Aku menaruh dua cup kopi ke lantai yang membeku karena sekarang sedang musim hujan. Ngomong-ngomong sekarang ini malam takbir dan sebagai dua orang yang patah, terombang-ambing, malam takbir aku dan Ciput duduk memulai ritual dengan obrolan panjang yang sebenarnya entahlah apa faedahnya bagi hidup kita.
“Ya menurutku, menyuarakan isi hati hak semua gender, bagiku kode dan tarik ulur hanya buang buang waktu”
“Ya benar juga, kadang aku menyesal tidak melakukan itu, lalu apakah untuk yang bersamamu saat ini juga buah dari sikap terus terangmu itu?”
“Sebagian iya dan sebagian tidak”
“Tidak usah bangga, first move mu sering memuakkan”
“Contohnya?”
“Contohnya ketika kamu tanya ke orang bisa mundurin motor nggak, padahal jangankan mundur, motor orang itu bisa saja ngepot, nge drift, muter-muter disitu saking luas space nya”
“Dan kemudian dia jadi pacarku, aku tetap menang”
“Apa kamu pernah merasa menyesal?”
“Enggak, jika waktu diulang dan aku sudah tahu akhirnya pun aku akan tetap memilih hal yang sama”
“Ya kenapa?”
“Kamu tahu lebih dari siapapun jawabannya”
“Ya tentu, itu adalah hubungan yang membuat iri siapapun, dia benar-benar orang yang pas untukmu di fase dan keadaanmu saat itu”
“Yaa, setelah kupikir-pikir dia membawa bergunung-gunung cinta yang aku tak pernah sadar”
“Kamu ingat bagaimana dia menawarkan diri membawa kita semua ke tempat-tempat yang kita mau bahkan sampai malam, padahal baru kenal”
“Tentu saja”
“Ya dia beralasan ngantuk, tidak bisa menyetir, meminta duduk di bangku belakang, bersandar padamu dan menciumu di depan kita semua”.
Aku tertawa meledak.
“Pada saat itu aku ingin memukul kalian berdua tapi yasudahlah, selama kamu bahagia”
“Esok harinya aku pergi lagi, ke pantai berdua, membawa dua beer, dia bilang bahwa mantan pacarnya menyumpahi dia tidak akan mendapatkan yang lebih baik, lalu dia bilang bahwa mantannya benar-benar salah”
“Ya beberapa hari kemudian dia bawa sebotol anggur, kita minum sambil main uno, itu hari dimana pertama kali aku merasakan minuman keras”
“Dia menculikku dihari kedua lebaran karna tau aku bosan dan tidak ingin bertemu dengan orang-orang. Dia membawaku minum kopi di kaki gunung yang entah mengapa sudah buka”
“Dia melakukan banyak hal hei, bertengkar dengan mamanya, membawa kabur mobil untuk membawa pulang kita yang mabuk dan setengah tidak sadar”
“Iya aku tentu ingat”
“Tapi mungkin kamu tidak ingat kalau ketika di mobil kamu setengah telanjang, benar-benar tipe orang yang merepotkan ketika mabuk”
Tawaku meledak.
“Banyak hal yaa yang benar-benar kita lalui bersama, hingga kamu dan dia jadi cuma berdua”
“Iya”.
Aku menyesap kopiku. Melempar pandanganku ke langit-langit. Dan iya banyak sekali, terlalu banyak.
Dia membawaku ke psikiater, dia yang sering tidak pulang karena menemaniku yang tak mau pulang ke rumah. Dia yang menyusun liburan ke Bali, meskipun tahu Bali lesu dan tak ada apa-apa, menjemputku jauh dan mencoba berbagai kedai kopi, warung makan, nasi goreng di pinggir jalan, hampir semua warung bakso, mengantarkan aku pulang, menghisap sebatang rokok sebelum menciumku dan masih tak mau melepasku membuka gerbang. Dia yang menerobos hujan ke kota sebelah demi seekor ayam goreng yang sebenarnya aku tak sebegitu doyan, hanya karna konten tiktok yang persuasif luar biasa. Dia yang menerobos hujan demi mengantar sebuah jaket untuk aku yang kedinginan di dalam kedai kopi.
Semua tujuannya hanya untukku. Semua waktunya hanya untukku, dan aku selalu sibuk mencari tahu apakah dia mencintaiku.
Dia yang membantu pekerjaanku.
Banyak hal yang masih bisa dirayakan dan terdengar tidak masuk akal jika dibandingkan dengan bagaimana perpisahan itu terjadi. Sejak awal aku dan dia sudah sepakat ini hanyalah fase dan kita berdua harus bergerak berlawanan arah. Tapi hari perpisahan itu terlanjur diwarnai masalah dan amarah.
Dia membawa bergunung-gunung rasa cinta, meredam amarah dan perasaanku yang suka jungkir balik, menungguiku makan karna syndrom ku parah, lucunya jadi membaik setelah kita pulang dari Bali. Dia adalah wahana yang tepat dan benar-benar tepat di kondisiku saat itu. Dan seharusnya ritual perpisahan kita harus sakral.
Mengingat banyak hal-hal baik yang terjadi, membahas hal-hal bodoh bersama dan pencapaian-pencapaian yang sudah dilakukan berdua. Bertukar kado.
Saling mengucap do’a do’a baik, memberi tahu mimpi-mimpi apa yang akan kita raih. Berpelukan. Karna itu adalah hari baik, hari sakral, hari berakhir nya babak negeri dongeng dan roller coaster dan bersiap memasuki babak baru, plan-plan baru dan mimpi-mimpi yang terencana.
Seharusnya itu upacara sakral perpisahan yang terjadi.
Entahlah, amarah dan emosi menutup semua kemungkinan indah itu.
Jika mungkin nanti harta karun ini ditemukan. Aku ingin berterimakasih karna dengan cintamu, tulusmu, usaha dan segala kerja kerasmu, kamu memberikanku apapun, apapun yang kumau, apapun yang kuinginkan, dan dengan cintamu membawaku ke titik itu, melewati ombak demi ombak kehidupanku, menghadapi kehilangan dan sakit hati tidak sendirian. Mendengarkan curhat dan ceritaku yang membosankan. Memberikan ide dan dorongan, mendukung segala keputusan gilaku dan selalu bersedia memberikan bahu sekeras apapun tangisanku. Tak pernah menyerah melakukan apa mauku. Cinta tak pernah salah, keputusan-keputusan dangkal kita yang membuat segalanya kacau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar