Tulisan saya dedikasikan partner membacoti hidup
masng-masing di depan alfamidi sambil makan pop mi. ninda.
Setiap perlombaan adu jarak dan
kecepatan memiliki titik akhir. Titik dimana kontestan bisa bernafas lega atau
tersenyum gembira. Hidup adalah sebuah perjalanan dan pergulatan dengan waktu.
Apakah hidup punya garis finish ? iya bagi sebagaian orang. Tontonan anak
perempuan di usia dini kebanyakan adalah Barbie, Snow White, Cinderella,
Mermaid, Mulan, Aurora dsb. Dalam kisahnya mereka menjalani masa sulit dan masa
sulit berakhir dengan datangnya pangeran. Scene ditutup adegan pernikahan dan
woilaa. Tamat. Sedari kecil cerita-cerita tersebut seringnya di asosiasikan
sebagai life goals. ‘kesusahanmu akan berakhir jika kau menikah dengan lelaki
impian’.
Bagi
sebagian besar perempuan hal itu adalah kebenaran mutlak dan tidak bisa
diganggu gugat. Namun ada pula yang menganggap pernikahan adalah sebuah prosesi
yang akan memenjarakan hidup selamanya. Mimpi buruk nomor wahid bagi
orang-orang yang menolak formasi superior-inferior seperti aku dan
perempuan-perempuan yang tumbuh terdomestikasi. Sudah kujelaskan di postingan
sebelumnya sedikit ttg background ku. Menurut Haideh Moghissi “Ungkapan (ekspresi) perempuan atas
keinginan-keinginannya dan usahanya untuk memperoleh hak-haknya terlalu sering
dianggap bertentangan dengan kepentingan-kepentingan laki-laki dan melawan
hak-hak laki-laki atas perempuan yang telah diberikan oleh Tuhan”. Jadi
berbicara tentang pernikahan…….. aduh.
Pemberontakanku terhadap dominasi laki-laki dan
orang-orang yang meyakini bahwa perempuan harus dirumahkan terkadang membuatku
depresi kuadrat, karena aku tidak menemukan teman untukku berbagi keresahan
yang sama. Hingga satu hari aku punya partner untuk berbagi keesahan dan
misoh-misoh bersama. Hidup kami aneh karena orang yang mengkritisi plihan kami
adalah mereka-mereka sesama perempuan. Bagaimana bisa ? Saya membaca sebuah
suluk bertanggal 1823. Sebuah karya sastra sejarah berumur kurang lebih 200
tahun. Karya sastra tersebut merupakan ambisi seorang raja di Jawa untuk
mengumpulkan kembali budaya, kondisi sosial, pendidikan, religi dan ekonomi
pasca penyitaan 17000 lebih karya sastra dan catatan budaya oleh Belanda dari
Keraton. Penggambaran perempuan dalam karya sastra tersebut hanyalah sebuah
objek dari hasrat seksual, citra dari kemampuan finansial, pendengar yang taat
dan pengamat sejati. Perempuan tidak berdiri di ruang public bahkan seorang
janda harus dirumahkan di rumah dalam. Tanggung jawab perempuan semata-mata
pada urusan rumah dan suami, setelah hampir 200 tahun berlalu ideologi ini
tetap terawat dengan baik.
Saudara saya berkata bahwa bersih-bersih rumah, melayani
suami dan merawat anak adalah ladang pahala, betapa perempuan dimudahkan untuk
mendapat pahala oleh Tuhan. Bitch no, bersih-bersih rumah, merawat anak dan
melayani suami bukanlah perkara yang mudah karena tidak semua perempuan
memiliki bakat mengasuh, bakat memasak, bakat merapikan rumah. Bila kita
melihat restoran-restoran china laki-laki akan ada di depan tungku panas dan panci
besar hingga wajan. Di dunia yang lebih modern laki-laki berjibaku di dapur
hampir ada di semua jenis rumah makan. Laki-laki sebagai perawat juga ada di
seluruh rumah sakit. Bibiku sejak aku berusia 2 tahun bekerja di konstruksi
bangunan, pagi dia masak untuk semua anak buah suaminya, siang ia bekerja
berat, memindahkan pasir berton-ton dari truk yang baru datang ke lantai 15,
mengoperasikan alat-alat berat, membuat adonan semen, pasir dan air kapur.
Hingga sekarang usianya hampir kepala 7. Ekonomi bukanlah alasannya, uang
suaminya bisa membuat ia beli tas coach, calvin klein, furla dan sepatu tory bunch jika ia mau. Aku
bertanya mengapa, jawabannya adalah “kalo diem aja badanku pegel-pegel”. Bibiku
tidak bisa mengasuh anak-anaknya, semua anaknya ia titipkan, ketika ia
mengasuhku barang sehari nenekku dibuat menangis karna pipiku lebam digigit bibiku
sendiri, aku menangis 2 jam. Bekas lebam itu tidak hilang 3 hari. Dari sini
kita tahu, tidak ada pekerjaan yang mengkhususkan apakah itu pekerjaan feminine
atau maskulin, tidak ada border gender dalam bekerjaan, perbedaan fisik
bukanlah alasan.
Setiap hari libur ninda bertengkar dengan ibu nya, karena
setiap hari libur ninda akan mendapat pelajaran tentang bagaimana menjadi
perempuan yang baik dan benar menurut ibunya. Pelajaran menyapu, mengepel,
memasak, melipat baju mungkin jika aku ada dirumah aku akan mengalami hal yang
sama. Menurut ibu ninda perempuan yang baik harus bisa memasak agar suaminya
tidak lari kemana-mana, perempuan harus bisa beres-beres rumah karena itu modal
awal berumah tangga. Bahkan ibunya memberi ninda modal membeli skincare dan ke
salon agar ninda punya pacar secepatnya. (Dalam kingdom hewan yang melakukan
tarian atau aktivitas demi menarik pasangan adalah pejantan,, huuu ku tabok ibu
ninda pake sepeda hias) Sesungguhnya apasih menikah ? mengapa seakan akan
menikah merupakan garis finish tiap-tiap individu yang dilahirkan ke dunia ?
padahal pasca menikah akan timbul variable-variabel masalah baru, dan susahnya
adalah tidak pernah ada mata pelajaran untuk mengatasi kehidupan pra-nikah.
(yaa beruntunglah sekarang bkkbn sedang merumuskan program tentang kesiapan
pernikahan bagi calon-calon pengantin).
Aku dan Ninda menyayangkan 7-11 tidak buka di Indonesia,
lebih tepatnya bangkrut. Karna menu kami mengobrolkan hal-hal underrated
seperti ini tidak pernah ganti. Se-cup pop mie rasa super pedas kadang ditambah
pilus garuda atau sosis dan sebotol teh pucuk. Ninda pernah membuat list
hidupnya dulu sekali, sebelum ia tahu banyak hal, ia merencanakan hidup
sebagaimana hidup yang ia dengar dari lingkungannya, dari kartun yang ia
tonton. Sebelum ia menyadari banyak hal, sebelum ia paham tiap-tiap orang itu
rumit, semua orang tidak berbagi skema dan stigma yang sama dengan dirinya.
Sebelum ia paham bahkan keluarga kecilnya sendiri bukanlah keluarga impian yang
ia dambakan. Setelah berbagi pilus, sosis dan minum karna pop mie super pedas
ini menyiksa sekali, ninda memutuskan untuk berlari. Pelarianku kumulai sejak
aku menduduki bangku kelas 4 sd, aku menyadari hidupku ada yang salah. Begitu
pula Ninda. Kenapa kita harus berlari dan menjauh dari society ? karena sejak
akar rumput society memaksakan norma bias yang tidak jelas. Orang tua di Asia
terobsesi dengan mengendalikan anaknya, mereka menganggap pendidikan mereka
berhasil jika anak menuruti apa yang diminta oleh orang tua. Konsep ini kusebut
dengan orang tua durhaka. Yang kemudian mendapat protes keras dari teman
dekatku sendiri. Yaaa terserah, apa yang selama ini kita yakini benar mau kita
sudah berdarah-darah dibuatnya akan tetap terlihat benar. Dan yasudah.
Pemberontak terbesar dan tersangar dalam hidupku ada dua
orang, dua orang gila yang membuatku tidak merasa kesepian, tidak merasa yang
kulakukan salah, tidak merasa yang kuyakini selama ini melanggar asas. Mie kami
habis, hanya tertinggal kuah pedasnya saja. Biasanya kami akan meneguknya
sampai tetes terkahir, dan membiarkan pedasnya membakar tenggorokan, gakding
canda, kami buru-buru minum teh pucuk dingin kami. Hampir setiap keluarga
berkonsep sama dengan keluargaku dan Ninda, bahkan keluarga Riris dan Nina
lebih strict, tapi dua nama diatas menentang kami luar biasa. Hidup adalah
perjalanan yang panjang, jika menikah dan menjadi bagian dari konstruk domestic
sekian abad adalah garis finish maka kami akan memilih terbang. Tapi aku lebih
lega, temanku bertambah satu, aku tak perlu bertelfon dengan sepupuku atau
curhat dengan Juple. Satu sudah lebih dari cukup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar