Kamis, 21 April 2022

The Story of a Pair Shoes

 Aku rasa semua orang pernah, punya sepatu yang tidak pas dengan kakinya. Ada yang kebesaran dan ada yang kekecilan. Pangeran di cerita cinderella juga berusaha mati matian agar sepatu kaca itu menuntunnya kembali ke tuannya.

Berapa lama ya kira kira waktu yang dibutuhkan oleh pangeran untuk menemukan tuan dari sepatu kaca cantik itu ?

Bukankah butuh waktu setidaknya bertahun-tahun untuk memastikan semua orang mencoba sepatu itu ?

Mengapa dia begitu sabar, mengapa manusia tidak. Terutama aku.

Ukuran kaki ku 37, tapi hampir setiap kali membeli sepatu atau punya sepatu selalu sulit. Terlalu longgar dan terlalu sempit. (Pernah sekali waktu pas, sepatu diskonan matahari beli bareng riris) 

Aku tidak pernah mau ribet dan sabar mencoba satu persatu, aku hanya melihatnya sekilas, jika aku suka dan hanya itu satu satunya aku akan ambil dan bawa pulang.

Setelah itu baru bingung, karna sepatunya terlalu longgar dan terlalu sempit. Memilih sepatu adalah hal yang memuakkan, jadi jangan heran sepatuku itu itu saja. 

Rasanya bodoh ketika mengingat aku mencuci kemudian mengeringkan sepatu dengan hair dryer berharap sepatu itu mengkerut lalu pas di kakiku, tutorial life hacks yang menyebalkan. 

Aku pernah menabung lalu membeli sepatu hak tinggi yang sudah lama kuinginkan, yap dihari uangku terkumpul, dihari itu sepatu model dan warna yang kuincar habis, sisa satu ukuran yang lebih kecil.

Tepat sekali, aku membelinya meski aku tau itu pasti melukai kakiku. 

Setiap kali memakainya tumitku berdarah, kulitku terkelupas, sampai di titik itu aku tak merasa keberatan, tidak merasa itu hal yang perlu diperdebatkan. Sepatu impian dan ilusi kakiku yang menjadi jenjang adalah harga yang tak bisa ditawar, oleh lecet lecet sekalipun.

Aku adalah ciptaan absurd dan tidak masuk akal. 

Aku tidak pernah pandai memilih, orang lebih mau membeli barang yang sedikit kelonggaran daripada sedikit kekecilan karena tentu saja menghindari luka.

Tapi aku, entah mengapa, menganggap luka adalah harga yang pantas untuk terlihat mempesona.

Aku menulis ini sambil menatap sepasang sepatu baru ku, yang kudapat sebagai hadiah ulang tahun. Sebelumnya kubeli sendiri sepatu, dan tentu saja kekecilan. Bahkan sepatu hadiah ini juga kekecilan, terlalu kecil sampai aku harus memotong habis kuku kaki ku, benar benar tandas karena jika tidak kuku ku akan patah, dan semakin sakit. 

Sepatu hadiah ini juga sebenarnya sepatu biasa, tak memakai ini pun aku tak apa, tapi aku tak punya pilihan, tidak akan ada lagi orang lain yang muat kakinya, dan itu hadiah, sudah sepantasnya kupakai sendiri meskipun ngilu. 

Uniknya sepatu itu tak pernah rewel, tak pernah sobek meskipun terdesak jari jari kaki ku, tak pernah terkelupas meskipun terkena hujan.

Makin lama kakiku agak leluasa namun entah mengapa sakitnya tak pernah hilang. Dan aku harus selalu memotong habis kuku ku.

Aku memandangi sepatu itu, sekarang memandangnya saja sudah mampu membuat kakiku merasakan sakitnya. Kaki ku hafal bagaimana ada di dalamnya, proses masuknya, bagaimana keluarnya. Kakiku tak mau damai, sepatu itu tak juga mau melebar sedikit lagi. Aku sudah melakukan banyak hal, membuang kaus kaki ku, memotong habis kuku kaki ku, membersihkan luka luka di kaki ku. Sepatu itu tidak bergeming, tak bersahabat sama sekali. Padahal aku tuannya, aku mencoba segala hal agar dia bisa kugunakan sebagaimana fungsinya. Tetapi entah maunya apa, dia sepatuku, ada di rak sepatuku paling atas, berada disana, mudah dijangkau mata, tapi menolak untuk dapat kugunakan dengan nyaman. Ia hanya mau disana, tidak melakukan apa-apa, menjadikan dirinya pajangan, menurutnya sudah cukup yang ia lakukan karena ia hanyalah sepasang sepatu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar