whats is beauty ?
Agaknya kurang tepat mengawali tulisan ini dengan kalimat diatas, karena jawabannya sangat objektif, cantik adalah spektrum yang tak punya batas. Maka aku ganti pertanyaannya dengan
Seperti apa wujud dari kecantikan itu ?
Jawaban dari pertanyaan ini mungkin tetap sangat luas dan berbeda-beda tapi arah pembicaraan mulai bisa ditebak bukan.
Apa yang akan dibahas dari tulisan ini adalah Cantik dan Perempuan. Dua hal yang tidak ada habisnya sejak zaman perundagian hingga zaman tanam benang.
Bentuk cantik yang bisa kita amati bisa kita mulai dari era Yunani Kuno. Keindahan dan kecantikan digambarkan dengan perempuan telanjang yang badannya gempal berisi, payudara kecil, perut rata, rambut ikal, kaki dan tangan padat berisi. Bisa dilihat dari pahatan-pahatan yang mereka abadikan, Aprhodite, Athena, Hera tidak dipahat dengan badan Kim Kardashian atau Nicky Minaj. Sedangkan nama-nama dewi itu mewakili puncak dari wujud kecantikan di era-nya. Konsep cantik yang serupa bahkan bertahan hingga masa-masa Romawi kuno. Pada garis waktu yang sama namun berjuta-juta mil jauhnya. Wujud Cantik diimani dengan cara yang sangat berbeda oleh ningrat-ningrat di daratan China. Bagi mereka, Cantik berarti segala sesuatunya harus kecil, badan, wajah dan kaki. Sehingga di musim dingin yang menggigil perempuan yang berusia 10 tahun akan diremukkan jari-jemari dan tulang telapak kakinya, kemudian di bebat. Membiarkan daging dan tulang itu membusuk sampai kaki mereka terlipat sempurna dan terlihat seperti Bunga Teratai.
Di belahan bumi lain, tepatnya di Afrika, cantik adalah milik mereka yang tidak punya buah dada, sehingga menjelang aqil baliq dada perempuan-perempuan akan disetrika kemudian di bebat agar buah dadanya tidak tumbuh. Masih di Afrika namun berbeda suku, cantik adalah milik mereka yang mempunyai tubuh extra. Extra besar, biasanya anak-anak perempuan yang menginjak remaja akan dikirim ke sebuah camp, disana mereka akan diberi makan terus menerus seperti hewan ternak. Menenggak ribuan kalori setiap hari, agar mereka menarik. Agar mereka cantik.
Bagi suku Kalingga, Cantik adalah milik mereka yang punya banyak tato. (Aku suka ini) suku Kalingga punya budaya tato sendiri dengan metode hand tapping sama seperti saudara kita di Kepulauan Mentawai. Mereka menggunakan duri jeruk limau sebagai jarum dan arang sebagai tintanya. Semakin banyak tatonya maka semakin cantik orangnya.
Selain tato, bagi perempuan Mentawai, cantik adalah ketika gigi mereka dibuat menjadi runcing. Bagi perempuan dayak yang suka menambahkan pemberat di telinga mereka, Cantik adalah ketika mereka punya telinga yang panjang dan tato bunga terong di bahu. Di tiap-tiap budaya dan daerah konsep Cantik amatlah berbeda-beda. Warna kulit, bentuk tubuh, modifikasi pada tubuh, tidak ada yang seragam. Namun ada fenomena yang terlihat berbeda di abad 21.
Spektrum Cantik yang seakan-akan mengerucut. Fenomena perempuan terlihat seragam, seakan-akan itu adalah arah panah dari kecantikan impian yang kekal, padahal mungkin saja itu adalah gelombang trend seperti yang sudah-sudah.
Twiggy yang menghadirkan gelombang menyiksa diri karena merepresentasikan kecantikan adalah kurus dan tinggi. Beberapa waktu lalu publik heboh dengan fenomena model yang makan kapas demi menjaga penampilan. Di zaman Twiggy, orang biasa yang tidak punya kepentingan profesi sebagai model bahkan beramai ramai makan kertas demi tubuh kecil kurus dan tipis seperti Twiggy.
Di 2015 klinik bedah ramai, perempuan berbondong-bondong mengantre dan menghabiskan ribuan bahkan jutaan dolar untuk memodifikasi tubuh mereka. Mereka meyakini keluarga Kardashian terutama Kim dan Kylie adalah representasi cantik yang ideal.
Bagaimana di Indonesia ?
Sebagai negara kepulauan terbesar, bahkan Indonesia mencatat lebih dari 300 bahasa Ibu, yang seharusnya punya konsep kecantikan ideal yang banyak, berbeda dan unik mulai seragam sejak media mengambil peran.
Iklan-iklan sabun, shampo, lotion, skincare yang kebanyakan menggunakan model blasteran serta produk yang bertujuan untuk memutihkan. Bahkan Mustika Ratu harus menyerah pada visi mereka untuk menghadirkan kecantikan ala keraton di tengah masyarakat yg menggandrungi kulit putih model blasteran.
Pada akhirnya Mustika Ratu tetap menggunakan Tamara Blezensky sebagai model dan mengeluarkan produk pencerah.
Artis yang lalu lalang di majalah dan media, produk-produk yang dijual beserta jargonnya yang persuasif, menggerakkan kiblat masyarakat pada kecantikan yang mereka tampilkan. Padahal artis atau model yang mereka gunakan seringkali tidak merepresentasikan perempuan Indonesia. Kendati yang dijadikan BA Desy Ratnasari sekalipun, tidak bisa mewakili seluruh budaya kecantikan di negara dengan 21ribu pulau ini.
