Bisakah dikatakan bahwa hidup ini aneh, punya variabelnya sendiri, lebih rumit dari susunan sel otak. Sedemikian hebatnya efek domino dari kepakan sayap kupu-kupu menghantar aku pada malam-malam bersama manusia masokis lain, pulang tenah malam dengan hati yang meledak-ledak hingga lumatan bibir penanda kerinduan. Itulah yang sering melapangkan hatiku, mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Seperti bagaimana jika aku tidak memberitahunya pinku berganti ?. Pada akhirnya dia tidak bisa menghubungiku. Bagaimana jika aku tak mengirimi surat ?. Dia tidak akan mengenalku. Bagaimana jika aku lolos dengan pilihan pertamaku ? Tentu daja aku tidak pernah bertemu dengannya. Bagaimana jika aku tidak membahagiakan diri selama 3 tahun, untuk menjadi bagian "yang katanya kelas buangan, namun selalu membanggakan"?. Aku tak akan membuat pilihan-pilihan itu. Bagaimana jika aku tak rela dianggap tidak berguna di mata teman-teman lama karna dianggap bodoh sehingga masuk sekolah yang katanya tertinggal "padahal pengeruk medali emas di O2SN hingga PON" tentu akan mendaftar di kedokteran, hukum dlsb. Atau bahkan hidup menggila karna hanya staknan. Bagaimana jika aku tak berjuang mati-matian untuk tidak masuk SMP favorite ? Aku akan menjadi tikur kerdil dan tidak pernah mendapat satupun prestasi yang bisa mengantarkan aku diterima di SMA favorit tanpa tes. Bagaimana jika aku tak pernah jatuh cinta dengan hibrida setengah arab dan setengah siluman ular piton reticulatus? Aku tidak akan pernah punya effort lebih untuk menjalani hari-hari berat masa-masa ababil, atau bahkan mungkin aku sudah puluhan kali ganti pacar, lalu lenyap begitu saja. Bagaimana jika aku tak dekat dengan teman semasa sekolah dasar yang pada akhirnya menjadi partner kencan di tempat les ? Aku tak akan pernah belajar melupakan dan mengikhlaskan. Bagaimana jika aku tak pernah bertemu dengan teman masa kecil, teman SMA yang jadi idola banyak perempuan sekolah, teman laki-laki di pondokan yang sigap bukain gerbang kali pulang lewat jamnya? Aku tak akan pernah belajar bagaimana cara mengganjar laki-laki tidak sopan pada perasaan. Bagaimana jika aku tak bertemu sepupu sahabat karib diantara rimbunnya sisha tengah malam ? Aku tak akan pernah sadar pada kenyataan dunia yang seperti itu di depanku. Bagaimana jika aku tak bertemu dengan makhluk ajaib yang hobi menyendiri, punya pandangan sendiri, punya dunia nya sendiri ? Aku tak akan pernah sadar, bahwa semua orang bisa menyenangkan. Bagaimana jika aku tak mengenal makhluk astral "jauh tapi selalu bersahabat dengan pabcaran WAN dan LAN?" . Aku tidak akan jadi seberani ini. "Bagaimana jika aku tak disakiti dan ditinggal pergi begitu saja?" Aku tidak akan pernah bisa meredakan gemuruh secara personal di hati hingga saat ini. Semua itu harus terjadi. Satu hal saja luput dari jalannya kita tidak akan sampai pada saat ini. Kita tidak akan pernah berlari mengitari danau bersama, kita tidak akan pernah jalan hingga tengah malam dan aku harus menumpang tidur, kita tidak akan pernah "kebut gunung", kita tidak akan pernah pergi ke bioskop, aku tidak akan pernah pergi ke rumahmu, aku tidak akan pernah memandangmu lekat-lekat hingga deru nafasmu dapat ditangkap pori-pori pipiku. Aku tak pernah menyesali sesak-sesak yang menggunung itu, karna dengan semua itu kita bisa bertemu, aku bisa mengerti bagaimana cara agar kita bisa saling terpaut, aku bisa mengerti karakter yang bertolakbelakang denganku, aku bisa menjadi suplemen yang menyenangkan.
Tak perlu kata-kata puitis, shakespeare tak pernah melahirkan karya bahagia. Tak perlu sajak dan prosa karna aku ingin kita tak pernah ada akhirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar