Kini kupaham makna “Manusia adalah makhluk istimewa”. Karena meskipun manusia adalah hasil evolusi segelintir species Kera yang dinamai oleh orang-orang intelek itu “Lucy” DNA kita membawa data miliaran makhluk hidup, terkunci dalam tubuh. Tumbuhan, hewan, amuba. Kita benar-benar gila.
Manusia hidup berkerumun, menjadi makhluk sosial mengatur strategi, mengumpulkan masa, membangun dinasti politik dan strata seperti kera. Manusia sangat teritorial, berjibaku dengan alam, mengeraskan rahang, memilih pemimpin, menajamkan urat untuk apa-apa yang ia miliki seperti Harimau dan Singa. Manusia mengais, mencuri demi bisa hidup hari demi hari seperti Hyena. Manusia yang sabar mengintai, membuat skenario dan menyiapkan jebakan agar buruannya bisa masuk dalam mulutnya seperti Buaya. Manusia terbang, menawarkan tarian hebat, benda-benda mencolok, kidung indah demi mendapat cinta seperti bangsa Aves. Manusia yang mengorbankan diri demi kelanjutan generasi seperti belalang sembah. Kemudian manusia yang melepaskan kulit, kuku-kuku mereka, menggeliat kesakitan agar mereka bisa tumbuh makin besar seperti Ular.
Manusia bertumbuh tiap detik, berjalan di setapak tipis yang licin, makin jauh meninggalkan hari kemarin. Terus bergerak menjauhi peristiwa demi peristiwa dalam hidup.
Manusia modern berlomba lomba merancang mesin canggih berkecepatan milyaran cahaya untuk menjelajahi masa depan, mungkin setinggi itu rasa penasarannya. Atau karena tak ada garansi untuk hidup yang serba tak pasti ini. Karna tentu saja perhitungan manusia kerap meleset dan semesta dan segala isinya ini masih berisi milyaran tanda tanya.
Tapi coba ditanya, kepada siapapun. Jika mereka bisa memilih, mereka akan lebih memilih pelesiran ke masa lalu daripada menembus medan cahaya untuk masa depan yang asing.
Karena meskipun masa lalu adalah waktu yang seribu kali lebih jauh namun potongan-potongan memori di masa lalu adalah hal yang lebih sering dikunjungi oleh manusia itu sendiri.
Manusia adalah entitas gila luar biasa karna satu-satunya entitas yang sadar bahwa ia sedang berada di antara gelombang tipis bernama kenangan dan masa depan. Sejarah dan misteri, terus menerus merangkak maju tanpa bisa kembali, hanya bisa menoleh kebelakang berkali-kali.
Dahsyatnya manusia harus terus mengelupas, melepas apa-apa yang ada padanya, sisik demi sisik, mengorbankan satu-persatu harta-harta berharga dari hidupnya. Kehilangan serta perpisahan lagi dan lagi. Manusia sering menolak fakta yang mereka sudah paham bahwa perpisahan adalah suatu hal yang pasti dengan selalu bertanya mengapa itu terjadi.
Melepaskan sisik dan kulit adalah cara Ular untuk tumbuh sedangkan bagi manusia tumbuh adalah Rela.
Ombak yang besarnya tak pernah terkira.
Tumbuh dan kehilangan demi kehilangan dialami manusia, namun manusia kadang lupa. Kehilangan membuat manusia bisa belajar dan bisa memaknai hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar