Sabtu, 21 November 2020

KALENDER

 Sederhananya meskipun tidak suka merayakan segala sesuatu, terkadang aku memberi reward pada diriku sendiri. Setelah berbagai hal dan aku akhirnya dapat mencapai tujuanku. Mungkin itu juga yang dirasakan orang ketika merayakan berbagai macam hari-hari yang menurut mereka special. 100 hari jadi, satu tahun hari jadi, satu tahun hari putus, hari kelahiran, 7 hari setelah kelahiran, kematian, 7 hari setelah kematian, 100 hari setelah kematian, 1000 hari kematian. Terlalu banyak hari hari yang ingin diingat dan dirayakan orang orang-orang. Terkadang mereka membuat sendiri alasan, mencari-cari momen hanya demi mengadakan selebrasi. Entah mengapa aku alergi.

Aku berhenti merayakan ulang tahun dan mengingat ingat hari kelahiran serta umurku ketika aku berumur 17 tahun. Usia 17 adalah usia yang sakral dan dinanti nantikan, karena aku dan semua orang akan tercatat secara resmi sebagai warga sipil, dan mulai mempunyai beraneka ragam kartu di dompet. Setelah segala euphoria 17 tahunan mulai hilang, disanalah tersadar bertumbuh dewasa tidaklah semudah dan senyaman itu. Jadi sejak itu aku berhenti berselebrasi, bahkan terkadang lupa usia ku yang sesungguhnya. Ketika diminta mengisi sebuah data aku harus menghitung dengan kalkulator. Mengetik, tahun sekarang dikurangi tahun kelahiranku. Terkadang hasilnya membuatku sedikit kaget. Dalam hatiku tetap berontak. "this must be broken, im fucking seventeen bitj".

Bertumbuh dewasa menjadikan pemikiranku makin kompleks, makin banyak variabel yang harus kuhadapi, makin banyak tanggung jawab yang harus kuatasi. Dan membahagiakan diri tak semudah lagi seperti bolos sekolah untuk jajan bakso dekat pantai. Konsep bahagia di kehidupan yang dewasa lebih simpel namun kompleks. Karna lakmus diotak terlanjur dijejali oleh finansial, deadline kerja, urusan lingkungan kantor, keluarga, tetangga, usaha, idealisme yang kerap tabrak menabrak dengan realita, kondisi sosial yang ga bisa diabaikan, dan akan makin rumit jika terdistraksi masalah cinta.

Sudahlah. Jika bisa memilih, ketika malaikat menghampiriku saat aku masih di surga dan menawariku hidup di bumi sebagai manusia, bahkan ketika malaikat mengiming imingiku dengan frasa "Disana nanti ada orang yang menyanyikan lagu untukmu, melindungi kamu, mendoakan kamu, menjaga kamu, mengobati lukamu" hhhh tentu aku tidak lagi terbuai. Bapakku sibuk mencari uang, Ibuku sibuk mengatasi tingkah sodaraku yang lain dan aku sibuk berperang dengan dunia. Aku akan membalas bujukan malaikat dengan kalimat halus "Maaf, tidak, mending saya menjadi tukang meni pedi bidadari surga dan tukang ngelap rumah berlian di firdaus".

Kelahiran tidak perlu diglorifikasi sedemikian rupa, bertambah tua adalah petaka.

Tapi.

Sepertinya aku mulai hilang akal. Bertemu denganmu adalah kiamat bagi keyakinan yang kupegang selama ini. Aku baru menyadari jika tanggal lahir begitu penting menentukan karakter lewat horoskop, cardinal sign, elemen, posisi planet dan bintang bintang. Tanggal lahir tibatiba membuat aku candu. Mengobrak-abrik posisi matahari, uranus, mars, venus dan pluto. Kamu yang dengan rutin menselebrasikan sebuah angka di kalender yang terkadang dengan masif. Sukses mensugesti aku yang entah mengapa sudah melingkari sebuah tanggal di kalender dan mulai berhitung.

Aku tak pernah membuka aplikasi kalender di handphone, karena tidak ada yang perlu ditanyakan pada kalender, tidak ada yang perlu dicatat. Semua hari sama bagiku, hari libur-pun tak mengubah secara signifikan. Fermentasi minuman yang kubuat sendiri saja kutandai dengan notes kecil. Tak butuh kalender. Tak butuh reminder.

Tapi yaaa...

Semesta bisa menjungkirbalikkanmu detik ini juga. Di aplikasi yang selama ini menjadi tempelan halaman depan handphone tiba tiba ada tanda lingkar merah.


"happy birthday manusia terspontan didunia".

Kemudian hal yang seharusnya tidak kulakukan terjadi.

Mimpi buruk yang dapat dihadirkan oleh sebentuk kalender.

Aku menggesernya keatas.

Semakin keatas.

Dan terus keatas.

Angkanya tetap sama. 1 sampai 30, ada yang 31 bahkan 29.

Namun.

Angka tahunnya bertambah banyak.

Makin banyak.

Sedangkan mari bersama-sama merenung, waktu sangat handal dalam memeram suasana.

Momen tak beruntung, chaos, dan sedih di hari ini akan menjadi tawa setelah diperam waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Berlaku juga dengan momen tawa, bahagia yang akan menjadi luka serta alasan tangis setelah dituakan waktu.

Dan tanda yang kubuat tidak berhenti di angka dan bulan yang kutandai di awal. 

Tanda itu terus ada. 

Di angka dan bulan yang sama. 

Setiap tahun. 

Tahun bertambah dan angka bertanda itu masih disana. 

Padahal semua juga tahu. 

Aku kamu pun tahu. 

Kebersamaan akan berakhir kapan saja. Kita tahu akhirnya. Namun angka bertanda akan disana selamanya. 


Kamis, 29 Oktober 2020

TENTANG CINTA DAN KESEMPATAN UNTUK MENGUDARA

 

Bagaimana mungkin, batinku. Orang yang memutuskan untuk bersama, saling berbagi, saling menguatkan adalah dua orang yang punya peluang paling besar untuk saling menyakiti. Yang menjadi belati dalam tiap komitmen untuk bersama adalah ekspektasi. Berekspektasi bahwa orang dihadapanku akan menyayangiku dengan cara yang kuingini, sehingga lupa bahwa ia punya caranya sendiri, cara yang amat berbeda dan ia juga punya ekspektasi padaku, mencintainya sebagaimana yang ia ingini tapi yang kulakukan tak pernah cukup, hanya mengisi seperempat tiang dan ia terus mengucurkan perhatian namun tak pernah sampai sebagai wujud kasih sayang.

Jika saling memiliki adalah cara mengisi dunia afeksi, bagaimana mungkin berkali-kali jadi menangis karna tak kuasa ingin pergi. Mengapa pula ketika memeluk terasa begitu pelik, bahkan setelah mengecup risaunya tak pernah mau takluk. Mengapa jika saling bersama katanya bisa saling bahagia namun ketika selalu bersama makin terluka ?

Aku yang tak pernah mencinta dan memiliki secara bersama terlalu tinggi mengira, fantasi yang aku rancang sejak dahulu akan mencukupi, melegakan hatiku dan aku tak perlu berkeinginan lagi. Yang kupunya telah cukup. Meski kadang menangis dalam hati karena berbeda perihal pendangan terhadap afeksi, berbeda terhadap konsep memiliki, meski tangisan tak lagi sanggup menetap dihati hingga harus jatuh di pipi. Aku selalu yakin. Mencinta memang seperti ini. Mencinta adalah menjadi seperti yang diingini orang dihadapanku, mencinta adalah menyerahkan diriku, mencinta adalah membagi diriku lalu memberikan setiap kepingnya meski dalam prosesnya aku beruarai air mata. Mencinta memang proses panjang berisi tangis dan tawa berulang-ulang. Aku sibuk mencinta, sehingga lupa aku harusnya bahagia dengan diriku sendiri, dari diriku sendiri.

Berulang kali mencoba, membongkar dan memasang ulang konsep mencinta dan memiliki, tak pernah sampai. Meski dimulai dari bahagia yang paling sederhana, mencinta selalu berakhir di frasa memiliki yang tak pernah ada filsuf atau teolog memberikan garis yang jelas dimana kita bisa memeluk erat, berhadapan atau merelakan. Aku dan kamu adalah yang paling terluka dari garis imajiner ini, namun tak saling sadar karena saling menyalahkan. Padahal sudah waktunya merelakan.

Menjadi aku dan kamu mungkin adalah impian orang lain, tapi hidupku dan hidupmu tidak dimaksudkan untuk mengenyangkan imajinasi mereka. Heranku, mengapa orang tak kunjung berpikir sendiri pun tak apa. Semua orang bisa. Memang cinta candu, semua juga berpikir begitu, aku juga masih ingin mencinta namun yang kudahulukan keenggananku untuk terluka apapun alasannya.

Rabu, 29 Juli 2020

HOW WE START? HOW IT ENDS ?


            Apakah sebagian dari kita masih penasaran bagaimana kita memulai dan membangun semua ini ?. Apakah dunia diciptakan sebagaimana kalam yang tertuang dalam kitab kejadian ataukah setiap mili dari kita ada karena sebuah ketidaksengajaan yang menakjubkan? Mari kita akui bersama-sama. WE DON’T KNOW IT.

            Pernahkah kalian membaca kitab yang diperuntukkan untuk orang lain tapi tidak untuk kalian ?, trust me, aku membaca beberapa, dan aku sedikit shock karna kita semua memiliki cerita yang hampir sama. Mari kita mulai dengan Bible yang memiliki beberapa kisah sangat familiar dengan saudaranya The Holy Qur’an. Kisah penciptaan Adam-Hawa, Adam-Eve, Nabi Nuh, Noah’s Ark, Nabi Ibrahim dan Geliat keluarga besarnya, Nabi Musa-Fir’aun(Ramses II), Moses-Pharaoh (Ramses II), Nabi Daud-Raja Jalut, David-Goliath, Nabi Sulaiman-King Solomon dan Isa atau Jesus. Apa yang dituliskan dalam ayat-ayat Bible dituliskan pula dalam ayat-ayat Alqur’an meskipun tidak identik, beberapa kisah berbeda versi,namun tokohnya tetaplah sama dan secara garis besar sama. So, how we starts then ? apakah ini semua bukan lagi keajaiban, melainkan sejarah panjang perjalanan berbagai keyakinan.

            Berapa umur agama Islam di Bumi ini ? bukankah kurang lebih 1400 tahun ?, berapa umur agama Katolik dan Saudaranya Kristen ? Bukankah kurang lebih 2000 tahun ? Berapa umur ajaran Yahudi ? bukankah Musa membawa keluar bangsa Yahudi dari tanah Mesir 1300 SM ? bukankah bangsa Yahudi telah menjadi budak selama 400 tahun disana ?

Dari sini kita masih bisa memahami bahwa Keluarga Nabi Ibrahim (Abraham), Sarah (Sara), Hajar (Hagar), Isma’il (Ismael/Yismael) dan Yakub (Jacob) merupakan keluarga besar dimana lahirnya agama-agama samawi di dunia. Mari kita tidak heran dengan kesamaan-kesamaan kisah yang kita pelajari di kitab kita masing-masing.

            Ketika mempelajari antropologi di bangku SMA, aku mempelajari bahwa agama-agama yang ada di dunia dibagi menjadi 2. Agama langit dan Agama Bumi. Agama Langit adalah agama dengan penuh keilahian, segala ajarannya merupakan firman Tuhan dari langit, dibawa para nabi nya, agama-agama  yang tergolong dalam kategori agama langit adalah, silahkan tebak.

Tentu saja ketiga bersaudara agama samawi, Islam, Kristen dan Yahudi. Lalu apa itu Agama Bumi ? Agama Bumi merupakan keyakinan yang diciptakan oleh manusia berdasarkan pengamatan mereka terhadap alam dan dinamika sosial disekitar mereka. Apa saja Agama yang termasuk dalam Agama Bumi ?

Banyak. Mari kita tulis agama bumi dengan pemeluk terbanyak. Hindhu, Zoroaster, Budha, dan Keyakinan-keyakinan di tiap-tiap daerah di Dunia.

            Bila dilihat konsep dari dua golongan agama diatas sungguhlah berbeda Agama Bumi dengan keesaan Tuhan dan sabda nabi-nabi sedangkan Agama Bumi dengan kisah kepahlawanan dan Dewa-Dewa mereka. Pernahkah kalian membaca Kisah Mahabharata ? For God Sake, setidaknya bacalah kisah itu sekali seumur hidupmu, itu adalah Karya Sastra tebaik, Sage terbaik dan kitab tuntunan hidup yang mudah kau mengerti meskipun penuh plot twist.

            Agama Hindu dipercaya ada sejak 3100-1300SM, ditandai dengan ditemukannya ukiran sapi di peradaban sungai Indus. Para penganut agama Hindu mempercayai reinkarnasi, dan di ajaran mereka Dewa Wishnu bereinkarnasi atau menitiskan dirinya dalam 10 wujud yang dikenal sebagai Awatara Wishnu, salah satunya adalah tokoh yang familiar bagi kita yang suka nonton ANTV  di siang hari atau nonton Mahabharata di malam hari, siapa lagi jika bukan Shri Krishna.

            Awatara pertama Dewa Wishnu bernama Matsya Awatara. Pada masa Satyayuga, lebih tepatnya pada masa pemerintahan Raja Satyabrata (Putra dari Dewa Matahari), raja menemukan seekor ikan kecil ketika ia hendak mencuci wajah, kemudian ia membawa pulang ikan tersebut dan memeliharanya. Awalnya ditempatkan di sebuah wadah air, namun ikan itu membesar seukuran wadah, lalu raja memindahkan ikan tersebut di kolam kerajaan, namun segera ikan tersebut segera memenuhi kolam. Lalu sang raja melepas ikan tersebut di lautan dan ikan tersebut makin membesar dan memiliki tanduk. Kemudian ikan itu berucap, ia adalah Matsya, titisan Dewa Wishnu, dan Raja Satyabrata diperintahkan untuk membuat bahtera yang sangat besar untuk menghadapi banjir besar.

            Raja kemudian melaksanakan perintah tersebut, setelah pekerjaannya rampung, ia memerintahkan pengikutnya dan memasukkan hewan dengan berpasang pasangan ke bahteranya. Banjir yang diberitakan pun tiba,  Matsya awatara memrintahkan naga Basuki untuk menjadi tali pengikat antara tanduknya  dan bahtera raja Satyabrata. Begitulah kemudian Matsya awatara menyelamatkan makhluk hidup dari bencana kepunahan. Sounds familiar isn’t it ?

            Its amaze me, and im just starts to thinking, are we have been in one line ? and what kinda things who made us takes various way.

Tapi semua itu hanyalah permulaan. Belajar sejarah membuatku sering ternganga terhadap banyak hal, terutama tentang bagaimana peradaban maju pertama di bumi lahir. SUMERIA.

Beberapa tahun belakangan Sumeria mengambil beberapa spotlights public karena orang-orang mulai meributkan film yang tidak bisa tayang, tidak akan pernah tayang atau bahkan tidak akan pernah menyelesaikan proses shooting dan produksinya, yakni 1Annunaki, mengisahkan tentang asal usul manusia berdasarkan legenda Annunaki masyarakat Sumeria. You don’t need to buy these script, kamu cukup beli Supernova jilid ke4, di bab dimana tokoh utama berdebat soal penciptaan umat manusia, disanalah cerita Annunaki dan ambisinya terhadap tambang mineral di bumi. Don’t be surprise.

Mari kita bahas sesuatu yang seharusnya lebih bisa mendapatkan sorotan. PUISI GILGAMESH.

Apa atau siapakah Gilgamesh ? Gilgamesh merupakan seorang raja dari Uruk di Sumeria. Ia merupakan tokoh dalam mitologi Mesopotamia Kuno. Ia diperkirakan berkuasa antara tahun 2800-2500SM. Legenda Gilgamesh dikisahkan dalam 5 puisi yang tak hilang oleh zaman. Gilgamesh kehilangan sahabatnya Enkidu, karena Enkidu terkena penyakit yang diturunkan oleh para dewa karena membunuh Banteng surgawi utusan Ishtar. (Tolong pembaca supernova gak usah senyam senyum sambil bilang I know it). Gilgamesh yang takut mati mendatangi Utnapisytim. Siapa itu Utnapisytim ? ialah satu-satunya orang yang selamat dari bencana air bah. Utnapisytim ditugaskan oleh Enki untuk meninggalkan segala harta benda duniawinya untuk membuat sebuah bahtera agar menghindarkan dia dan orang-orangnya dari banjir besar kelak. Ketika bahtera jadi, Utnapisytim membawa istri, keluarga, kerabatnya, para pandai dan tukang di desanya, anak-anak, hewan-hewan dan benih-benih tanaman. Air bah tersebut adalah yang kelak membinasakan semuruh makhluk yang tidak naik air bah.

Setelah semua ini, im just wondering, how come ? apakah keyakinan kita selama ini merupakan perjalanan panjang sebuah sejarah intelektual ?. atau siapkah kita dengan kenyataan-kenyataan penciptaan dan permulaan yang tak sanggup kita hadapi ? namun bertanya-tanya juga membuatku malu semenjak menonton film Mother. I tought that film is all about affection, family, struggle etc. but, big no. watching that film make me thinking, how much we asking we never get enough. We never get enough after we build a billion worship altars.

Mother menceritakan bagaimana Tuhan (Ayah) disibukkan menulis karena ia adalah pujangga, ia mencintai semua orang yang mengelu-elukan namanya dan Istrinya (Mother) yang dimana diibaratkan sebagai Bumi (Mother of Gaia) bingung dan tak memiliki daya dengan banyaknya orang dalam rumahnya, banyaknya kekacauan, bahkan ia dilecehkan dirumahnya sendiri, dihajar, diinjak-injak dan suaminya hanya memperhatikan suara-suara, tangan-tangan yang memujanya, tidak peduli wastafel rumahnya ambrol karna fansnya yang pecicilan bahkan ratusan orang yang mencuri dirumahnya, bahkan ia hanya berkata pada istrinya “Kita harus mencari cara memaafkan mereka” ketika bayi mereka yang baru lahir di bantai dan dimakan daging lalu diminum darahnya oleh fans-fansnya. Setelah segalanya diambil Mother hanya bilang bahwa suaminya hanya peduli pada suara-suara orang yang mempedulikannya tetapi bukan dia. Lalu ia membakar semuanya. Mengkiamatkan rumah yang ia benahi lantainya, ia cat dindingnya perlahan sendirian. Dan musnahlah segala kekacauan dalam rumah itu.

Di tengah sekarat istrinya yang terbakar, Pujangga itu dengan santai meminta jantung istrinya, lalu istri itu memberikannya, Pujangga itu meremas jantung istrinya dan mengeluarkan sebuah Kristal untuk “memulai” lagi.

After watching these movie, im just realize, how naïve iam. Tapi membuatku bertanya tanya juga. How supposed us faced this life, setelah berjuta-juta tahun menjadi hamba setia ayah, menjadi pecandu puisi-puisi ayah, menyebutnya setiap hari, memahaminya dalam setiap karyanya. Bagaimana kita bisa memahami seorang ibu ?


Senin, 18 Mei 2020

Patriarki kills me softly

Setiap orang yang lahir ke dunia tidak bisa memilih segala sesuatu yang ia akan terima ketika ia lahir. Baik itu jenis kelamin, keadaan fisik, keluarga dan lingkungan. Tidak ada janin yang memohon mohon untuk dilahirkan. Embrio, zygot, janin ada karna ia diminta, diharapkan untuk ada.
Kromoson dirumuskan XX dan XY dan kombinasi keduanya terjadi karna proses alam dan aktivitas manusia. Tidak ada yang bisa memilih apakah ia ingin terlahir menjadi laki laki atau perempuan. Di era yang lebih canggih orang tua dapat memilih jenis kelamin anaknya tentu saja dengan harga yang tinggi. Sebuah janin di rahim tidak pernah bisa menentukan atau memilih, ia hanya berdetak lirih.
Hal yang paling absurd yang aku dengar semenjak lahir adalah kata-kata seorang ayah tentang keinginannya mempunyai anak sulung perempuan karna ia berharap anak perempuan itu bisa membantu membersihkan rumah, memasak dan pekerjaan domestik lain. Ia berkata anak perempuan bukan yang lain. Ayahku berkata demikian di depanku sedangkan aku melihat adik laki-lakiku baru pulang membawa snack cokelat dan bersiap memainkan mobil mobilan remote terbaru yang dibelikan ayahku.
Dipikiran anak umur 8 tahun hal itu merupakan hal yang paling absurd, kenapa perempuan diidentikkan dengan pekerjaan berberes sedangkan lakilaki bisa minum kopi sambil menonton tv di pagi hari.
Aku menanyakan kegelisahanku pada teman temanku karna saudara saudaraku memiliki pendapat yang sama. Rupanya temanku juga. Aku setengah yakin kalau aku salah. Setengahnya lagi aku berpegang pada teoriku bahwa kedudukan lakilaki dan perempuan setara. Di umur 9 tahun pula tiba tiba aku terkena penyakit aneh, mulutku memborok dan bernanah, jika ditanya apa penyakitnya tidak ada yang tahu, bukannya dilarikan ke rumah sakit atau ke dokter yang paham, aku langsung dibawa ke apotek tanpa resep dokter, menerima obat dari apoteker yang ngawur mendiagnosis, setelah diobati bukannya membaik lukanya semakin menjadi jadi, mulutku nyaris tertutup luka. Setelah apa yang terjadi aku si anak sulung perempuan di masukkan kamar. Dibiarkan, katanya bandel tak mau diobati, padahal obatku obat luar cair bening yang peruh bukan main, semakin kupakai semakin melebar boroknya. Beruntung sepupuku menemukan aku dirumah, membawaku ke rumah nenek dan membuatnya menangis. Setelah sembuh, rumahku heboh adik laki lakiku sakit terbatuk batuk, ia dibawa ke dokter praktek dekat rumah kemudian ke rumah sakit dengan diagnosa macam macam. Dari mulai batuk bisa hingga radang paru paru. Nyatanya sembuh hanya dengan memakan permen hexos.
Aku suka membaca segala bentuk pengetahuan, aku selau tidur disamping buku buku yang sebelumnya menjadi lullaby. Suatu hari aku membaca injil dan mempertanyakan eksistensi Tuhan. Aku berakhir diceramahi kyai 2 jam nonstop dan penjelasannya sama sekali tidak sinkron dengan concernku, kali kedua aku kelepasan membicarakan tentang kemerdekaan perempuan atas dirinya dan eksistensi agama agama bumi. Aku berakhir di ruqyah. Adikku suka berbagai hal tentang konspirasi, tidak masalah aku juga, ia suka mengutarakan pendapatnya, yang menjadi masalah sumber yangia pelajari adalah dari artikel di facebook, konten orang di youtube dan sumber yang kurang bisa di verifikasi lainnya.
Yang terjadi adalah, ia dicap sebagai anak yang sangat pintar, jago beretorika dsb. Aku semakin tak mengerti betapa beracunnya patriarki yang kualami. Suatu hari ibuku berkata padaku, adikku bertanya siapa yang lebih membuatnya bangga, apakah aku si anak sulung ataukah dia si anak bungsu, ibuku menjawab tentu saja dia. Setelah nenekku meninggal aku semakin yakin jika aku sendirian. Kebingungan mencari tempat untuk bersandar. Karna dibesarkan dengan kasih sayang berlebih dan semua orang berdiri di sisinya, tidak ada yang bisa mengendalikan tempramen adikku dan mulutnya yang seenaknya. Dia sering mengatakan aku bodoh, dia berteriak kepadaku bahkan ke ibuku, ia suka memotong pembicaraan orang lain yang bahkan lebih tua darinya, ia tak mau menjadi latar belakang, suaranya harus di dengar ia bermetamorfosa menjadi individu narsistik yang tiada duanya.
Hari ini aku menangis karena perkataannya. Aku mengalami 2 kali kecelakaan, aku tak pernah menangis, aku gagal sempro aku tak menangis, banyak struggle di hidupku dan aku masih bisa tertawa tawa membuat jokes dan membodoh bodohi diriku sendiri. Tapi hari ini aku menangis, karna karantina aku tidak bisa bertemu teman temanku, pusara nenekku mengering sejak lama, tidak ada saudara yang mengerti. Aku hanya sendiri. Berulang kali aku menahan tangisku karna menurutku memalukan, ibuku memanggilku untuk membantunya, aku datang untuk membantu, mendapatiku masih menangis ia berteriak menyuruhku pergi dan berkata aku lebay. Berulangkali adikku berteriak kepadanya, mengambil kartu debetnya, mengambil uangnya menghapus laporan mbanking, menjual handphonenya, menjual laptop yang ia belikan. Dan ia tetap menganggapnya bukan apa-apa.
Anak laki-laki dianggap lebih berharga, berulangkali orang tua berkata anaknya semua sama hingga berbusa busa mulutnya, mereka tak pernah menganggapnya benar benar sama. Kendati di keluarga yang tak bermarga. Di minang masyarakatnya penganut matrialisme (matriarki) anak perempuannya lah pewaris bisnis, penerus keluarga.
Tidak pahamkah mereka yang menuhankan toxic patriarki atau matriarki bahwa mereka sedang berjalan dalam lintasan fana dan mengorbankan anak anak mereka ?


Jika ditanya aku mau apa,
Aku mau menang lotre, mengganti identitasku, menjalani kehidupanku yang sepi dengan cara yang membuat hatiku semarak. Setidaknya aku verhenti menyekaratkan diriku sendiri.

Jumat, 24 Januari 2020

TARIAN JANJI

Aku ingin menjadi manusia yang punya porosku sendiri, tak ikut tatanan khayal manusia dan komunitas yang dibangun bermilenium-milenium ini. Aku ingin mencipta tata surya dan hukum-hukum fisika ku sendiri, menjadi ilmuwan-detektiv-terdakwa-korban-tersangka-penari-pembaca puisi-aktris-teknisi panggung-penonton. Di redup malam aku ingin mengganti bintang dengan ledakan petasan. Bintang tak dapat bersuara nyaring, aku harus memasang petasan agar terjaga semalaman, karna menjadi tata surya sekaligus porosnya membuatku harus tahu diri. Hanya aku yang bisa menjaga diriku sendiri dari kesepian.
Imperium manusia di kokohkan atas dasar rasa percaya diwakili oleh janji jabat tangan, tidak ada perjanjian yang abadi. Injil pun setuju. Qur'an juga. Perjanjian dengan manusia adalah penyakit yang akan menggeregotimu perlahan tanpa kamu sadari. Tanpa aku sadari pula. Karna janji cukup bias, abstrak, terlalu fleksibel.
Perjanjian dengan alam juga tidak begitu meyakinkan.
Bahkan nelayan kadang luput membaca rasi bintang dan arah angin.
Badan meteorologi kadang ditipu gunung yang terbatuk-batuk.
Astronom ditipu lintasan asteroid. Kamu tidak dapat memegang apa-apa dari alam.
Perjanjian dengan diri sendiri juga tak kalah buruk, kadang alam menggerus rencanamu perlahan, kadang manusia melahapmu bulat-bulat, sehingga dengan berat hati harus kamu patahkan, janji yang kamu buat dengan dirimu sendiri.
Tidak salah.
Tidak pernah salah.
Maka kini aku dan kamu tau, janji tak pernah menjembatani dua orang, tak pernah jadi jembatan yang kokoh.
Janji tak pernah jadi sarana yang aman
Janji akan berputar, melompat, mengitari dirimu dan membubung tinggi memudar di angkasa, tanpa pernah kau sadari kamu sudah ditinggal lama oleh janji. Dan ia tak pernah jadi awan dan memgucurimu dengan gigil butiran air. Ia hanya akan menguap meninggalkanmu tercengang dengan semesta khayal yang kau tata dan atur sendiri sedemikian rupa.
Tuhan tak berkehendak.
Alam tak berkehendak.
Manusia tak berkehendak.
Semestamu tak pernah memegang janjimu sebagaimana keyakinanmu.
Dan jangan takut. Tanpa janji kamu akan sendiri. Sendiri membuatmu tak pernah membuat janji dengan apapun dan siapapun. Hatimu terselamatkan.