Sabtu, 21 Desember 2019

TU-SYE


Mari kita ucapkan selamat pada ekosistem yang gemar menseleberasikan berbagai hal ini. Menandai angka-angka khusus di kalender yang akan menjadi hari dimana tradisi dan budaya membakar dupa, meniup lilin, membersihkan rumah, menyalakan pelita, melepas lentera, atau sebaliknya, hari dimana berdiam, mengharamkan api, menolak nasi, meninggalkan listrik, menanggalkan peluk cium sementara dan mengkuduskan sunyi. Hari ini adalah hari dimana sorai ditebar di udara, di jalan kecil yang riuh, berderet deret pertokoan dan diselingi pohon-pohon akasia ramai sahutan pemilik kedai kopi di ujung jalan yang memanggang biji kopi arabika dengan tungku berusia sama ketika kopi mulai ditanam di tanah-tanah tuan tanah. karbon dioksida pada biji kopi yang kecil dan utuh beradu mesra dengan wangi roti yang baru keluar dari oven, wangi mentega dan biang dari jeruk bali mengantarkan imaji renyah roti berbalut gurih mentega, toko roti dan kedai kopi itu sudah semacam duet abadi turun temurun. Berurutan dari duet aroma di ujung jalan toko bunga yang setiap hari didatangi lebah hingga sang pemilik sudah akrab dengan sengatan, semacam suntik antibiotic rutin, toko baju yang suara penjualnya lebih nyaring dari nada tinggi inka Christy, toko permen yang tak pernah sepi dari anak-anak yang berlarian dan saling menjerit berebut permen edisi khusus yang dibuat dengan tangan sendiri oleh sang pemilik atau beradu permen siapa yang paling manis, toko sepatu kulit, toko mainan, toko elektronik, kedai jamu tradisional di ujung jalan yang lain dibangunlah pos untuk jaga malam, meski terbilang aman tradisi jaga malam diadakan bukan hanya untuk menahan kantuk demi kententraman warga, namun untuk bercengkerama season 2. Di jalan kecil yang riuh, dengan koalisi lusinan aroma dan duet maut suara orang-orang diantaranya, alam bahu-membahu mencipta rutinitas kecil disela hiruk-pikuk yang ada.
Perempuan itu bukan berasal dari pemukiman setempat, rumahnya jauh, andai ia bisa punya kapabilitas teleportasi dia akan sangat bersyukur karena tinggal di keramaian seperti itu membuatnya sakit kepala, dia tak pernah ingin ada disana, tak pernah sama sekali, nasib sial membawanya berjibaku dengan aroma kopi, wangi roti, harum bunga dan teriaka-teriakan sepanjang jalan, jika petang sekumpulan bapak-bapak menggelar temu kangen di pos keamanan setiap hari, dunianya tak pernah tenang, memakai penutup telinga setiap hari tidak bagus dipandang, lagian bakteri akan berpesta di telinganya. Perempuan itu tak punya pilihan karena dia harus bekerja disana. Mengumpat sepanjang jalan baginya sudah seperti merapal mantra, menghitung hari dimana ia akan meninggalkan tempat itu tak pernah absen ia lakukan.
Di hari yang dingin bertepatan dengan ulang tahun kota, mimpi buruk ganda dialami oleh perempuan itu. Dihadapannya duduk seorang pria yang sejak tadi belum berhenti bicara, dua jam berharganya terbuang di kedai kopi untuk mendengarkan pria tanggung dan pemilik kedai berkelakar kesana kemari, kopi di cangkirnya dingin, belum ia sentuh sejak sesapan pertama, ia tak paham bagaimana cara seorang manusia bisa berbicara tanpa kehabisan topik, otaknya tentu benar-benar cepat memproses informasi. Perempuan itu melihat draft yang ada di tangannya, ia mendengus kesal, ini masih toko pertama, masih ada 12 toko lagi di sepanjang jalan itu, ia tak menyangka memberikan kartu ucapan selamat bisa memakan waktu seharian penuh. Langit menggelap dan draft itu baru saja habis dibagikan, ia menatap pria itu dengan kesal, baginya berkumpul dengan orang asing adalah awal dari penyakit, penyakit mental. Dan ia tak suka mentalnya terganggu. Kemudian mereka beristirahat di pos jaga, saling memberi jarak. Perempuan itu menghela nafas panjang, lututnya sudah tak lelah ia berniat pulang.
“Tukang sate ter-enak sedunia sebentar lagi lewat, kau tak akan menyesal”. Ujar pria itu yang membuat lawan bicaranya mengurungkan niat karena ia kelaparan.
“Kenapa kamu suka sekali bicara?”
“Kenapa kamu hobi sekali diam, ku kira kamu bisu”
“Aku bicara hanya untuk hal-hal yang penting”
“Kalau begitu, aku tak pernah diam karena segala hal di sekelilingku penting”. Obrolan mereka terhenti dengan datangnya gerobak sate yang di dorong oleh seorang pria paruh baya. Percikan bara dan tebalnya kepulan asap membuat mereka kembali saling terdiam, tidak ada yang berselera bicara hingga dua porsi sate diantarkan pada mereka. Pria itu menarik napas panjang dan mulai bercerita tentang orang-orang yang ada di lingkungan itu, tentang pemilik kedai yang setiap hari ulang tahun istrinya akan membuat es kopi kesukaan mendiang istrinya yang meninggal karena kanker, penjual roti yang memakai biang roti berumur lebih tua dari umurnya sendiri, suami-istri pemilik toko pakaian yang seorang vegan, pemilik toko permen yang merangkap menjadi rabbi yahudi, toko sepatu yang dulu pernah terbakar hingga kaidah bahasa, bahasa yang menurutnya ada secara alamiah dan genetis, ada sejak manusia menjadi fetus kemudian dibawa setiap individu yang lahir kedunia. Kemudian hingga perjalanan bahasa yang berasal dari tiruan suara hujan, derik pohon, guntur, deras aliran sungai, riak kolam, ributnya angina hingga marahnya badai ber-evolusi bersamaan dengan evolusi intelektual manusia. Bahasa yang menjadi kreol hingga pidgin kemudian menjamur begitu saja pada populasi 7 miliyar orang.
Pupil perempuan itu melebar, ia berhenti mengunyah sejak tusukan sate ke lima, di piringnya masih ada 5 tusuk sate, di detik itu ia ingin malam lebih panjang, lututnya tiba-tiba lelah, atau sate yang ada dihadapannya tidak bisa habis seperti anak panah dewa.
Perempuan itu bangun lebih awal, mandi lebih cepat, menyikat gigi lebih lama, menghidupkan tape recorder dengan lagu-lagu tAtu dan culture club berulang-ulang. Tiga kali ia mengganti tatanan rambutnya, dua kali ia berganti baju kemudian berlari tergesa hingga terseok hak tingginya sendiri. Di depan kedai kopi seseorang yang membuatnya terjun bebas semalam sedang berbincang-bincang dengan pemilik kedai, ia menghampirinya, pemilik kedai tersenyum dan memanggil namanya. Mereka berjalan melewati pertokoan yang mulai riuh, sepanjang jalan di tiap-tiap kedai, tiap toko memanggil nama perempuan itu menawarkan untuk singgah, sesekali ia melipir, untuk mencoba permen, mencoba es-krim di pagi yang menggigil, melihat bunga atau membeli camilan. Hidup perempuan itu terjungkir, rutinitasnya berubah, tidak. Lebih tepatnya kacau. Ia tak pernah menyadari, rutinitas yang berubah adalah cikal bakal bencana.
Musim akan berganti, perempuan itu tak pernah menghitung berapa lama sudah ia habiskan berjalan bersisian dengan pria yang tidak pernah absen menjejalinya dengan ratusan cerita, yang ia juga tak perduli apakah itu fiktif atau fakta, ia berhenti menghitung hari, ia berhenti berharap di mutasi dari kota itu, ia berhenti bertanya-tanya mengapa hidupnya begitu. Yang mulai ia hitung adalah waktu dan durasi. Berapa jam lebih sekian menit lagi ia harus mandi, menyikat gigi, menata rambut, mengenakan baju, memakai sepatu kemudian menjumpai pria yang mengawali harinya dengan meminum secangkir kopi panas dari kedai kopi yang pemiliknya belum pisa lepas dari patah hati. Perempuan itu tak lagi butuh alarm, jam wekernya pun ia sudah lupa berada dimana, pengingatnya adalah nalurinya sendiri, insting genetis mamalia pemburu. Hari itu rutinitas paginya sama, lagu Karma Chameleon masih berputar, ia sudah berlari sambil mengenakan sepatu barunya, ia terburu-buru. Tape recordernya lupa ia matikan. Ia tiba di kedai kopi tepat waktu, waktu yang tepat seperti biasanya ia menjumpai pria itu yang masih menyesap kopi sambil berbincang dengan pemilik kedai. Namun pria itu tidak disana, matanya menyapu ke sepanjang jalan, ia juga tidak ada di toko roti, ekor matanya menangkap bayangan pria itu di bahu jalan yang lain, berjalan sendirian. Ia melambaikan tangan, memanggil namanya dengan kencang, pria itu menoleh. Perempuan itu melempar senyum lebar. Namun pria itu abai, berpaling, ia tak pernah menoleh ke belakang.
Sepanjang jalan perempuan itu termenung, membisu, bertanya-tanya apa yang salah dengannya, semua ia lakukan sebagaimana ia lakukan setiap hari, ia bangun seperti biasa, mandi seperti biasa, menyikat gigi seperti biasa, bernyanyi seperti biasa. Kemudian ia ingat, tape recordernya masih menyala, apakah tape recorder mempengaruhi peristiwa hari itu, ah sepatunya juga baru, apakah sepatu baru membuat pria itu enggan berbicara dengannya ? puluhan pertanyaan menumpuk, berlapis-lapis memenuhi otaknya. Perempuan itu mulai menghitung hari, judulnya hari kebungkaman, berhari-hari pria itu memilih bahu jalan yang berbeda, tidak pernah menoleh lagi padanya, perempuan itu tetap di jalan yang sama, menatap dari kejauhan, sambil bertanya-tanya. Sejak itu Ia baru tersadar rutinitas yang berubah adalah cikal bencana.
Gelombang panas akan lewat, penduduk dihimbau untuk mempertahankan imunitas tubuh karna perbedaan tekanan udara, suhu dan cuaca bisa berdampak buruk bagi tubuh. Perempuan itu pulang lebih awal, ia tak mampir kemana-mana yang ia perlukan hanyalah berganti baju, tidur di ranjangnya yang hangat dan merenungi apa yang sebenarnya terjadi. Untuk pertama kalinya kota itu menjadi diam. Seluruh orang tak bersuara, jalanan kosong, jangkrik tidak berderik, tidak ada suara kepakan sayap burung atau suara tokek yang bersahutan bahkan angin tak lewat. Di sepinya kota, listrik padam.
Jalanan mulai riuh, aroma-aroma kopi yang disangrai, roti yang baru dioven, bunga --peony yang baru datang, warna-warni permen, teriakan penjual baju, penjual es krim, minuman ringan memenuhi jalan. Kemudian seorang pria lewat berkalung catatan kecil, ia menulis sesuatu di catatannya kemudian menghampiri setiap toko, semua dari mereka mengenalnya, mereka menatap heran, tidak ada yang bertanya ada apa, hingga pria itu menghilang di ujung gang. Pria hangat yang suka menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama mereka, bertukar cerita, mendengarkan keluh mereka, menjadi tuli. Kemudian datang seorang perempuan berbaju rapi mengenakan sepatu hak tinggi, membawa tongkat, perempuan itu menyapa mereka hangat namun tatapan matanya kosong. Perempuan yang mereka kenal menjadi ramah akhir-akhir itu menjadi buta. Langit telah runtuh di kota itu.
Orang bisa menghardik harimau yang datang dari depan, namun siapa yang mampu menghindari takdir yang datang dari belakang. Menahun perempuan itu melewati pertokoan yang ramai, orang-orang disana menyambutnya hangat terkadang ia mendengar orang-orang memberi tanda bahwa pria yang dulu selalu berjalan bersamanya ada bersama mereka, namun ia memilih diam, dan berlalu, mereka sama-sama tahu tak mungkin lagi bagi mereka saling tegur sapa, mereka tak tahu caranya. Perempuan itu berdiri di atas kebimbangan setiap hari pada akhirnya ia tahu, hidup adalah panggung yang mengerikan tidak ada pemeran pengganti air mata adalah air mata, darah adalah darah, sakit adalah sakit, semua dihadapi sendiri. Ia telah lama pasrah dengan hidupnya, namun ia tetap bersikukuh dengan pria yang selalu menyesap kopi di kedai pria tua patah hati setiap pagi, hidupnya tetap mengorbit pada keyakinan suatu hari bisa melihat kembali agar bisa berbincang dengan pria itu, dia akan belajar bahasa isyarat lebih tekun, lebih sering, lebih banyak daripada orang-orang di pertokoan. Namun jika tidak lagi bisa, cukup sekali seumur hidupnya, ia ingin sekali dari sekian juta peluang dan kesempatan bisa mengucapkan selamat berpisah dengan baik dan benar. Air matanya berderai, tidak ada yang menghapusnya, tidak pula tangannya, tapi suaranya tersembunyi, menyayat hatinya sendiri.
Perempuan itu berteduh di pos jaga, tetes gerimis menusuki kulitnya, ramalan cuaca telah salah, katanya mala mini langit cerah sehingga bisa melihat komet melintas. Ia mendengus kesal, ia tidak bisa pulang karena takut jalanan licin. Tiba-tiba hujan turun dengan deras, bulirnya seperti kerikil yang jatuh dari langit dan makin bertambah deras dibarengi dengan hawa dingin yang menusuk, teriakan orang-orang pertokoan menjadi samar, dibisukan hujan, angin lewat menghempas ranting-ranting pohon, suara dentuman berulang kali terdengar, suara ombak yang menabraki karang berpuluh-puluh mil pun hingga terdengar. Langit menjadi putih, cumulounimbus bergulung-gulung, petir berteriak bersahutan, hujan tak lagi jinak, ia seperti tirai yang membatasi jarak pandang tiap manusia. Di malam yang berisik dan mencekam orang-orang di pertokoan bungkam, hening. Perempuan buta itu makin takut, ia benci sendirian, tubuhnya menggigil, ia tidak bawa jaket, air matanya sudah ada diujung pertahanan bersiap untuk meluncur tak terkendali.
Dari kanan tubuh si Buta ia merasakan ada tangan yang menarik lengannya, ia terkesiap
“siapa ini?” tidak ada jawaban.
“siapa ?”. ia menjauh. Tangan itu makin keras menarik tubuhnya.
“siapa?” air matanya mulai leleh. Lalu ia merasakan hangat tubuh mendekati wajahnya, mengusap lelehan air mata di pipinya.
“Ini kamu ?”. tidak ada jawaban
“Kenapa?”. Tidak ada jawaban. Si Tuli menggamit tangannya, tidak berkata apa-apa, hanya terus menatapnya lurus-lurus. Kemudian ia merengkuhnya. Erat.
“Apa kabar?” tanya perempuan itu, tidak ada jawaban. Ia lupa orang tuli tentu tidak dapat bicara dan bahkan suaranya tidak akan terdengar karena gemuruh badai ini. Ia diam. Pria itu melepaskan rengkuhannya. Menarik tangan perempuan di hadapannya, menempelkan jari-jarinya di telapak tangan perempuan itu, pola demi pola.
Di tengah amukan badai di darat dan di laut, di derik angin, kabut tebal yang dibawa hujan serta petir yang berkompetisi siapa yang paling keras suara galaknya. Dua anak manusia yang kehilangan arah di persimpangan ciptaan mereka sendiri bertukar cerita. Kota yang ribut karna badai hingga tak ada satu orangpun yang berani bicara mereka bertukar cerita membentuk hangat di kurungan tembok jaga yang gigil.

Ada lebih dari 7000 bahasa di seluruh penjuru bumi.
Ada satu bahasa yang digunakan di satu benua. Ada 839 bahasa yang di gunakan di sebuah pulau.
Ada bahasa yang dituturkan hampir 7 miliar orang.
Ada bahasa yang hanya memiliki 36 penutur.
Orang memahami bahasa sebagai sekumpulan simbol, kode, bunyi, fonem yang memiliki makna, yang disepakati yang dipakai untuk berkomunikasi.
Untuk bertanya, untuk menjawab, untuk meminta, menyuruh, memerintah, menghasur, mengajak, bernegosiasi, bertengkar, berdamai. Segalanya.
Tapi dunia manusia bisa rancu, sudah pernah chaos dan bisa chaos lagi kapanpun karna bahasa. Ego manusia dan segala variabelnya tidak semua mampu dijembatani oleh bahasa. Manusia tersusun dari naluri yang kompleks, saling tumpang tindih dan paradoks, milyaran maksud, milyaran angan tak semua mampu ditanggung bahasa. Jadilah maksud-maksud tersebut dipaksa untuk diwakilkan oleh bahasa-bahasa yang sudah disepakati. Padahal semua juga tahu tak semua botol minum memiliki tutup yang sama.
Ranculah komunikasi manusia dengan itu.

Manusia makin sombong karena evolusi, dan semakin menjadi sombong dari hari ke hari karna sudah pergi ke bulan, sudah menempatkan teleskop super canggih di antariksa, sudah mengirim pesawat tanpa awak di interstellar yang siap menjelajahi jagat raya, sudah bertani di mars, sudah menciptakan bisa menciptakan penyakit endemik maupun penyakit global beserta antidotnya.
Manusia melompat sangat cepat dan terlalu jauh.
Meninggalkan bahasa pertama mereka.

Bahasa yang dapat menyampaikan milyaran variabel tujuan, maksud, keinginan bahkan tanpa perlu melibatkan langit-langit mulut, melibatkan laring, melibatkan lidah, melibatkan gigi atau bahkan membuka mulut.
Bahasa pertama tiap ciptaan yang lahir di dunia. Bahasa sentuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar