Jumat, 15 Maret 2019

Kembang Api

Tidak ada yang lebih membuatku takjub daripada kembang api.
Dan dari segala benda-benda langit yang menjadi objek hiperbolis. Aku tak tertarik.
Tergerak diriku pada kembang api
Yang pendarnya sekali.
Mungkin seminggu lagi tak ada yang ingat bunyi pekak nya.
Bau asapnya.
Tapi disanalah kutaruh hatiku.
Menjadi kembang api.
Ledakannya luar biasa di hidupku yang cuma sekali.
Aku ingin menyentuh langit tanpa ketamakan.
Aku ingin menangkap angin tanpa kekecewaan
Aku ingin berpendar menggulingkan posisi bintang dan bulan.
Di hidupku yang cuma sekali.
Salahkah itu terjadi ?

Menengok takdir kelahiranku,
Aku salah koordinat.
Segalanya tidak akan berubah kecuali aku terlahir kembali.
Seumur hidup aku berlari, melepaskan jeratku
Mengumpat.
Menjahit sayapku sendiri.
Aku tak pernah ingin bertopang.
Tak pernah.
Mendapatkan inang tak pernah ada dalam daftar perjalananku.
Menumpang, mencuri, menyesap habis sampai mati adalah humor yang tak perlu dijawab.
Humor hanya perlu dilempari tawa.

Dihidupku yang cuma sekali
Aku ingin meluncur tinggi ke langit malam
Setinggi-tingginya
Hingga bermimpi untuk menggapai pun tak sanggup.
Tangan mereka akan melepuh.
Aku ingin dilihat dari tanah yang angkuh
Yang telah salah berbagi lokasi
Dan aku ingin melayang
Meledak.
Menggelegar.
Berpendar.
Begitulah hingga aku menghilang.

Aku mendengar pula tentang kisah burung yang lahir dari abu dan hidup menjadi simbol simbol keabadian.
Buat apa.
Aku tak suka hewan mitologi.
Aku menjahit sendiri sayapku, bukan bikinan Tuhan.

Di tempat yang gigil
Kipas angin menderu
Selimutku terlalu tipis.
Aku tertawa membaca definisi cinta
Namun menghunusku pada jaring laba-laba.

Berburu inang ?
Yang benar saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar