Selasa, 17 Desember 2019

PEREMPUAN YANG TIDAK MENGENAL GARIS FINISH


Tulisan saya dedikasikan partner membacoti hidup masng-masing di depan alfamidi sambil makan pop mi. ninda.
            Setiap perlombaan adu jarak dan kecepatan memiliki titik akhir. Titik dimana kontestan bisa bernafas lega atau tersenyum gembira. Hidup adalah sebuah perjalanan dan pergulatan dengan waktu. Apakah hidup punya garis finish ? iya bagi sebagaian orang. Tontonan anak perempuan di usia dini kebanyakan adalah Barbie, Snow White, Cinderella, Mermaid, Mulan, Aurora dsb. Dalam kisahnya mereka menjalani masa sulit dan masa sulit berakhir dengan datangnya pangeran. Scene ditutup adegan pernikahan dan woilaa. Tamat. Sedari kecil cerita-cerita tersebut seringnya di asosiasikan sebagai life goals. ‘kesusahanmu akan berakhir jika kau menikah dengan lelaki impian’.
            Bagi sebagian besar perempuan hal itu adalah kebenaran mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Namun ada pula yang menganggap pernikahan adalah sebuah prosesi yang akan memenjarakan hidup selamanya. Mimpi buruk nomor wahid bagi orang-orang yang menolak formasi superior-inferior seperti aku dan perempuan-perempuan yang tumbuh terdomestikasi. Sudah kujelaskan di postingan sebelumnya sedikit ttg background ku. Menurut Haideh Moghissi “Ungkapan (ekspresi) perempuan atas keinginan-keinginannya dan usahanya untuk memperoleh hak-haknya terlalu sering dianggap bertentangan dengan kepentingan-kepentingan laki-laki dan melawan hak-hak laki-laki atas perempuan yang telah diberikan oleh Tuhan”. Jadi berbicara tentang pernikahan…….. aduh.
            Pemberontakanku terhadap dominasi laki-laki dan orang-orang yang meyakini bahwa perempuan harus dirumahkan terkadang membuatku depresi kuadrat, karena aku tidak menemukan teman untukku berbagi keresahan yang sama. Hingga satu hari aku punya partner untuk berbagi keesahan dan misoh-misoh bersama. Hidup kami aneh karena orang yang mengkritisi plihan kami adalah mereka-mereka sesama perempuan. Bagaimana bisa ? Saya membaca sebuah suluk bertanggal 1823. Sebuah karya sastra sejarah berumur kurang lebih 200 tahun. Karya sastra tersebut merupakan ambisi seorang raja di Jawa untuk mengumpulkan kembali budaya, kondisi sosial, pendidikan, religi dan ekonomi pasca penyitaan 17000 lebih karya sastra dan catatan budaya oleh Belanda dari Keraton. Penggambaran perempuan dalam karya sastra tersebut hanyalah sebuah objek dari hasrat seksual, citra dari kemampuan finansial, pendengar yang taat dan pengamat sejati. Perempuan tidak berdiri di ruang public bahkan seorang janda harus dirumahkan di rumah dalam. Tanggung jawab perempuan semata-mata pada urusan rumah dan suami, setelah hampir 200 tahun berlalu ideologi ini tetap terawat dengan baik.
            Saudara saya berkata bahwa bersih-bersih rumah, melayani suami dan merawat anak adalah ladang pahala, betapa perempuan dimudahkan untuk mendapat pahala oleh Tuhan. Bitch no, bersih-bersih rumah, merawat anak dan melayani suami bukanlah perkara yang mudah karena tidak semua perempuan memiliki bakat mengasuh, bakat memasak, bakat merapikan rumah. Bila kita melihat restoran-restoran china laki-laki akan ada di depan tungku panas dan panci besar hingga wajan. Di dunia yang lebih modern laki-laki berjibaku di dapur hampir ada di semua jenis rumah makan. Laki-laki sebagai perawat juga ada di seluruh rumah sakit. Bibiku sejak aku berusia 2 tahun bekerja di konstruksi bangunan, pagi dia masak untuk semua anak buah suaminya, siang ia bekerja berat, memindahkan pasir berton-ton dari truk yang baru datang ke lantai 15, mengoperasikan alat-alat berat, membuat adonan semen, pasir dan air kapur. Hingga sekarang usianya hampir kepala 7. Ekonomi bukanlah alasannya, uang suaminya bisa membuat ia beli tas coach, calvin klein, furla  dan sepatu tory bunch jika ia mau. Aku bertanya mengapa, jawabannya adalah “kalo diem aja badanku pegel-pegel”. Bibiku tidak bisa mengasuh anak-anaknya, semua anaknya ia titipkan, ketika ia mengasuhku barang sehari nenekku dibuat menangis karna pipiku lebam digigit bibiku sendiri, aku menangis 2 jam. Bekas lebam itu tidak hilang 3 hari. Dari sini kita tahu, tidak ada pekerjaan yang mengkhususkan apakah itu pekerjaan feminine atau maskulin, tidak ada border gender dalam bekerjaan, perbedaan fisik bukanlah alasan.
            Setiap hari libur ninda bertengkar dengan ibu nya, karena setiap hari libur ninda akan mendapat pelajaran tentang bagaimana menjadi perempuan yang baik dan benar menurut ibunya. Pelajaran menyapu, mengepel, memasak, melipat baju mungkin jika aku ada dirumah aku akan mengalami hal yang sama. Menurut ibu ninda perempuan yang baik harus bisa memasak agar suaminya tidak lari kemana-mana, perempuan harus bisa beres-beres rumah karena itu modal awal berumah tangga. Bahkan ibunya memberi ninda modal membeli skincare dan ke salon agar ninda punya pacar secepatnya. (Dalam kingdom hewan yang melakukan tarian atau aktivitas demi menarik pasangan adalah pejantan,, huuu ku tabok ibu ninda pake sepeda hias) Sesungguhnya apasih menikah ? mengapa seakan akan menikah merupakan garis finish tiap-tiap individu yang dilahirkan ke dunia ? padahal pasca menikah akan timbul variable-variabel masalah baru, dan susahnya adalah tidak pernah ada mata pelajaran untuk mengatasi kehidupan pra-nikah. (yaa beruntunglah sekarang bkkbn sedang merumuskan program tentang kesiapan pernikahan bagi calon-calon pengantin).
            Aku dan Ninda menyayangkan 7-11 tidak buka di Indonesia, lebih tepatnya bangkrut. Karna menu kami mengobrolkan hal-hal underrated seperti ini tidak pernah ganti. Se-cup pop mie rasa super pedas kadang ditambah pilus garuda atau sosis dan sebotol teh pucuk. Ninda pernah membuat list hidupnya dulu sekali, sebelum ia tahu banyak hal, ia merencanakan hidup sebagaimana hidup yang ia dengar dari lingkungannya, dari kartun yang ia tonton. Sebelum ia menyadari banyak hal, sebelum ia paham tiap-tiap orang itu rumit, semua orang tidak berbagi skema dan stigma yang sama dengan dirinya. Sebelum ia paham bahkan keluarga kecilnya sendiri bukanlah keluarga impian yang ia dambakan. Setelah berbagi pilus, sosis dan minum karna pop mie super pedas ini menyiksa sekali, ninda memutuskan untuk berlari. Pelarianku kumulai sejak aku menduduki bangku kelas 4 sd, aku menyadari hidupku ada yang salah. Begitu pula Ninda. Kenapa kita harus berlari dan menjauh dari society ? karena sejak akar rumput society memaksakan norma bias yang tidak jelas. Orang tua di Asia terobsesi dengan mengendalikan anaknya, mereka menganggap pendidikan mereka berhasil jika anak menuruti apa yang diminta oleh orang tua. Konsep ini kusebut dengan orang tua durhaka. Yang kemudian mendapat protes keras dari teman dekatku sendiri. Yaaa terserah, apa yang selama ini kita yakini benar mau kita sudah berdarah-darah dibuatnya akan tetap terlihat benar. Dan yasudah.
            Pemberontak terbesar dan tersangar dalam hidupku ada dua orang, dua orang gila yang membuatku tidak merasa kesepian, tidak merasa yang kulakukan salah, tidak merasa yang kuyakini selama ini melanggar asas. Mie kami habis, hanya tertinggal kuah pedasnya saja. Biasanya kami akan meneguknya sampai tetes terkahir, dan membiarkan pedasnya membakar tenggorokan, gakding canda, kami buru-buru minum teh pucuk dingin kami. Hampir setiap keluarga berkonsep sama dengan keluargaku dan Ninda, bahkan keluarga Riris dan Nina lebih strict, tapi dua nama diatas menentang kami luar biasa. Hidup adalah perjalanan yang panjang, jika menikah dan menjadi bagian dari konstruk domestic sekian abad adalah garis finish maka kami akan memilih terbang. Tapi aku lebih lega, temanku bertambah satu, aku tak perlu bertelfon dengan sepupuku atau curhat dengan Juple. Satu sudah lebih dari cukup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar