Mari
kita ucapkan selamat pada ekosistem yang gemar menseleberasikan berbagai hal
ini. Menandai angka-angka khusus di kalender yang akan menjadi hari dimana
tradisi dan budaya membakar dupa, meniup lilin, membersihkan rumah, menyalakan
pelita, melepas lentera, atau sebaliknya, hari dimana berdiam, mengharamkan
api, menolak nasi, meninggalkan listrik, menanggalkan peluk cium sementara dan
mengkuduskan sunyi. Hari ini adalah hari dimana sorai ditebar di udara, di
jalan kecil yang riuh, berderet deret pertokoan dan diselingi pohon-pohon
akasia ramai sahutan pemilik kedai kopi di ujung jalan yang memanggang biji
kopi arabika dengan tungku berusia sama ketika kopi mulai ditanam di
tanah-tanah tuan tanah. karbon dioksida pada biji kopi yang kecil dan utuh
beradu mesra dengan wangi roti yang baru keluar dari oven, wangi mentega dan
biang dari jeruk bali mengantarkan imaji renyah roti berbalut gurih mentega,
toko roti dan kedai kopi itu sudah semacam duet abadi turun temurun. Berurutan
dari duet aroma di ujung jalan toko bunga yang setiap hari didatangi lebah
hingga sang pemilik sudah akrab dengan sengatan, semacam suntik antibiotic
rutin, toko baju yang suara penjualnya lebih nyaring dari nada tinggi inka
Christy, toko permen yang tak pernah sepi dari anak-anak yang berlarian dan
saling menjerit berebut permen edisi khusus yang dibuat dengan tangan sendiri
oleh sang pemilik atau beradu permen siapa yang paling manis, toko sepatu
kulit, toko mainan, toko elektronik, kedai jamu tradisional di ujung jalan yang
lain dibangunlah pos untuk jaga malam, meski terbilang aman tradisi jaga malam
diadakan bukan hanya untuk menahan kantuk demi kententraman warga, namun untuk
bercengkerama season 2. Di jalan kecil yang riuh, dengan koalisi lusinan aroma
dan duet maut suara orang-orang diantaranya, alam bahu-membahu mencipta
rutinitas kecil disela hiruk-pikuk yang ada.
Perempuan
itu bukan berasal dari pemukiman setempat, rumahnya jauh, andai ia bisa punya
kapabilitas teleportasi dia akan sangat bersyukur karena tinggal di keramaian
seperti itu membuatnya sakit kepala, dia tak pernah ingin ada disana, tak
pernah sama sekali, nasib sial membawanya berjibaku dengan aroma kopi, wangi
roti, harum bunga dan teriaka-teriakan sepanjang jalan, jika petang sekumpulan
bapak-bapak menggelar temu kangen di pos keamanan setiap hari, dunianya tak
pernah tenang, memakai penutup telinga setiap hari tidak bagus dipandang,
lagian bakteri akan berpesta di telinganya. Perempuan itu tak punya pilihan
karena dia harus bekerja disana. Mengumpat sepanjang jalan baginya sudah
seperti merapal mantra, menghitung hari dimana ia akan meninggalkan tempat itu
tak pernah absen ia lakukan.
Di
hari yang dingin bertepatan dengan ulang tahun kota, mimpi buruk ganda dialami
oleh perempuan itu. Dihadapannya duduk seorang pria yang sejak tadi belum
berhenti bicara, dua jam berharganya terbuang di kedai kopi untuk mendengarkan
pria tanggung dan pemilik kedai berkelakar kesana kemari, kopi di cangkirnya
dingin, belum ia sentuh sejak sesapan pertama, ia tak paham bagaimana cara
seorang manusia bisa berbicara tanpa kehabisan topik, otaknya tentu benar-benar
cepat memproses informasi. Perempuan itu melihat draft yang ada di tangannya,
ia mendengus kesal, ini masih toko pertama, masih ada 12 toko lagi di sepanjang
jalan itu, ia tak menyangka memberikan kartu ucapan selamat bisa memakan waktu
seharian penuh. Langit menggelap dan draft itu baru saja habis dibagikan, ia
menatap pria itu dengan kesal, baginya berkumpul dengan orang asing adalah awal
dari penyakit, penyakit mental. Dan ia tak suka mentalnya terganggu. Kemudian
mereka beristirahat di pos jaga, saling memberi jarak. Perempuan itu menghela
nafas panjang, lututnya sudah tak lelah ia berniat pulang.
“Tukang
sate ter-enak sedunia sebentar lagi lewat, kau tak akan menyesal”. Ujar pria
itu yang membuat lawan bicaranya mengurungkan niat karena ia kelaparan.
“Kenapa
kamu suka sekali bicara?”
“Kenapa
kamu hobi sekali diam, ku kira kamu bisu”
“Aku
bicara hanya untuk hal-hal yang penting”
“Kalau
begitu, aku tak pernah diam karena segala hal di sekelilingku penting”. Obrolan
mereka terhenti dengan datangnya gerobak sate yang di dorong oleh seorang pria
paruh baya. Percikan bara dan tebalnya kepulan asap membuat mereka kembali
saling terdiam, tidak ada yang berselera bicara hingga dua porsi sate
diantarkan pada mereka. Pria itu menarik napas panjang dan mulai bercerita
tentang orang-orang yang ada di lingkungan itu, tentang pemilik kedai yang
setiap hari ulang tahun istrinya akan membuat es kopi kesukaan mendiang
istrinya yang meninggal karena kanker, penjual roti yang memakai biang roti
berumur lebih tua dari umurnya sendiri, suami-istri pemilik toko pakaian yang
seorang vegan, pemilik toko permen yang merangkap menjadi rabbi yahudi, toko
sepatu yang dulu pernah terbakar hingga kaidah bahasa, bahasa yang menurutnya
ada secara alamiah dan genetis, ada sejak manusia menjadi fetus kemudian dibawa
setiap individu yang lahir kedunia. Kemudian hingga perjalanan bahasa yang
berasal dari tiruan suara hujan, derik pohon, guntur, deras aliran sungai, riak
kolam, ributnya angina hingga marahnya badai ber-evolusi bersamaan dengan
evolusi intelektual manusia. Bahasa yang menjadi kreol hingga pidgin kemudian
menjamur begitu saja pada populasi 7 miliyar orang.
Pupil
perempuan itu melebar, ia berhenti mengunyah sejak tusukan sate ke lima, di
piringnya masih ada 5 tusuk sate, di detik itu ia ingin malam lebih panjang,
lututnya tiba-tiba lelah, atau sate yang ada dihadapannya tidak bisa habis
seperti anak panah dewa.
Perempuan
itu bangun lebih awal, mandi lebih cepat, menyikat gigi lebih lama,
menghidupkan tape recorder dengan lagu-lagu tAtu dan culture club
berulang-ulang. Tiga kali ia mengganti tatanan rambutnya, dua kali ia berganti
baju kemudian berlari tergesa hingga terseok hak tingginya sendiri. Di depan
kedai kopi seseorang yang membuatnya terjun bebas semalam sedang
berbincang-bincang dengan pemilik kedai, ia menghampirinya, pemilik kedai
tersenyum dan memanggil namanya. Mereka berjalan melewati pertokoan yang mulai
riuh, sepanjang jalan di tiap-tiap kedai, tiap toko memanggil nama perempuan
itu menawarkan untuk singgah, sesekali ia melipir, untuk mencoba permen,
mencoba es-krim di pagi yang menggigil, melihat bunga atau membeli camilan.
Hidup perempuan itu terjungkir, rutinitasnya berubah, tidak. Lebih tepatnya
kacau. Ia tak pernah menyadari, rutinitas yang berubah adalah cikal bakal
bencana.
Musim
akan berganti, perempuan itu tak pernah menghitung berapa lama sudah ia
habiskan berjalan bersisian dengan pria yang tidak pernah absen menjejalinya
dengan ratusan cerita, yang ia juga tak perduli apakah itu fiktif atau fakta, ia
berhenti menghitung hari, ia berhenti berharap di mutasi dari kota itu, ia
berhenti bertanya-tanya mengapa hidupnya begitu. Yang mulai ia hitung adalah
waktu dan durasi. Berapa jam lebih sekian menit lagi ia harus mandi, menyikat
gigi, menata rambut, mengenakan baju, memakai sepatu kemudian menjumpai pria
yang mengawali harinya dengan meminum secangkir kopi panas dari kedai kopi yang
pemiliknya belum pisa lepas dari patah hati. Perempuan itu tak lagi butuh
alarm, jam wekernya pun ia sudah lupa berada dimana, pengingatnya adalah
nalurinya sendiri, insting genetis mamalia pemburu. Hari itu rutinitas paginya
sama, lagu Karma Chameleon masih berputar, ia sudah berlari sambil mengenakan
sepatu barunya, ia terburu-buru. Tape recordernya lupa ia matikan. Ia tiba di
kedai kopi tepat waktu, waktu yang tepat seperti biasanya ia menjumpai pria itu
yang masih menyesap kopi sambil berbincang dengan pemilik kedai. Namun pria itu
tidak disana, matanya menyapu ke sepanjang jalan, ia juga tidak ada di toko
roti, ekor matanya menangkap bayangan pria itu di bahu jalan yang lain,
berjalan sendirian. Ia melambaikan tangan, memanggil namanya dengan kencang,
pria itu menoleh. Perempuan itu melempar senyum lebar. Namun pria itu abai,
berpaling, ia tak pernah menoleh ke belakang.
Sepanjang
jalan perempuan itu termenung, membisu, bertanya-tanya apa yang salah
dengannya, semua ia lakukan sebagaimana ia lakukan setiap hari, ia bangun
seperti biasa, mandi seperti biasa, menyikat gigi seperti biasa, bernyanyi
seperti biasa. Kemudian ia ingat, tape recordernya masih menyala, apakah tape
recorder mempengaruhi peristiwa hari itu, ah sepatunya juga baru, apakah sepatu
baru membuat pria itu enggan berbicara dengannya ? puluhan pertanyaan menumpuk,
berlapis-lapis memenuhi otaknya. Perempuan itu mulai menghitung hari, judulnya
hari kebungkaman, berhari-hari pria itu memilih bahu jalan yang berbeda, tidak
pernah menoleh lagi padanya, perempuan itu tetap di jalan yang sama, menatap
dari kejauhan, sambil bertanya-tanya. Sejak itu Ia baru tersadar rutinitas yang
berubah adalah cikal bencana.
Gelombang
panas akan lewat, penduduk dihimbau untuk mempertahankan imunitas tubuh karna
perbedaan tekanan udara, suhu dan cuaca bisa berdampak buruk bagi tubuh.
Perempuan itu pulang lebih awal, ia tak mampir kemana-mana yang ia perlukan
hanyalah berganti baju, tidur di ranjangnya yang hangat dan merenungi apa yang
sebenarnya terjadi. Untuk pertama kalinya kota itu menjadi diam. Seluruh orang
tak bersuara, jalanan kosong, jangkrik tidak berderik, tidak ada suara kepakan
sayap burung atau suara tokek yang bersahutan bahkan angin tak lewat. Di
sepinya kota, listrik padam.
Jalanan
mulai riuh, aroma-aroma kopi yang disangrai, roti yang baru dioven, bunga
--peony yang baru datang, warna-warni permen, teriakan penjual baju, penjual es
krim, minuman ringan memenuhi jalan. Kemudian seorang pria lewat berkalung
catatan kecil, ia menulis sesuatu di catatannya kemudian menghampiri setiap
toko, semua dari mereka mengenalnya, mereka menatap heran, tidak ada yang
bertanya ada apa, hingga pria itu menghilang di ujung gang. Pria hangat yang
suka menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama mereka, bertukar cerita,
mendengarkan keluh mereka, menjadi tuli. Kemudian datang seorang perempuan
berbaju rapi mengenakan sepatu hak tinggi, membawa tongkat, perempuan itu
menyapa mereka hangat namun tatapan matanya kosong. Perempuan yang mereka kenal
menjadi ramah akhir-akhir itu menjadi buta. Langit telah runtuh di kota itu.
Orang
bisa menghardik harimau yang datang dari depan, namun siapa yang mampu
menghindari takdir yang datang dari belakang. Menahun perempuan itu melewati
pertokoan yang ramai, orang-orang disana menyambutnya hangat terkadang ia
mendengar orang-orang memberi tanda bahwa pria yang dulu selalu berjalan
bersamanya ada bersama mereka, namun ia memilih diam, dan berlalu, mereka
sama-sama tahu tak mungkin lagi bagi mereka saling tegur sapa, mereka tak tahu
caranya. Perempuan itu berdiri di atas kebimbangan setiap hari pada akhirnya ia
tahu, hidup adalah panggung yang mengerikan tidak ada pemeran pengganti air
mata adalah air mata, darah adalah darah, sakit adalah sakit, semua dihadapi
sendiri. Ia telah lama pasrah dengan hidupnya, namun ia tetap bersikukuh dengan
pria yang selalu menyesap kopi di kedai pria tua patah hati setiap pagi,
hidupnya tetap mengorbit pada keyakinan suatu hari bisa melihat kembali agar
bisa berbincang dengan pria itu, dia akan belajar bahasa isyarat lebih tekun,
lebih sering, lebih banyak daripada orang-orang di pertokoan. Namun jika tidak
lagi bisa, cukup sekali seumur hidupnya, ia ingin sekali dari sekian juta
peluang dan kesempatan bisa mengucapkan selamat berpisah dengan baik dan benar.
Air matanya berderai, tidak ada yang menghapusnya, tidak pula tangannya, tapi
suaranya tersembunyi, menyayat hatinya sendiri.
Perempuan
itu berteduh di pos jaga, tetes gerimis menusuki kulitnya, ramalan cuaca telah
salah, katanya mala mini langit cerah sehingga bisa melihat komet melintas. Ia
mendengus kesal, ia tidak bisa pulang karena takut jalanan licin. Tiba-tiba
hujan turun dengan deras, bulirnya seperti kerikil yang jatuh dari langit dan
makin bertambah deras dibarengi dengan hawa dingin yang menusuk, teriakan orang-orang
pertokoan menjadi samar, dibisukan hujan, angin lewat menghempas
ranting-ranting pohon, suara dentuman berulang kali terdengar, suara ombak yang
menabraki karang berpuluh-puluh mil pun hingga terdengar. Langit menjadi putih,
cumulounimbus bergulung-gulung, petir berteriak bersahutan, hujan tak lagi
jinak, ia seperti tirai yang membatasi jarak pandang tiap manusia. Di malam
yang berisik dan mencekam orang-orang di pertokoan bungkam, hening. Perempuan
buta itu makin takut, ia benci sendirian, tubuhnya menggigil, ia tidak bawa
jaket, air matanya sudah ada diujung pertahanan bersiap untuk meluncur tak
terkendali.
Dari
kanan tubuh si Buta ia merasakan ada tangan yang menarik lengannya, ia
terkesiap
“siapa
ini?” tidak ada jawaban.
“siapa
?”. ia menjauh. Tangan itu makin keras menarik tubuhnya.
“siapa?”
air matanya mulai leleh. Lalu ia merasakan hangat tubuh mendekati wajahnya,
mengusap lelehan air mata di pipinya.
“Ini
kamu ?”. tidak ada jawaban
“Kenapa?”.
Tidak ada jawaban. Si Tuli menggamit tangannya, tidak berkata apa-apa, hanya
terus menatapnya lurus-lurus. Kemudian ia merengkuhnya. Erat.
“Apa
kabar?” tanya perempuan itu, tidak ada jawaban. Ia lupa orang tuli tentu tidak
dapat bicara dan bahkan suaranya tidak akan terdengar karena gemuruh badai ini.
Ia diam. Pria itu melepaskan rengkuhannya. Menarik tangan perempuan di
hadapannya, menempelkan jari-jarinya di telapak tangan perempuan itu, pola demi
pola.
Di
tengah amukan badai di darat dan di laut, di derik angin, kabut tebal yang
dibawa hujan serta petir yang berkompetisi siapa yang paling keras suara
galaknya. Dua anak manusia yang kehilangan arah di persimpangan ciptaan mereka
sendiri bertukar cerita. Kota yang ribut karna badai hingga tak ada satu
orangpun yang berani bicara mereka bertukar cerita membentuk hangat di kurungan
tembok jaga yang gigil.
Ada lebih dari 7000 bahasa di seluruh penjuru bumi.
Ada satu bahasa yang digunakan di satu benua. Ada 839 bahasa yang di gunakan di sebuah pulau.
Ada bahasa yang dituturkan hampir 7 miliar orang.
Ada bahasa yang hanya memiliki 36 penutur.
Orang memahami bahasa sebagai sekumpulan simbol, kode, bunyi, fonem yang memiliki makna, yang disepakati yang dipakai untuk berkomunikasi.
Untuk bertanya, untuk menjawab, untuk meminta, menyuruh, memerintah, menghasur, mengajak, bernegosiasi, bertengkar, berdamai. Segalanya.
Tapi dunia manusia bisa rancu, sudah pernah chaos dan bisa chaos lagi kapanpun karna bahasa. Ego manusia dan segala variabelnya tidak semua mampu dijembatani oleh bahasa. Manusia tersusun dari naluri yang kompleks, saling tumpang tindih dan paradoks, milyaran maksud, milyaran angan tak semua mampu ditanggung bahasa. Jadilah maksud-maksud tersebut dipaksa untuk diwakilkan oleh bahasa-bahasa yang sudah disepakati. Padahal semua juga tahu tak semua botol minum memiliki tutup yang sama.
Ranculah komunikasi manusia dengan itu.
Manusia makin sombong karena evolusi, dan semakin menjadi sombong dari hari ke hari karna sudah pergi ke bulan, sudah menempatkan teleskop super canggih di antariksa, sudah mengirim pesawat tanpa awak di interstellar yang siap menjelajahi jagat raya, sudah bertani di mars, sudah menciptakan bisa menciptakan penyakit endemik maupun penyakit global beserta antidotnya.
Manusia melompat sangat cepat dan terlalu jauh.
Meninggalkan bahasa pertama mereka.
Bahasa yang dapat menyampaikan milyaran variabel tujuan, maksud, keinginan bahkan tanpa perlu melibatkan langit-langit mulut, melibatkan laring, melibatkan lidah, melibatkan gigi atau bahkan membuka mulut.
Bahasa pertama tiap ciptaan yang lahir di dunia. Bahasa sentuhan.
Ada satu bahasa yang digunakan di satu benua. Ada 839 bahasa yang di gunakan di sebuah pulau.
Ada bahasa yang dituturkan hampir 7 miliar orang.
Ada bahasa yang hanya memiliki 36 penutur.
Orang memahami bahasa sebagai sekumpulan simbol, kode, bunyi, fonem yang memiliki makna, yang disepakati yang dipakai untuk berkomunikasi.
Untuk bertanya, untuk menjawab, untuk meminta, menyuruh, memerintah, menghasur, mengajak, bernegosiasi, bertengkar, berdamai. Segalanya.
Tapi dunia manusia bisa rancu, sudah pernah chaos dan bisa chaos lagi kapanpun karna bahasa. Ego manusia dan segala variabelnya tidak semua mampu dijembatani oleh bahasa. Manusia tersusun dari naluri yang kompleks, saling tumpang tindih dan paradoks, milyaran maksud, milyaran angan tak semua mampu ditanggung bahasa. Jadilah maksud-maksud tersebut dipaksa untuk diwakilkan oleh bahasa-bahasa yang sudah disepakati. Padahal semua juga tahu tak semua botol minum memiliki tutup yang sama.
Ranculah komunikasi manusia dengan itu.
Manusia makin sombong karena evolusi, dan semakin menjadi sombong dari hari ke hari karna sudah pergi ke bulan, sudah menempatkan teleskop super canggih di antariksa, sudah mengirim pesawat tanpa awak di interstellar yang siap menjelajahi jagat raya, sudah bertani di mars, sudah menciptakan bisa menciptakan penyakit endemik maupun penyakit global beserta antidotnya.
Manusia melompat sangat cepat dan terlalu jauh.
Meninggalkan bahasa pertama mereka.
Bahasa yang dapat menyampaikan milyaran variabel tujuan, maksud, keinginan bahkan tanpa perlu melibatkan langit-langit mulut, melibatkan laring, melibatkan lidah, melibatkan gigi atau bahkan membuka mulut.
Bahasa pertama tiap ciptaan yang lahir di dunia. Bahasa sentuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar