Karna aku percaya bahwa manusia didesain untuk terluka, dan kebetulan sudah bosan sekali untuk terluka, aku mencoba untuk berhenti ber-ekspektasi. Namun berhenti ber-ekspektasi dan datang untuk menikmati adalah dua hal yang amat sangat berbeda. Menjatuhkan diri pada frekuensi yang hanya aku sendiri yang dapat menjangkau adalah tiket sekali jalan dan aku tidak berniat untuk pulang. Mengapa ? Karna semakin jauh aku bergerak, kamu semakin menarik untuk disimak. Karena kamu adalah realita yang datang pasca aku membuka mata dari harapan yang ketinggian. Kamu mendarat dengan aman dan presisi, bahkan tanpa kusadar telah punya ruang sendiri, mengorbit dan berpendar, makin sulit ku ikhlaskan.
Sejauh ini aku masih enggan menarik diri, meski hampir semua penjuru bersuara bahwa seperempat abad bukanlah angka yang ideal untuk duduk, berkhayal, menarik ulur, ditinggalkan, meninggalkan, patah hati, menyesali, menata hati kembali. Tapi didunia ini percayalah bahwa umur hanyalah sekedar angka. Jatuh cinta atau terluka itu tidak papa, karna arus dan naluri ketika menghadapinya tetaplah momen langka, tidak usah bertanya mengapa karna tentu saja, dari milyaran manusia berbagai bentuk dan rupa, muncullah peluang nol koma sepersekian persen yang kemudian membuat hatiku penuh dan bergejolak tibatiba.
Mengamati kamu dan memyimpannya rapat rapat sambil terkadang dengan lirih mengucap namamu memohon agar semesta bergerak mengusahakan adalah momen terendah hati dalam hidupku, karena telah lama kutinggalkan budaya berharap pada ketidakpastian dan meyakini datangnya sebuah keajaiban. Di momen itulah, aku kembali membumi, menyadari aku tak punya kapabilitas tinggi, tak semua di dunia ini bisa terjadi meski aku berusaha sampai mati. Menariknya, aku tak merasa rendah diri meski telah memohon ribuan kali.
Aku juga telah mengetahui bahwa harapan seringnya muncul dengan kecewa sebagai babak bonus, dan sekali lagi, khusus untuk kegiatan ini kukecualikan, sangatlah tidak masalah. Terluka adalah makanan sehari-hari manusia. Sejak kumulai aku telah bersiap dengan kekecewaan, aku juga tidak akan pelit air mata karena tentu saja bukankah memang begitu menjadi dewasa.
Tidak semua orang yang kuhendaki bisa kutandai sebagai teritori, namun momen dimana kamu dan situasi yang membuat aku berdebar patut ku kenang. Dan momen dimana aku jatuh dan kecewa adalah tentu saja merupakan pelajaran. Aku masih tak berniat pulang, kuperpanjang tiketnya, agar aku bisa tetap di perjalanan ini hingga aku sendiri ingin berhenti. Mari tak usah diperdebatkan.
Jatuh cinta adalah prosesi menyenangkan.
Life is short.
Love is rare.
(JADI YAA NGGAK PAPA)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar