Senin, 15 Februari 2016

If this a game

Aku pernah berkata bahwa aku kebal sakit karna hatiku elastis, aku pernah berkata bahwa aku tak akan terjatuh dan selalu ada di tempatku berpijak meskipun kau lempari aku dengan lampu gantung, mengikatku dengan dongeng seram. Kamu tau, mata ada untuk merasakan sakit, untuk rusak, telinga ada untuk sakit begitu juga semuanya. Lalu kenapa ada hati jika ia juga tak bisa sakit, tapi kenapa aku mengatakan aku kebal sakit? Kebal ia berarti dihujam berulang dan tak bergeming malah hidup dan bersahabat dengannya. Kamu mencobaku. Membuat aku lebih cepat merasakan daripada yang semestinya, membuat aku lupa bahwa aku punya banyak luka untuk ditangisi, lupa bahwa ada beban yang harus aku pikirkan, aku selesaikan. Semuanya enyah ketika kau datang tiap malam, menembus dindingku sendiri.
Ini kali pertama aku merasa takut, aku sudah bilang itu. Aku takut kalau aku salah berucap hingga kamu marah, aku takut aku tidak bisa mengerti maksudmu hingga membuatmu kesal karna tak bisa mengerti dirimu, aku takut aku tak bisa dimengerti olehmu, aku terlalu banyak takut hingga akhirnya aku takut jika aku tak berada di tiap menitmu. Kamu sukses membuatku menjadi penakut. Entah cinta entah aku yang berlebihan atau apakah ini kebodohan, aku gagal mengerti diriku sendiri. Lalu kamu, dibalik ketakutan-ketakutanku disanalah kamu tertawa, berpikir bahwa permainanmu sudah mulai naik level dan kau berpikir akan dapat point tambahan. Malam. Malam. Tiap malam, ketika sayap datang padaku perlahan aku tak paham bahwa disana ada pula belati yang menukik tajam. Entah permainan apa yang engkau mainkan, apa jenisnya.
Lihat aku terluka, menangis sekarang.
Apa kamu ingin dengar berita bahagianya untukmu ?
Permainanmu berhasil, kamu menang. Tapi mulai sekarang ketahuilah kamu kehilangan mainanmu untuk selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar