Tiba-tiba aku bertanya tanya tentang bagaimana medan perang yang ideal. Dan seperti apa tentara yang tidak akan terkalahkan. Apa senjata yang tidak tertandingi ?
Dalam pertempuran "anak haram" Jon Snow nyaris kalah padahal dia punya beberapa raksasa di pihaknya. Ia gegabah, ia tak pandai berstrategi. Beruntung ia punya saudara sepintar Sansa.
Strategi bagus juga tak selamanya berhasil, orang utara hampir kalah dari pasukan orang mati. Mereka menang karena keberuntungan. Padahal di pihak mereka ada Dothraki yang membunuh orang dan berperang adalah sarana olahraga bagi mereka. Arya stark adalah keajaiban.
Hitler punya balistik, punya tank yang beratnya ribuan ton dan bisa menembak sejauh puluhan kilometer. Ia ditenggelamkan keserakahan padahal dunia sudah ada di tangannya, hanya karena sejengkal tanah, musnahlah dinasti yang di bangunnya.
Mataram islam adalah kerajaan yang solid, mereka memiliki banyak orang yang siap mati di hampir seluruh pulau jawa. Tahta yang tak seberapa membuat mereka pecah dan tidak lagi bersaudara. Puluhan pemberontakan disana sini tak bisa mereka redam dan mereka harus bersisian dengan hindia belanda.
Jadi seperti apa medan perang yang ideal. Yang bisa menghindarkan kita dari kekalahan.
Suku Kalingga, didukung oleh posisi geografis yang menyulitkan musuh musuh mereka, hingga mereka tak terkalahkan, dan tetap memegang predikat head hunter. Namun aku pikir alasannya bukan geografis.
Suku maya, suku penghuni machu pichu, penghuni petra di jordan, mereka bermukim di kawasan geografis yang strategis, tapi mereka hilang, kalah. Habis. Tak bersisa.
Jadi. Apa ?
Apa hal ideal yang bisa membuat kita menang di setiap pertempuran ?
Menurut rohmat yang melankolis dan berjalan diatas altar romantisme, hal ideal yang dapat membuat kita memenangkan pertempuran adalah dengan tidak adanya pertempuran.
Menarik, Perang Dingin tak pernah menjatuhkan banyak nyawa seperti perang perang sebelumnya, namun dapat membuka jalan kencangnya mobilitas ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menurut ciput yang cheerfull dan optimis, hal ideal yang membuat kita memenangkan pertempuran adalah keajaiban. Menarik, David yang masih berusia belasan tahun dapat mengalahkan Jawara Filistin yang serupa raksasa dengan tinggi badan 3 meter lebih.
Menurut daffa yang presisi, realistis dan suka berhitung. Hal ideal yang dapat memenangkan pertempuran adalah plan atau strategi. Menarik, Tentara Mongol yang pernah menguasai hampir seluruh Benua Asia, bahkan sempat berinvasi ke daratan Eropa dapat dikalahkan oleh Tentara Majapahit, berkat strategi yang cemerlang meskipun agak kotor.
Strategi serupa juga pernah digunakan seniman Blambangan untuk melawan tentara VOC.
Yang ada dikepalaku berbeda. Ada banyak pertempuran yang tidak mendapat spotlight di dunia. Pertempuran yang pemenangnya adalah pihak yang kalah. Pertempuran yang pemenangnya mendapatkan rampasan tapi mereka tak pernah menikmati kemenangan.
Pertempuran antara "si punya segala sumber daya" untuk menang dan "si harga diri".
Entah mengapa pride dikategorikan sebagai salah satu dari 7 dosa besar, Dante benar benar harus mengaudit tulisan dan lukisannya. Jika aku harus jujur, itu menyesatkan.
Harga diri adalah hal terakhir pertahanan manusia, harta mereka yang sesungguhnya. Sehingga, jika titik dimana segalanya telah tiada, harga diri juga sepantasnya tidak jatuh ditangan lawan untuk dipermainkan. Dan sudah pasti, ia pemenangnya.
Ketika Alauddin Khalji menyerang Chittor bersama seluruh tentara muslimnya, ia berjaya, ia mendapatkan tanah Rajput, ia mendapatkan Benteng Chittor, ia menguasai Mewar. Tapi ia pulalah yang keluar sebagai pihak yang kalah. Kepala yang ia penggal bukanlah miliknya, darah yang mengering di tangannya tidak pernah menjadi miliknya. Dan ia juga hanya mendapatkan abu dari perempuan-perempuan Chittor bersama ratunya yang didamaikan jauhar. Kehormatan mereka terbakar bersama api yang mereka masuki dengan sukacita, tanpa berteriak, tanpa merintih. Di kobaran api yang membara, merekalah juaranya. Alauddin terpana. Panjinya telah naik ke ujung menara, genderang ditabuh tentaranya. Tapi ia sungguh tak pernah memiliki apa-apa.
Tidak pernah ada yang salah dari cara-cara untuk memenangkan pertempuran, semua orang benar karena tiap orang punya pertempuran mereka sendiri-sendiri. Pertempuran yang beda, pertempuran yang gelombangnya kadang tak terbaca, pertempuran personal yang tidak bisa diselesaikan orang lain. Dan kemudian hanya bisa dihadapi sendiri dengan cara ter-efektif yang dipercaya masing-masing.
Selain usaha mati-matian, jangan lupa kita wajib menuntut Tuhan.
Jika memang mimpi buruk dan ketakutan kita dimasa depan akan menjadi nyata sudah sepantasnya Tuhan harus menegakkan punggung kita dan tidak pernah sekalipun membuat kaki kita terjatuh, sekalipun. Tuhan harus ikut bertanggung jawab dengan segala cara, karena atas kuasa-Nya lah kita ada di dunia.
Everysingle battlefield is scariest, tough, hard, stressfull. But i believe
We should believe.
In every war.
In everysingle type of Battlefield.
We will win.
(kado kecil untuk teman-temanku pejuang kehidupan yang kian ngehe, i always wondering "kenapa anjir temen temen aku semua idupnya warwirwur?" lalu aku ingat, nyetttt, thats the law of attraction, the dumb will tarik menarik with the dumber and woillaaaaa lahirlah those ekosistem, huhuhuhuhu sedih, tapi enggak juga)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar