinya perbedaan fisik antara perempuan laki-laki disebabkan ketika masa konsepsi yaitu sel telur yang mengandung 22 pasang kromosom sejenis 22AA dan kromosom seks XX bergabung dengan sel sperma yang mengandung 22 pasang kromosom sejenis 22AA dan kromosom seks XY.

Jika kromosom seks perempuan bergabung dengan kromosom seks X dari laki-laki maka melahirkan bayi perempuan. Dan jika kromosom seks dari perempuan bergabung dengan kromosom seks Y dari laki-laki melahirkan bayi laki-laki. Berdasarkan perbedaan jenis kromosom seks yang dimiliki perempuan dan yang dikeluarkan oleh laki-laki, menghasilkan jenis kelamin tertentu. (Hurlock, 1980)

Manusia membawa masculinity dan femininity.
Maskulinitas dan feminitas seringkali dipandang sebagai citra yang bersifat internal dan menetap, padahal sebenarnya merupakan produk dari budaya yang dinamis dan berkembang.

Saya beberapa kali kaget melihat psikotes saya yang selalu menunjukkan sisi rasionalitas saya yang lebih dominan. Saya sempat terpikir bahwa kemungkinan saya mengalami cacat psikologis, namun kemudian saya tahu bahwa saya hanya keluar dari konstruk masyarakat, karena sejak lahir saya membawa identitas kedua orang tua saya dalam DNA.
Namun masyarakat tetap setuju bahwa wanita adalah entitas yang lebih lemah daripada laki-laki. Hell no. Karena masyarakat dan media mengkonstruk hal tersebut sejak lama, media menampilkan, masyarakat berkeyakinan kuat. Yang disorot adalah wanita cantik jago akting, berjalan dan menyanyi. Sedangkan wanita-wanita yang melakukan pekerjaan manly buram di media. Karena masyarakat mencintai, suka dengan tipe-tipe wanita yang ditampilkan di media. Warisan rekonstruksi beribu-ribu tahun yang lalu dan terus eksis.
.
Pendidikan dan kesetaraan diproklamirkan oleh seorang Aristokrat Jawa bernama RA Kartini melihat realitas hidupnya yang tidak memiliki kedudukan sama dengan laki-laki dalam hal pendidikan seperti sahabat pena-nya.
Kartini tidak puas dengan kenyataan bahwa hidupnya dan hidup perempuan lain hanyalah bersih-bersih, memasak, melakukan aktivitas ranjang dan mungkin bergossip dengan tetangga. Perempuan dipandang dependen berwatak mengasuh dan merawat. Pandangan tersebut sesungguhnga bias karena sulit ditemukan kebenarannya, sebab realitas dalam kehidupan cukup banyak laki-laki yang berwatak mengasuh dan cukup banyak perempuan yang mandiri (Eagly, 1978)
Perempuan yang lemah, memiliki emosi tidak stabil adalah hal yang diinginkan dan dikonstruk oleh masyarakat.
Di sistem kemasyarakatan Jawa, perempuan diharuskan menggunakan bahasa yang berbeda, ketika berbicara dengan yang lebih tua, yang lebih dihormati dan kepada suaminya. Bahasa Jawa memiliki level level tertentu dan harus digunakan secara tepat dengan lawan bicara, seperti halnya kepada suaminya lebih baik mengucapkan "kulo mboten sios medal mas" daripada "aku gaksido budal beb".
Dan perempuan yang dibesarkan dengan ideologi Jawa tidak seenaknya dapat melakukan kehendaknya bahkan dalam berkomunikasi.
Memang yang diperjuangkan Ibu Kartini merupakan kemajuan yang drastis dimana perempuan sudah dapat mengenyam pendidikan yang layak, namun kembali lagi dalam konstruk yang dibuat masyarakat, perempuan tidak dikehendaki overpowering daripada laki-laki. Perempuan yang mengenyam pendidikan tinggi di pengaruhi dengan fakta bahwa laki-laki tidak mau diungguli apalagi dalam hal intelegensi, sehingga perempuan yang mengenyam pendidikan yang tinggi akan susah untuk dipinang lelaki.
Hal yang parah terjadi di Tiongkok, kebijakan 1 anak dalam sistem patrilinialisme membuat tingginya angka aborsi terhadap bayi perempuan, sehingga jumlah perempuan dan laki-laki tidak seimbang. Uniknya, perempuan tetap dianggap entitas yang sepele dan dihujat habis-habisan ketika mereka mengenyam pendidikan yang tinggi. Bahkan perempuan yang melewati umur 25 tahun dan belum menikah di cap dengan label "perempuan sisa" untuk menjatuhkan perempuan di bawah kuasa laki-laki yang enggan mengakui eksistensi perempuan. Sehingga perempuan di Tiongkok akan berpikir berkali-kali untuk lanjut studi dan berkarir.
.
. Dalam Islam perempuan dapat dengan mudah mendapatkan pahala, hanya dengan menurut kepada suami, bersih-bersih rumah, membesarkan anak, memasak, bahkan melahirkan diganjar dengan pahala jihad. Disisi lain, saking dianjurkannya 'menurut' dengan suami,  perempuan harus selalu izin dengan suaminya kemanapun ia pergi, jika tidak maka ia akan dilaknat oleh Tuhan dan malaikat. Perempuan dilarang menggunakan wewangian yang semerbak karna akan diganjar hukuman layaknya pelacur. Perempuan dilarang berhias berlebihan saat keluar rumah dan hanya boleh berhias di depan suaminya. Perempuan harus selalu mengagungkan dan 'manut' kepada suaminya. Kehidupan perempuan sebagai ibu rumah tangga saja sudah mendapat berbagai pahala.
Namun apakah semua perempuan sanggup melakukannya ?
Saya adalah hamba Allah yang mendamba surga namun saya tidak tergila-gila melakukan banyak hal demi mendapat pahala, saya lebih suka melakukan hal positif dengan alasan humanity karen saya manusia saya hidup bersama masyarakat, bersama manusia. 
Lagipula saya teringat riwayat yang mengisahkan seorang pelacur yang masuk surga karena memberi minum anjing yang sekarat, secara logika manusia, dosa pelacur sudah pasti membuat dia terlempar di neraka jahannam dan ditusuk organ genitalianya sampai tembus mulut. dan anjing, terkena liurnya saja manusia harus membasuh 7 kali salah satunya dengan tanah. 

Kemudian saya teringat pula riwayat yang mengisahkan seseorang yang hidup selama 80 tahun dan selama hidupnya ia lakukan untuk beribadah kepada Allah, mengumpulkan pahala. 
Dan ia masuk surga hanya karena rahmat dari Allah. Bukan tumpukan pahala yang ia punya. Ketika ia protes, sebelah matanya saja ketika ditimbang tidak bisa mengimbangi nikmat yang diberikan Tuhan.
Ada banyak cara untuk mencari rahmat Tuhan, dan saya percaya jika Tuhan tidaklah akan mengabaikan bagi perempuan yang mencari ilmu, untuk dirinya dan berdedikasi untuk masyarakat seperti Malala Yousafzai (siapa dia ? Google aja braay)
 hidup teramat melelahkan untuk mengumpulkan poin seumur hidup, sedangkan hitungan kita dan hitungan Tuhan sangatlah berbeda.


Sesungguhnya sampai detik saya menulis ini saya tidak mempunyai keinginan untuk menikah. Karna saya ketakutan dengan konstruk yang dibangun masyarakat akan berbenturan dengan diri saya sendiri. Saya tidak ingin gagal menjadi individu, cukuplah saya kalah sekali dalam kelahiran saya. 
Apakah saya study dan berkarir karena ingin dipandang tinggi di masyarakat ? 
Sayangnya tidak. 
Saya ingin study dan berkarir karena saya ingin, karena saya suka. Saya suka baca, saya suka mencari hal-hal baru, saya suka memahami dan ternyata meskipun saya misoh misoh ketika saya melakukannya saya suka mengerjakan sesuatu yang mengharuskan saya mengeluarkan effort berlebih bahkan membuat saya begadang semalaman.

Mayoritas orang berpendapat bahwa lebih baik menikah dini untuk menghindari perzinahan. Pendapat ini benar.

Namun, Bagaimana jika saya berpendapat bahwa pernikahan bukan hanya penyatuan dua individu namun pernikahan dua individu berarti pernikahan dua keluarga, menikah dengan suami berarti menikah dengan segala lapisan sosialnya begitu juga sebaliknya. 
Dan saya lebih suka untuk tidak membayangkannya dalam waktu dekat ini. 

Menjadi putri dari orang tua ekstrimis islam berarti saya juga harus menikah dengan laki-laki dengan latar belakang super agamis, menjunjung tinggi syariat Islam, melaksanakan firman  Tuhan dan melakukan sabda dan sunnah nabi. 

Kemudian pernikahan di usia dini bagi saya yang telah hidup mengalami berbagai lingkungan kemasyarakatan dan melihat realitas sosial, sungguh berat bagi saya untuk membina sebuah keluarga tanpa persiapan apa-apa.
Tidak dipungkiri lahir dari keluarga subsisten, masyarakat subsisten, melihat dan mengalami kapitalisme gila-gilaan, membuat saya berpikir ratusan kali untuk pernikahan yang tanpa persiapan. Meskipun dibiasakan hidup secara sederhana dan menjauhi hedonism tidak bisa dipungkiri bahwa kita ada ditengah kapitalisme baik disadari maupun tidak. Dan kita tidak bisa bertahan terus terusan dengan menjadi subsisten seumur hidup.
.
Okelah, mari kita khayalkan jodoh saya anak dari pelaku kapitalis berbasis syariah (terserah gimana ceritanya)
Saya tetap memiliki ketakutan, tentang apakah saya bisa memiliki kemerdekaan saya sebagai individu ?
Saya sungguh tidak mengerti sejauh apa ridho yang akan diberikan suami saya nantinya.

Misalnya bagaimana jika dia tidak meridhoi saya memiliki pemikiran bahwa manusia masa kini adalah percampuran penciptaan manusia purba dan manusia superior seperti adam ?
Atau sejatinya manusia adalah entitas yang diciptakan dari rekayasa genetika oleh makhluk yang lebih superior untuk menjadi pekerja.

Atau pemikiran saya yang lebih kompleks seperti Tuhan tidak pernah membedakan agama langit dan bumi, segalanya adalah konsep yang memiliki kontinuitas dan saling terkait.
Atau tentang jodoh yang sebenarnya adalah DNA manusia yang saling mengenal lewat kontak fisik, keringat, aroma tubuh dan look kemudian menyatakan cocok.

Atau apakah suami saya dapat meridhoi ketika saya berpendapat bahwa mengasuh anak sebenarnya adalah potensi seorang perempuan namun bukanlah kewajiban sehingga dalam rumah tangga tidak selalu benar bahwa perempuan harus selalu dirumah dan laki-laki sebagai pencari nafkah.
.
Atau apakah suami saya akan meridhoi ketika saya menggunakan make up untuk keluar rumah atau untuk dipajang di sosial media saya 
(Netijen be like : ngapain mbak ? Mamer ke laki laen biar dikata cantik ? Atau mamer ke perempuan laen soalnya ngeluarin duit buat beli ini itu?) Hahahahahahah -________-

. "Menikah dini lebih baik daripada zina" hal tersebut bukan merupakan premis yang salah, namun apakah semua insan di seluruh penjuru dunia ini akan berzina ketika saling mengenal atau ketika menjalin relasi yang lebih intens ?
 Zina memang memiliki definisi yang lebih ribet daripada sekedar melakukan hubungan seksual,
Ada yang mengatakan bahwa pacaran sudah merupakan perbuatan zina,
Meskipun hanya chatting. Namun ada banyak lagi jenis-jenis zina seperti zina mata, zina pendengaran, zina pengucapan.
Dalam kesehariannya manusia banyak melakukan zina. Hanya dengan menikah manusia tidak terbebas dari zina. 

Saya sangat setuju jika menikah untuk menghalalkan dua insan untuk relasi yang lebih intim. Karena siapa yang tidak ingin memiliki keluarga sakinah, mawadah dan warohmah. Menjadi perempuan tangguh simbol dari kehormatan rumah tangga dan pendidik pertama anak-anaknya.
tapi saya kurang setuju dengan tujuan menikah yang hanya untuk menghalalkan zina (hubungan seks) dua sejoli yang dimabuk cinta.
.
Pada akhirnya, bukan masalah jika perempuan mau menikah, menikah dini atau berkarir. Karena setiap manusia memiliki kapabilitas yang berbeda, bakat berbeda, kemampuan dan kemauan yang berbeda. Bagi saya, saya melakukan apa yang saya mau tidak peduli dengan esensi yang dibangun masyarakat secara susah payah dan turun temurun selama saya hanya membuat orang iri hati dan dengki namun tidak melukai secara mental atau fisik orang lain tetap akan saya lakukan.
Dan agaknya semua perempuan juga harus berhenti untuk persuasif, mengompor-ngompori perempuan lain untuk hidup seperti dirinya dengan alasan esensi dan norma padahal mungkin itu merupakan pemaksaan terhadap seorang individu untuk melepas eksistensi individu tersebut demi mengikuti eksistensi dirinya sendiri (persuator)
Jadi akan saya jawab lewat sini saja pertanyaan-pertanyaan saudara saya kemaren.
 "del, kamu nikah umur berapa ntar?"
Ngga tau kalo ngga sabtu ya minggu

"kamu mau punya anak umur berapa?"
Sedapetnya

"kamu emangnya gamau jalan bareng sama anak kamu dilihat orang kayak kakak adek".
ada produk yang sangat canggih di era global ini dinamakan skincare anti aging

"Kamu tau, semakin tua kamu nikah kamu semakin beresiko untuk hamil dan melahirkan, kamu lihat sendiri aku hamil di usia 20an aja susah banget sampek itu dua-duanya caesar".
Belum ada research science nya

"Kamu looh, meskipun sekolah tinggi banget juga ngapain, iya kalo suami kamu ridho kamu berkarir, kalo engga, masa kamu mau ngelawan suami kamu, ridho suami itu ridho nya Allah del, liat itu tetangga ku lulusan psikolog dia, skrg juga dirumah, kodratanya perempuan itu dirumah dell, kamu loh ngerawat anak, dan jadi ibu rumah tangga juga sudah jadi pahala"
Aku kan lagi hidup di dunia, bukan lagi ngumpulin poin kayak kuis family 100

"Kamu loooh semakin kamu sekolah tinggi, laki-laki juga tambah takut nikahin kamu".
Yaa  kriteria aku laki yang bodoamat sama gelar dan pencapaian aku atau berjuang sampe menurut dia, dia pantas buat aku *tae tae tae tae*

"Iya mangkanya, kamu kalau udah lulus yaa kerja terus kalo udah ada jodohnya ya udah, buat apa nunggu lama-lama".
Iya nunggu DNA ku mengidentifikasi orang yang dia mau.
.
. Sekian, jangan takut berbeda, tiap pilihan tidak ada yang salah selama kita bertanggung jawab dengan pilihan itu cintakuuuu.

Sabtu, 11 Agustus 2018

SAYAP DAN PENYINTAS

Seseorang tidak bisa melepaskan sayap yang telah terkepak dan membawanya ke banyak tempat. Meskipun tak sampai pindah negara atau pindah planet. Kepakan sayap dengan motor seperti itu cukup untuk melintasi dimensi-dimensi tak kasat mata. Dimensi yang menciptakan ruang berselaput, kedap suara, kedap dari ceracau individu lain. Ruang yang tak berbatas jarak, tak memiliki nilai tukar, luput dari sistematika penghitungan. Ruang yang memiliki oksigen, nitrogen, karbon dioksid dan monoksid nya sendiri. Ruang yang melintasi jalan yang menyimpang, menukik, memotong. Ruang dimensi cermin tak berbatas yang membatasi hadir, sentuh dan lihat. Ruang terluas yang menyibak aturan, mendekap malam dan bungkam pada dengungan burung hantu.
Sayap sekecil itu bisa membawa ke ruang seajaib itu, lebih dahsyat dari berita amstrong di bulan. Setiap kepakan sayap punya ritme agar tak jatuh, agar stabil. Agar motor penggeraknya tak mudah aus sehingga mogok ditengah jalan kemudian menjadikan jatuh. Ritme yang dilakukan berulang ulang, terus menerus membuat kepakan sayap menjadi rutinitas, melayang adalah prioritas dan terbang adalah bonus.
Namun manusia diciptakan dengan terminologi yang berbeda, tak cukup dengan ruang istimewa, selayaknya mortir manusia bersayap ingin mengelilingi semesta, berjingkat disana, tiarap disini. Terbang lagi, yang penting ritme kepakan sayap selalu terjaga, tak perlu montir turut serta ambil andil menyervis baut dan mur. Tenaga ini milik penyintas, berbaur dengan darah dan debur jantungnya.
Lepas dari dimensi semenarik itu, maka kini segalanya harus ditabrakkan, dipertemukan, harus hadir, harus saling berucap, harus saling mengerti kendati tak saling mendekap.
Sepasang sayap kecil tak kasat mata, sekelumit tawa dan deburan aliran darah yang di pompa jantung. Jangan sampai dia anemia.
Tak perlu merebahkan diri pada dada yang busung, atau bahu yang hangat, sayap milik penyintas bisa istirahat hanya dengan sepersekian desible tanda agar waspada. Sesederhana itu di dunia yang serba rumit, di tempat serba akrobatik. Sayap dan penyintas sudah seperti paket lengkap keliling dunia tanpa harus kemana-mana, meskipun sayap bisa membuatnya kemana-mana hingga antar galaksi sekalipun. Dimensi kaca buatan sendiri bermetamorfosa layaknya rumah dan taman bermain, tempat ia jungkir balik sekaligus tempat ia pulang.
Lalu mari kita pikirkan bisakah itu semua ditanggalkan ? Bisakah itu semua dilucuti satu persatu ? Karna segalanya tak bisa berdiri sendiri sendiri, semuanya ramuan bak konstelasi bintang, asteorid, meteorid di bimasakti. Kita ambil satu maka tumbanglah segalanya. Hancurlah ritme dan rutinitas, pecahlah dimensi imaji, runtuhlah bahu dan air mata.
Lalu dimana dia dan apakah ini ? Jikalau ini puisi mana rima ketika iramanya kacau hambur entah kemana. Jikalau ini lagu sungguhlah ini masterpiece dengan dinamika luar biasa namun sampai seberapa oktaf kah jerit ini akan di antiklimakskan ? Bilakah penyintas, sayap engkau dan ruang hablur dikembalikan ? Melihatkah engkau pada haus telingaku ? Mengertikah engkau pada tanya besar di kepalaku. Kita tak perlu saling tanya karna tak ada gunanya, kita akan terperosok dan susah payah menggapai bibir setelah merenung amat lama. Kita tak perlu kemana mana, cukuplah rutinitas bersayap yang membawa terbang dalam dimensi tunggal antar perasaan. Janganlah dulu bermimpi melintasi galaksi, kecewa kita harus dulu saling diobati.