Di era sekarang idealisme tentang wujud cantik makin gila. Gelombang yang satu berteriak tentang penerimaan diri dan cinta pada apa yang ada pada diri-sendiri. Gelombang yang lain melakukan banyak prosedur untuk menjadi ideal hasil dari gabungan banyak konsep-konsep cantik ideal dari seluruh dunia karna menggilanya teknologi infromasi.
Kiblat terkenal wujud cantik ideal perempuan di Era sekarang adalah wanita-wanita berkulit putih di Eropa dan wanita-wanita Korea Selatan di Asia. Perempuan Korea sendiri tidak lagi punya identitas cantik sebagaimana Wanita Korea sebelum berpisahnya Utara dan Selatan. Perempuan Selatan membuat identitas cantik ala mereka agar tidak sama dengan saudara mereka di Utara. Kebetulan yang mereka adopsi adalah Amerika sebagai sekutu. Jadilah standar cantik tidak masuk akal bagi perempuan Korea Selatan. Putih, Tinggi, Kurus Langsung, Hidung mancung tegas, rahang tegas tanpa double chin, lipatan mata, bibir setengah penuh dsb.
Lebih gilanya lagi hal ini diikuti oleh banyak perempuan di luar Korea Selatan. Karna kini pusat peradaban fashion adalah di Negara Gingseng tersebut.
Sebenarnya selain virginitas, menurut saya pribadi “Cantik” adalah sebuah konstruk sosial. Estetika selalu subjektif dan bergantung pada selera. Kemudian Cantik Ideal ini tersusun dari banyak faktor. Geografi, Sosio-Kultural dan Ekonomi. Kita ambil contoh White People di daratan Eropa-Amerika-Australia. Bagi mereka cantik adalah mereka yang kulitnya kecoklatan dan gelap. Mengapa ? Sederhana sekali. Karena bagi orang-orang kulit putih yang “jarang melihat matahari” kulit mereka akan gelap ketika mereka berlibur dan berjemur di negara-negara tropis. Maka dari itu orang yang kulitnya Tan dinilai sebagai orang berkecukupan yang menghabiskan uang mereka untuk berlibur dan berjemur ke negara-negara tropis hingga kulit mereka coklat.
Di Negara yang mengurung diri, Korea Utara. Cantik dan Tampan adalah milik mereka yang memiliki badan tambun atau besar, perut buncit. Makin gemuk badannya maka makin tampan atau cantik mereka. Mengapa ? Karena Korea Utara merupakan negara yang bahkan kesusahan untuk mencukupi kebutuhan pangan warganya. Hanya kalangan elit lah yang dapat menikmati makan dengan layak bahkan berlebih. Ideologi dan sistem pemerintahan Komunisme membuat makanan didistribusi sama rata. Pada akhirnya mereka-mereka yang punya kuasa lebih mendapat “porsi lebih banyak”.
Cantik merupakan penanda status sosial. Semakin dekat dengan standar yang dimajinasikan maka pertanda semakin besar pula kuasanya. Meskipun dalam kitab-kitabnya Tuhan bilang bahwa hamba-hamba nya sama dihadapannya. Namun sifat dasar manusia tidak ingin terlihat sama. Ingin merangkak ke strata sosial tertinggi. Dan sejak dahulu cara untuk menunjukkan dengan mudah bahwa seorang individu memiliki kuasa yang lebih adalah dari tubuh.
Tinggal di Indonesia menurut saya adalah sesuatu hal yang sangat menarik karena saya bisa mengamati polarisasi banyak spektrum konsep cantik. Di tempat-tempat yang susah sinyal dan memegang teguh kultur turun temurun seperti Dayak Kenyah, Kayan, Suku Boti, Baduy, Mentawai, Ratusan suku di Papua. Mereka menjunjung tinggi konsep cantik mereka sendiri. Merajah kulit, memerahkan gigi, mengikir gigi, berkulit gelap, mengikalkan rambut dsb.
Di sisi lain golongan yang berbondong-bondong memgikuti arus konsep cantik yang digawangi budaya populer zaman ini.
Di sisi yang berbeda, golongan yang berteriak keras-keras melantangkan konsep cinta diri, menerima diri apa adanya.
Entahlah, apakah ada sub-kultur selain ketiga itu ?
Dalam bukunya Yuval bicara bahwa arus panah sejarah ini menuju titik yang sama. Apakah juga berlaku bagi “Konsep Cantik Ideal?”
“Cantik Ideal” punya spektrum mereka masing-masing ada yg statis dan ada yang dinamis, gerak mereka searah dengan waktu. Apakah mereka akan menuju arah yang sama ?
Kita tidak tahu. Kita tidak bisa memaksa perempuan suku Melaka kembali merajah kulit. Kita tidak bisa menghentikan perempuan ibukota untuk tidak melakukan infus chromosome atau filler di dagu dan hidung. Kita juga tidak bisa menyuruh orang yang sudah menerima tubuh dan penampilannya apa adanya untuk hifu, meso atau mendaftar member ke fitness center.
Tidak seperti ideologi, kepentingan, kebutuhan dunia yang bergerak menuju titik yang sama. Cantik yang ideal punya cara yang berbeda. Mungkin pada akhirnya semua harus menjadi humanis, mengakui eksistensi masing masing. Selama tidak saling merugikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar