Jawabannya tidak ada.
Tidak kesemuanya.
Jawabannya adalah segala hal yang kuyakini, sepenggal puisi yang membawa ku ke arah ini
Sepenggal frasa yang melekat seperti jaring laba-laba, mengantar lakmus otakku kemana gelombang ini bermuara, menjelajahi ceruk demi ceruk apa yang terlanjur kuselami selama ini.
Aku juga tak mengerti, kenapa teka-teki itu harus kamu yang menjawabnya, jika saja….
Jika saja aku lebih rajin membaca, jika saja cepat ku selesaikan buku tentang alam semesta ini, mungkin aku lebih dulu menemui maksudnya.
Kurapal frasa itu seperti mantra, aku hapal setiap baitnya seperti lagu, kupikir itu hanya puisi indah penulis yang aku sembah.
Kamu membuyarkan kerangka berpikirku sendiri, bahwa itu adalah bagian dari teka-teki, sedangkan aku masih mematung tersadar bahwa tidak semua yang kutahu itu ku ketahui. Kemudian aku lebur sempurna ketika kamu hadirkan jawabannya. Kesombonganku berakhir, aku tak mampu berfikir.
Masih terselamatkan harga diriku karena kamu sungguh tak tahu apa yang kamu perbuat.
Kusadari, apa yang hilang memang akan hilang, dan aku tidak akan berarak kemana mana.
Bahagia yang pernah kuterima, akan tetap menjadi bahagia, jawaban dari teka-teki yang baru kusadari mungkin bercokol selamanya, dan biarlah disana selamanya.